Nenek 103 Tahun Ini Orang Terakhir yang Lestarikan Tato Kuno

Reporter : Arini Saadah
Rabu, 8 Juli 2020 16:41
Nenek 103 Tahun Ini Orang Terakhir yang Lestarikan Tato Kuno
Meski sudah sangat tua, namun tubuhnya masih sehat.

Dream - Nenek berusia 103 tahun ini adalah orang Filipina terakhir yang mampu melestarikan tradisi tato kuno. Ia bernama Whang Od Oggay, seniman tato tradisional tertua di Filipina.

Ia tinggal di provinsi Kalinga yang terletak di wilayah pegunungan Filipina Utara. Nenek tua ini adalah seorang master tato terkenal tidak hanya di Filipina, namun juga terkenal di beberapa negara.

Orang-orang dari seluruh dunia datang ke rumahnya hanya untuk mendapatkan tato kuno tersbeut. Para pengunjung harus menempuh perjalanan jauh untuk bisa bertemu nenek Whang Od.

Mereka harus berkendara 15 jam dari Manila menuju utara, yaitu menuju sebuah desa di kaki gunung Buscalan.

Desa ini hanya bisa diakses dengan berjalan melewati jalan yang masih tanah dan menembus sawah serta hutan.

1 dari 3 halaman

Mentato Pakai Duri dan Bambu

 Ilustrasi© Instagram @emily_bren

Dilansir dari Bored Panda, masyarakat mengagumi sosok nenek Whang Od karena dia merupakan orang terakhir dari sukunya yang melestarikan tradisi tato kuno tersebut.

Nenek Whang Od mengukir tato tradisional di tubuh seseorang menggunakan duri dari pohon ponelo, batang bambu sepanjang satu kaki, batu bara, dan air.

Warna hitam ia dapatkan dari tinta yang diracik sendiri. Tinta tersebut disadap jauh ke dalam kulit menggunakan duri dan bambu untuk mendorong tinta masuk. Tato yang dibuat oleh nenek Whang Od ini adalah permanen.

Biasanya tato kuno ini diukir menjadi berbagai garis, bentuk yang sederhana, hingga bentuk yang paling rumit seperti binatang yang tentunya memiliki kekuatan makna dan filosofi tertentu.

2 dari 3 halaman

Teknik Tato Hanya Diberikan untuk Kerabat Sedarah

 Ilustrasi© Scott L. Sorensen/ BoredPanda

Pada awal kemunculannya, tradisi tato Kalinga ini diberikan kepada orang-orang yang telah membunuh seseorang dalam pertempuran.

Sementara saat ini, karya seni tato tradisional ini tersedia untuk semua orang yang berkunjung ke rumah nenek Whang Od. Ia sudah melestarikan tato tradisional ini selama kurang lebih 80 tahun.

Kesulitan menjaga tradisi tato kuno ini adalah bahwa teknik tato hanya boleh diturunkan kepada kerabat sedarah. Karena jika tidak sedarah, mereka percaya bahwa tato sudah terkontaminasi alias tidak murni.

Meskipun nenek Whang Od akhirnya tidak memiliki keturunan, namun ia telah melatih cucu-cucunya supaya bisa melestarikan tradisi tatao legendaris ini.

“ Teman-temanku yang bisa membuat tato semuanya telah meninggal. Saya adalah satu-satunya yang masih hidup dan bisa memberikan tato. Namun saya tidak takut tradisi itu hilang, karena saya sudah melatih ahli tato berikutnya,” ucap nenek Whang Od.

3 dari 3 halaman

Proses Tato Tidak Menyakitkan

 Ilustrasi© Instagram @_rajayana

Seorang perempuan bernama Rajayana Librojo Fajatin berkesempatan mendapatkan tato tradisonal itu langsung dari ahlinya. Ia melakukan perjalanan selama 4 hari dari Baguio ke Sagada lalu ke Buscalan untuk menemui Whang Od. Rajayana mengatakan masyarakat di sana sangatlah ramah.

Ternyata, perempuan ini sudah menginginkan tato dari Whang Od sejak dirinya masih kecil. Ia menyebut nenek Whang Od sudah sangat tua, yaitu berusia 103 tahun, namun tubuhnya masih sangat lincah dan sehat.

“ Saya berada di Baguio, memutuskan untuk melakukan perjalanan ke utara lalu menghubunginya karena sudah sangat tua, namun masih sangat sehat. Saya memiliki tato elang ular di bahu kanan, saya juga mengingingkan bimbingan rohani pada saat itu,” ucap Rajayana.

Rajayana mengaku tato kuno ini tidak menyakitkan seperti ilustrasi yang beredar. Hanya berlangsung kurang dari satu jam, Whang Od sudah mampu membentuk tato dengan sangat indah.

“ Bagi saya, Whang Od adalah wanita paling cantik yang pernah saya lihat,” ucap Rajayana mengagumi ahli tato legendaris itu.

Beri Komentar