Perawatan Kecantikan Non-Bedah Makin Marak, Seberapa Aman?

Reporter : Annisa Mutiara Asharini
Kamis, 27 Juni 2019 13:48
Perawatan Kecantikan Non-Bedah Makin Marak, Seberapa Aman?
Botox dan filler semakin naik daun.

Dream - Perawatan kecantikan berbasis estetika seakan masih menjadi hal tabu bagi masyarakat. Seperti botox, filler, ataupun teknik laser.

Tapi nyatanya, metode estetika non-bedah justru semakin naik daun. Hal ini menggantikan tren perawatan kecantikan yang memakai teknik bedah yang cenderung menurun.

Tercatat ada penurunan 5 persen sejak 2000 dari berbagai prosedur seperti operasi plastik, lipsosuction, higga face lift.

" Minimally invasive treatment atau perawatan tanpa metode pembedahan justru meningkat sebanyak 228 persen," ujar Lanny Juniarti, President Director of Miracle Group di Jakarta, kemarin. 

Serendipity Journey© Foto: Annisa Mutiara Asharini/Dream

Metode non-bedah mulai digemari karena lebih aman dan dilakukan memakai alat canggih guna meminimalisir rasa sakit.

Lanny menambahkan, kini wanita sudah berani melakukan perawatan kecantikan di usia muda, bahkan sejak 13 tahun.

" Jika 5 tahun lalu orang masih mengandalkan facial, kini orang mulai berani meniruskan dan mengencangkan wajah. Trennya naik sebanyak 5,5 persen. Ini karena keraguan untuk memakai botox dan filler semakin turun," tuturnya.

1 dari 5 halaman

Amankah?

Metode estetika non-bedah sebetulnya tidak berbahaya jika dilakukan dengan benar. Perlu diperhatikan, setiap orang hanya boleh melakukan treatment sesuai dengan karakteristik wajah.

Ilustrasi© Shutterstock


" Kebutuhan setiap orang tidak sama. Misalnya ingin mengecilkan rahang besar karena aktivitas tertentu. Bukan semata-mata estetik tapi juga ditinjau dari segi kesehatan oleh dokter bersangkutan untuk merelaksasi otot," lanjut Lenny.

2 dari 5 halaman

Risiko Rombak Total Wajah

Selain itu, perombakan wajah secara totalitas sebaiknya tidak dilakukan guna menghindari berbagai macam risiko. Perhatikan juga porsi ketika melakukan perawatan.

" Biasanya orang yang melakukan treatment mendapat hasil memuaskan sehingga ketagihan. Padahal perawatan secara berlebihan justru akan memberi dampak buruk," tutur Olivia Ong, Founder Jakarta Aesthetic Clinic (JAC).

Guna mengedukasi masyarakat tentang inovasi perawatan kecantikan berbasis estetika, Merz Aesthetics meluncurkan kampanye 'Merz Aesthetics Serendipity Journey'.

Serendipity Journey© Foto: Annisa Mutiara Asharini/Dream

Kampanye ini menghadirkan kisah  inspiratif dalam menemukan jati diri 11 wanita dari 11 negara, serta 8 publik figur Indonesia. Mereka diantaranya Donna Agnesia, Soraya Hylmi, Lisa Gunawan dan Putri Gorda. (ism) 

3 dari 5 halaman

Tak Hanya untuk Kecantikan, Ini Manfaat Lain Botox

Dream - Kini semakin banyak jenis perawatan yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan dan kecantikan. Botox salah satunya.

Biasanya, botox dilakukan untuk menangani proses penuaan pada kulit. Namun ternyata, botox bisa dilakukan untuk membuat ketiakmu bebas dari keringat berlebih.

shutterstock© shutterstock.com

" Botox juga bisa digunakan untuk mengurangi keringat berlebih, hiperhidrosis. Biasanya, artis-artis yang tidak mau terlihat noda di baju akibat berkeringat di daerah ketiak," ujar Maureen Situmeang, Spesialis Kulit dan Kelamin di Skin&Co, Jakarta Selatan, Rabu, 24 April 2019 kemarin.

