Mengapa Kaki Kecil Pernah Dianggap Cantik di China? Sejarah Tradisi Ikat Kaki yang Menyakitkan
© I Daniel Schwen CC BY-SA 3.0 Via Wikimedia Commons
Reporter : Abidah
Selama berabad-abad, kaki kecil dianggap sebagai simbol kecantikan, kelembutan, keanggunan, bahkan status sosial.
DREAM.CO.ID - Sepasang sepatu kecil yang hanya berukuran beberapa cm mungkin terlihat seperti benda biasa. Namun, dalam sejarah China, sepatu berukuran mungil tersebut menjadi bagian dari tradisi yang mengubah bentuk kaki perempuan secara permanen. Sepatu yang dikenal sebagai lotus shoes itu dibuat untuk perempuan yang menjalani praktik foot binding atau ikat kaki.
Selama berabad-abad, kaki kecil dianggap sebagai simbol kecantikan, kelembutan, keanggunan, bahkan status sosial. Dalam masyarakat tertentu, ukuran kaki juga dapat memengaruhi peluang seorang perempuan untuk mendapatkan pasangan dari keluarga dengan status lebih tinggi. Praktik tersebut akhirnya menjadi salah satu contoh bagaimana standar kecantikan dapat terbentuk dan dipertahankan oleh tekanan sosial.
Bagaimana Tradisi Ikat Kaki Dimulai?
Asal-usul foot binding masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan. Praktik ini diperkirakan mulai berkembang pada akhir Dinasti Tang atau awal Dinasti Song, sekitar abad ke-10. Salah satu cerita yang sering dikaitkan dengan kemunculannya adalah kisah seorang penari di lingkungan istana yang mengikat kakinya agar terlihat lebih kecil dan menyerupai bentuk bunga teratai.
Dari lingkungan elite, praktik tersebut kemudian menyebar ke kelompok masyarakat lain. Seiring waktu, kaki yang sangat kecil bahkan mendapatkan sebutan three-inch golden lotus atau "teratai emas tiga inci". Ukuran kaki tersebut kemudian dipandang sebagai bentuk ideal kecantikan perempuan dalam sebagian masyarakat China.
Namun, praktik ini tidak berlangsung dengan pola yang sama di semua tempat. Penelitian terhadap sisa-sisa kerangka menunjukkan tingkat dan bentuk pengikatan kaki berbeda menurut periode, wilayah, serta kelompok sosial. Bahkan, tidak semua perempuan dari kalangan elite menjalani pengikatan dengan tingkat keparahan yang sama.
Kaki Dibentuk Sejak Anak-Anak
Proses pengikatan biasanya dimulai ketika anak perempuan masih kecil, saat tulang kaki masih berkembang dan relatif mudah dibentuk. Jari-jari kaki, kecuali ibu jari, ditekuk ke bawah menuju telapak. Bagian kaki kemudian dibalut kain panjang dengan tekanan yang terus dipertahankan dan disesuaikan selama bertahun-tahun.
Tujuannya bukan sekadar membuat kaki terlihat kecil, tetapi mengubah bentuknya secara permanen. Lengkung telapak dibuat semakin tinggi, sementara bagian depan kaki dipaksa mendekati tumit. Dalam praktik yang berat, perubahan tersebut menyebabkan tulang dan jaringan kaki mengalami deformasi.
Temuan arkeologis menunjukkan dampaknya secara nyata. Penelitian terhadap tulang kaki perempuan yang mengalami foot binding menemukan ukuran dan struktur sejumlah tulang kaki berubah secara signifikan. Pada kasus yang parah, perubahan tersebut bahkan memengaruhi cara tubuh menopang berat badan ketika berjalan.
Mengapa Kaki Kecil Dianggap Indah?
Pertanyaan yang sulit dipahami dari sudut pandang modern adalah mengapa masyarakat mempertahankan praktik yang begitu menyakitkan. Jawabannya berkaitan dengan lebih dari sekadar selera terhadap bentuk tubuh.
Kaki kecil dapat menjadi penanda kelas sosial dan feminitas. Perempuan dengan kaki terikat dianggap lebih anggun dan tidak banyak melakukan pekerjaan fisik. Dalam masyarakat yang menempatkan perempuan terutama di lingkungan domestik, keterbatasan gerak tersebut justru dapat dianggap sebagai bagian dari citra perempuan ideal.
Pengikatan kaki juga berkaitan dengan perkawinan. Bagi sebagian keluarga, memastikan anak perempuan memiliki kaki kecil dianggap sebagai investasi sosial yang dapat meningkatkan peluangnya mendapatkan pasangan dari keluarga dengan status lebih tinggi.
Dengan demikian, standar kecantikan tidak terbentuk dalam ruang kosong. Ketika suatu bentuk tubuh dikaitkan dengan status, kehormatan keluarga, dan kesempatan menikah, tekanan untuk mengikutinya dapat menjadi sangat kuat.
Dampaknya Bertahan Seumur Hidup
Perubahan bentuk kaki akibat foot binding tidak berhenti ketika proses pengikatan selesai. Perempuan yang mengalaminya dapat menghadapi keterbatasan berjalan dan berkurangnya aktivitas fisik sepanjang hidup.
Sebuah penelitian terhadap 254 perempuan pascamenopause di China, yang terdiri atas 172 perempuan dengan kaki terikat dan 82 perempuan sebagai kelompok pembanding, menemukan bahwa perempuan dengan riwayat foot binding memiliki indikator kesehatan tulang yang lebih rendah. Peneliti mengaitkan kondisi tersebut antara lain dengan berkurangnya aktivitas fisik.
Penelitian lain terhadap perempuan lanjut usia di Beijing menemukan bahwa mereka yang memiliki deformitas akibat foot binding lebih sering mengalami kesulitan dalam beberapa aktivitas fisik, termasuk berdiri dari kursi dan berjongkok. Mereka juga memiliki jangkauan fungsional yang lebih rendah dan kepadatan tulang pinggul yang lebih rendah dibandingkan perempuan dengan kaki normal.
Mengapa Akhirnya Ditinggalkan?
Memasuki abad ke-19 dan awal abad ke-20, foot binding semakin mendapat kritik. Gerakan modernisasi dan perubahan pandangan mengenai pendidikan serta peran perempuan ikut mendorong penolakan terhadap tradisi tersebut.
Pemerintah Republik China kemudian melarang praktik pengikatan kaki pada 1912. Meski demikian, larangan tidak serta-merta membuat tradisi itu menghilang. Di sejumlah daerah, praktik tersebut masih bertahan selama beberapa waktu.
Sejarah foot binding akhirnya memperlihatkan bahwa standar kecantikan dapat berubah mengikuti kondisi sosial. Kaki kecil yang dahulu dipuja sebagai "teratai emas" kini justru menjadi pengingat bahwa sebuah standar kecantikan dapat membuat seseorang rela menjalani perubahan tubuh yang menyakitkan ketika standar tersebut telah dianggap sebagai syarat untuk mendapatkan penerimaan sosial, status, atau masa depan yang lebih baik.