Sejarah Rawon, Kuliner Jawa Timur yang Kini Diakui Dunia
© Pexels.com/Esase
Reporter : Abidah
Rawon merupakan hidangan lezat yang sudah terdokumentasikan sejak tahun 900-an yang menjadikannya sarat dengan sejarah.
DREAM.CO.ID - Sepiring rawon mudah dikenali dari kuahnya yang berwarna hitam pekat. Di dalamnya terdapat potongan daging sapi yang dimasak hingga empuk, sementara aroma rempah dan rasa khas kluwek membuat hidangan ini berbeda dari kebanyakan sup di Indonesia. Di balik penampilannya yang gelap, rawon ternyata memiliki sejarah panjang yang dapat ditelusuri hingga lebih dari seribu tahun lalu.
Rawon merupakan salah satu kuliner khas Jawa Timur yang dikenal luas di Surabaya, Malang, Pasuruan, dan berbagai daerah lain. Hidangan ini menggunakan kluwek sebagai salah satu bumbu utama. Biji kluwek yang telah diolah menghasilkan warna cokelat tua hingga hitam sekaligus memberikan rasa dan aroma khas pada kuah rawon.
Jejak sejarah rawon bahkan dikaitkan dengan sumber tertulis dari masa Jawa kuno. Indonesia Travel menyebut salah satu bukti yang diduga berkaitan dengan hidangan ini terdapat dalam Prasasti Taji yang dikeluarkan pada 901 Masehi. Terdapat istilah rarawwan dalam prasasti tersebut sebagai salah satu petunjuk mengenai keberadaan makanan yang menjadi cikal bakal rawon.
Namun, bukti tersebut tidak serta-merta berarti rawon dalam bentuk yang dikenal sekarang sudah sama persis sejak abad ke-10. Kajian ilmiah dalam Journal of Ethnic Foods mencatat bahwa dokumentasi internasional mengenai sejarah, filosofi, bahan, dan proses pembuatan rawon masih relatif terbatas. Karena itu, hubungan antara istilah dalam sumber Jawa kuno dan hidangan rawon modern perlu dipahami sebagai bagian dari penelusuran sejarah kuliner, bukan sebagai bukti bahwa resepnya tidak mengalami perubahan selama berabad-abad.
Salah satu unsur yang membuat rawon bertahan sebagai hidangan khas Jawa Timur adalah penggunaan kluwek. Bumbu tersebut memberikan warna hitam sekaligus rasa gurih, sedikit asam, dan aroma yang khas. TasteAtlas menjelaskan bahwa kluwek harus melalui proses fermentasi sebelum digunakan karena bijinya dalam kondisi mentah mengandung senyawa yang beracun. Dalam penyajiannya, rawon umumnya dilengkapi nasi putih, tauge pendek, telur asin, sambal, serta kerupuk atau emping.
Dari hidangan yang berkembang di Jawa Timur, rawon kemudian memperoleh pengakuan yang lebih luas. Kajian dalam Journal of Ethnic Foods mencatat bahwa rawon termasuk dalam 30 ikon kuliner tradisional Indonesia yang dipilih Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada 2012. Daftar tersebut dibuat untuk memilih makanan tradisional ikonik dari berbagai provinsi yang kemudian dapat dipromosikan dalam kegiatan nasional maupun internasional.
Pengakuan dari dunia kuliner internasional kemudian semakin terlihat melalui TasteAtlas. Menurut kajian yang sama, rawon pernah menempati posisi pertama kategori best meat-based soup in Asia pada 2020 dan masuk daftar Ten Most Popular Meat Soups in the World pada 2022 dan 2023.
Pada 2024, posisi rawon bahkan semakin mencolok. TasteAtlas menempatkannya di peringkat pertama daftar 100 sup terbaik dunia dengan skor 4,7, mengungguli sejumlah hidangan sup dari berbagai negara. Setahun kemudian, dalam daftar 100 Best Dishes in the World 2025, rawon kembali masuk 10 besar dan berada di posisi kedelapan dengan skor 4,62. Data TasteAtlas menunjukkan bahwa rawon tidak hanya memperoleh perhatian karena statusnya sebagai makanan tradisional Indonesia, tetapi juga karena karakter rasanya yang dianggap menonjol dalam perbandingan dengan hidangan dari berbagai negara.
Perjalanan rawon dari hidangan khas Jawa Timur hingga dikenal dalam daftar kuliner dunia memperlihatkan bagaimana makanan tradisional dapat melampaui batas wilayah. Kuah hitam dari kluwek, daging sapi, rempah, dan berbagai pelengkapnya tetap mempertahankan karakter lokal, sementara pengakuan internasional membuat nama rawon semakin dikenal oleh pencinta kuliner di luar Indonesia.