Teknik perawatan ini bisa diterapkan untuk mengontrol keringat karena memiliki kemampuan memblokir saraf. " Botox berfungsi untuk memblokir saraf, baik untuk muscle maupun hiperhidrosis," jelasnya.

Event Skin&Co/Cynthia Amanda Male© dream.co.id

Foto: Skin&Co Event /Cynthia Amanda Male

Sama seperti tindakan botox lainnya, kamu perlu konsultasi ke dokter spesialis kulit dan kelamin dahulu agar bisa mendapatkan hasil sempurna.

" Nggak ada efek sampingnya karena hanya akan tahan 6-9 bulan. Tapi kalau ketebalan kulitnya berbeda, dosisnya juga berbeda," kata Maureen.

Selain di ketiak, botox juga biasa dilakukan untuk mengurangi produksi keringat di telapak tangan. " Biasanya, di ketiak dan telapak tangan. Di dunia kesehatan, botox juga bisa menangani kelopak mata yang drop, atau strabismus," pungkasnya. (ism) 

4 dari 5 halaman

Implan, Fat Transfer, Filler Payudara Apakah Semua Aman?

Dream - Kepuasan akan bentuk tubuh 'ideal' terus dicari perempuan lewat estetika kecantikan. Mulai dari perawatan hingga operasi ditempuh demi bentuk tubuh sempurna.

Salah satunya memperbaiki ukuran payudara. Ukuran payudara terlalu besar, terlalu kecil atau bentuknya yang kurang ideal menjadi alasan utama untuk melakukan operasi.

Menurut Enrina Diah, Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi Estetik dan Konsultan Kraniofasial, memperbaiki ukuran payudara biasa dilakukan perempuan usia 19-65 tahun. Caranya pun beragam.

“ Prosedur operasi yang aman adalah menggunakan implan atau fat transfer. Bisa juga dengan filler, tapi cairan yang digunakan kurang aman untuk kesehatanpayudara," ujar Enrina di Ultimo Clinic, Rabu 9 Mei 2018.

Enrina Diah© Cynthia Amanda Male

(Enrina Diah, Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi Estetik dan Konsultan Kraniofasial/Foto: Cynthia Amanda Male/Dream)

Implan diklaim sebagai cara paling aman karena menggunakan high strength cohesive gel yang biasanya ditanam di bawah otot. 

“ Implan bersifat lebih mudah untuk ditanam dan dilepas lagi di kemudian hari. Karena dia bersifat seperti gel yang tidak akan menyatu dengan otot," katanya.

Sementara fat transfer, dilakukan dengan cara memindahkan lemak di perut ke payudara. Hal ini cukup aman dilakukan karena memakai zat yang sudah ada di dalam tubuh.

“ Prosedur ini jadi yang termurah dan paling sering dilakukan. Tapi, lemak itu bisa mengeras dan menyatu dengan payudara. Makanya lebih sulit dikeluarkan,” ungkapnya. 

5 dari 5 halaman

Bagaimana dengan Filler Payudara?

Dream - Kemudian filler menjadi satu-satunya cara berbahaya. Sebab banyak kasus yang terjadi dan berakibat fatal.

“ Cairan yang dimasukkan ke dalam payudara dengan cara suntik filler, dinilai kurang aman. Karena cairan itu bisa menyumbat pembuluh darah ke jantung dan menyebabkan benjolan, infeksi atau kematian,” jelasnya.

Ketiga teknologi ini sudah hadir sekitar lebih dari 10 tahun lalu. Namun, masih terus diuji keamanannya bagi pasien.

Hingga kini, implan masih menjadi prosedur paling aman bagi yang ingin melakukan operasi payudara. Fat transfer dianjurkan bagi yang ingin memperbaiki ukuranbokong.

“ Awalnya filler dilarang di Amerika. Sekarang sudah dilarang di Eropa. Semoga di Indonesia Multi diedukasikan untuk tidak menjalani prosedur tersebut,” tutupnya. (ism) 

Beri Komentar