Mengapa Dulu Pria Memakai Sepatu Hak Tinggi, tetapi Sekarang Identik dengan Perempuan?

Stories | Sabtu, 12 September 2026 14:00

Reporter : Abidah

Mmengapa pria berhenti memakai hak tinggi Bukan karena sepatu hak tinggi tiba-tiba menjadi buruk bagi pria. Perubahan tersebut merupakan hasil dari transformasi besar dalam masyarakat Eropa.

DREAM.CO.ID - Bayangkan seorang bangsawan Eropa pada abad ke-17 berjalan memasuki istana dengan sepatu bertumit tinggi, pakaian penuh warna, stoking yang menonjolkan bentuk kaki, serta hak sepatu berwarna merah mencolok. Penampilan seperti itu mungkin sekarang lebih mudah diasosiasikan dengan busana perempuan. Namun, beberapa abad lalu, sepatu hak tinggi justru merupakan bagian penting dari busana pria elite.

Bahkan, sejarah sepatu hak tinggi bermula dari kebutuhan pria, bukan semata-mata untuk mempercantik penampilan. Prajurit berkuda Persia menggunakan sepatu dengan bagian tumit yang menonjol untuk membantu menjaga kaki tetap berada di sanggurdi ketika menunggang kuda. Ketika berdiri di atas sanggurdi untuk memanah, tumit tersebut membantu menjaga posisi kaki dan tubuh tetap stabil. Dari perlengkapan militer, sepatu bertumit kemudian masuk ke lingkungan bangsawan Eropa dan berubah menjadi simbol kekuasaan serta status sosial.

Lalu, bagaimana sepatu yang dahulu identik dengan maskulinitas dan kekuasaan itu akhirnya berubah menjadi salah satu simbol fesyen perempuan?

Berawal dari Kebutuhan Prajurit Berkuda

Jejak awal sepatu hak tinggi dapat ditelusuri ke Persia, tempat prajurit berkuda menggunakan hak pada sepatu untuk mengunci kaki pada sanggurdi. Bagi pemanah berkuda, kemampuan berdiri dengan stabil di atas kuda sangat penting karena kedua tangan harus digunakan untuk mengendalikan senjata. Hak sepatu membantu kaki tidak mudah terlepas dari sanggurdi ketika penunggang mengubah posisi.

Fungsi praktis tersebut kemudian berubah ketika sepatu bertumit menyebar ke Eropa. Pada akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17, hubungan diplomatik antara Persia dan kerajaan-kerajaan Eropa turut membawa pengaruh mode Persia ke lingkungan aristokrat. Para bangsawan Eropa kemudian mengadopsi sepatu bertumit bukan karena mereka harus memanah dari atas kuda, tetapi karena sepatu tersebut membawa asosiasi dengan kekuatan militer, keberanian dan status elite.

Dengan demikian, sepatu hak tinggi mengalami perubahan fungsi yang menarik. Sesuatu yang awalnya dirancang untuk membantu aktivitas tertentu perlahan menjadi simbol sosial. Semakin tidak praktis sepatu tersebut untuk pekerjaan sehari-hari, semakin kuat pula kesan bahwa pemakainya berasal dari kelas yang tidak perlu melakukan pekerjaan fisik.

2 dari 5 halaman

Louis XIV dan Hak Sepatu Merah

Tidak ada tokoh yang lebih terkenal dalam sejarah hubungan antara sepatu hak tinggi dan kekuasaan dibandingkan Raja Louis XIV dari Prancis. Raja yang memerintah pada abad ke-17 tersebut dikenal gemar mengenakan sepatu dengan hak yang cukup tinggi. ScienceABC menyebut tinggi badan Louis XIV sekitar 163 sentimeter dan mencatat bahwa ia menggunakan hak sepatu untuk menambah kesan tinggi sekaligus memperkuat citra kekuasaannya.

Yang lebih menarik adalah warna haknya. Louis XIV menggunakan hak sepatu berwarna merah yang dihiasi ornamen mewah. Warna merah kemudian dikaitkan dengan lingkungan istana dan status politik. Di lingkungan kerajaan Prancis, penggunaan hak merah menjadi bentuk penanda bahwa seseorang memiliki kedekatan atau hak istimewa tertentu di lingkungan istana.

Pada titik ini, sepatu hak tinggi bukan lagi sekadar alas kaki. Sepatu menjadi semacam bahasa visual. Orang dapat melihat pakaian, warna, bahan dan bentuk sepatu untuk memperkirakan posisi sosial seseorang.

Ini juga menjelaskan mengapa barang yang tidak praktis justru bisa menjadi simbol kemewahan. Seorang petani yang harus berjalan jauh atau bekerja di ladang membutuhkan sepatu yang kokoh dan nyaman. Sepatu dengan hak tinggi dan dekorasi rumit justru menghambat pekerjaan semacam itu. Ketidakpraktisannya menjadi bukti bahwa pemakainya tidak perlu bekerja secara fisik.

 

3 dari 5 halaman

Perempuan Kemudian Ikut Memakai Hak Tinggi

Pada masa yang sama, perempuan mulai mengadopsi sepatu bertumit. ScienceABC mencatat Catherine de' Medici sebagai salah satu perempuan yang terkenal menggunakan hak tinggi pada abad ke-16. Ia disebut ingin terlihat lebih tinggi dalam pernikahannya dengan Henry II dari Prancis pada 1533.

Sepatu perempuan pada masa itu bahkan dapat memiliki bentuk yang sangat ekstrem. Chopines, misalnya, merupakan jenis alas kaki berplatform yang populer di sejumlah wilayah Eropa dan dapat mencapai ketinggian puluhan sentimeter. Bentuk yang sangat tinggi membuat penggunanya sulit berjalan dan membutuhkan bantuan agar tidak kehilangan keseimbangan.

Namun, seiring waktu, bentuk sepatu pria dan perempuan mulai berkembang ke arah yang berbeda. Hak pria cenderung lebih tebal dan berkaitan dengan sepatu berkuda atau busana formal, sementara hak perempuan semakin diasosiasikan dengan bentuk tubuh, keanggunan dan daya tarik seksual. Perbedaan tersebut pada akhirnya menjadi semakin kuat.

 

4 dari 5 halaman

Revolusi Besar Terjadi pada Abad Ke-18

Perubahan terbesar terjadi pada abad ke-18, ketika Eropa memasuki era Pencerahan. Gagasan tentang rasionalitas, kesederhanaan dan kehidupan yang lebih praktis mulai memengaruhi berbagai aspek masyarakat, termasuk cara berpakaian.

Mode pria perlahan meninggalkan pakaian yang terlalu mencolok. Perhiasan, warna-warna terang, ornamen berlebihan dan sepatu hak tinggi mulai kehilangan tempat. Sebaliknya, pakaian pria menjadi lebih sederhana dan praktis, terutama ketika identitas pria semakin dikaitkan dengan pekerjaan, profesi dan aktivitas publik.

Perubahan tersebut kemudian dikenal sebagai Great Male Renunciation. Istilah ini diperkenalkan oleh psikolog John Carl Flügel pada 1930 untuk menggambarkan perubahan besar ketika pria Barat meninggalkan gaya berpakaian yang sebelumnya sangat dekoratif dan memilih busana yang lebih sederhana.

Sekitar 1740, pria di Eropa pada umumnya telah meninggalkan sepatu hak tinggi sebagai bagian dari fesyen utama mereka. Hak tinggi kemudian semakin kuat dikaitkan dengan perempuan.

Yang menarik, perubahan ini bukan terjadi karena tubuh pria tiba-tiba tidak cocok memakai hak tinggi. Tidak ada perubahan biologis yang membuat sepatu tersebut mendadak menjadi "sepatu perempuan". Yang berubah adalah makna sosialnya.

 

5 dari 5 halaman

Ketika Pakaian Ikut Membentuk Gender

Sejarah sepatu hak tinggi menunjukkan bahwa hubungan antara pakaian dan gender sebenarnya sangat dinamis. Apa yang dianggap maskulin atau feminin tidak selalu memiliki aturan yang sama sepanjang sejarah.

Pada abad ke-17, pria memakai sepatu hak tinggi untuk menunjukkan kekuasaan, kekayaan dan keberanian. Beberapa ratus tahun kemudian, sepatu yang sama justru menjadi salah satu simbol feminitas. Perubahan tersebut terjadi karena masyarakat memberikan makna baru terhadap benda yang sama.

Hal serupa sebenarnya dapat ditemukan pada banyak jenis pakaian. Warna, potongan rambut, aksesori dan jenis kain pernah mengalami perpindahan makna gender dari satu periode ke periode lain. Karena itu, anggapan bahwa suatu benda "secara alami" merupakan pakaian pria atau perempuan sering kali lebih merupakan hasil sejarah dan kebiasaan sosial daripada aturan yang tidak berubah.

Jadi, mengapa pria berhenti memakai hak tinggi?

Jawabannya bukan karena sepatu hak tinggi tiba-tiba menjadi buruk bagi pria. Perubahan tersebut merupakan hasil dari transformasi besar dalam masyarakat Eropa.

Sepatu hak tinggi kehilangan fungsi utamanya bagi pria ketika penggunaannya tidak lagi diperlukan untuk berkuda. Pada saat yang sama, fesyen pria bergerak menuju kesederhanaan dan kepraktisan. Status sosial kemudian semakin ditunjukkan melalui pakaian yang lebih formal tetapi tidak terlalu dekoratif. Sementara itu, hak tinggi terus berkembang dalam fesyen perempuan dan memperoleh makna baru yang berkaitan dengan keanggunan serta feminitas.

Namun, sejarah tersebut tidak berarti pria benar-benar berhenti memakai sepatu bertumit untuk selamanya. Dalam fesyen modern, sepatu bot dengan hak atau Cuban heels kembali muncul dalam berbagai subkultur dan gaya busana pria. Sejumlah musisi dan perancang busana juga pernah menggunakan hak tinggi sebagai bagian dari estetika yang menantang batas tradisional antara pakaian pria dan perempuan.

Jadi, jika hari ini sepatu hak tinggi terlihat sangat identik dengan perempuan, sejarah justru menunjukkan hal yang berbeda. Sepatu hak tinggi pernah menjadi simbol maskulinitas, kekuatan militer dan kekuasaan politik. Perubahannya dari perlengkapan prajurit Persia menjadi aksesori bangsawan Eropa, lalu menjadi simbol feminitas modern, memperlihatkan bahwa standar "pakaian pria" dan "pakaian perempuan" tidak pernah benar-benar tetap.

Apa yang kita anggap sebagai fesyen maskulin atau feminin hari ini pada dasarnya merupakan hasil dari perjalanan sejarah yang panjang. Dan dalam kasus sepatu hak tinggi, perjalanan tersebut bahkan dimulai dari kaki para pria yang sedang menunggang kuda.

{NATIVE VIDEO TOP}
Join Dream.co.id