Cerita Tengkleng, Tulangan Kambing yang Naik Kelas

Reporter : Mutia Nugraheni
Kamis, 9 April 2020 14:02
Cerita Tengkleng, Tulangan Kambing yang Naik Kelas
Sedapnya tengkleng Solo membuat lidah terbuai.

Dream - Kuah santan kaya rempah, aromanya begitu menyeruak. Dimasak menggunakan anglo yang tingkat panas bara apinya diatur lewat kipas tangan rotan. Isinya berupa tulang-tulang kambing yang masih memiliki sedikit daging menempel.

Hidangan ini merupakan primadona kota Solo, Jawa Tengah, apalagi kalau bukan Tengkleng. Makanan yang berbahan dasar tulang kambing ini adalah salah satu mahakarya masyarakat Solo yang sudah turun temurun.

Mengapa tulang dan bukan daging? Dahulu, daging kambing adalah barang istimewa. Tentu saja yang bisa menikmati hanyalah para bangsawan, priyayi dan juga kompeni-kompeni Belanda.

Para pekerja, tukang masak, dan masyarakat biasa hanya bisa menikmati tulang kambing yang masih ada sedikit daging yang menempel. Meski hanya tulang kambing dan beberapa tempelan daging, masyarakat Solo mengolahnya jadi sajian masakan yang begitu istimewa.

Tak heran, hingga kini tengkleng jadi sajian spesial dan selalu dicari. Bukan hanya disukai masyarakat Solo tapi juga daerah lain. Baca selengkapnya cerita kenikmatan tengkleng di Diadona.id.

1 dari 5 halaman

Kisah Gudeg, Masakan Fenomenal Buatan Prajurit Mataram

Dream - Nangka muda dengan warna cokelat kehitaman disajikan di kuali tanah liat. Begitu legit saat digigit. Disajikan dengan suwiran ayam, telur pindang dan kerecek. Membayangkan sajian gudeg memang bisa langsung memantik selera makan.

Menu gudeg kini bisa dengan mudah ditemui di berbagai daerah di Indonesia, meskipun yang otentik berada di Yogyakarta. Sahabat Dream pernah berpikir mengapa menu tersebut dinamakan gudeg?

 © Dream

Jawabannya harus menelusuri sejarah Mataram. Konon, makanan yang menjadi ikon Kota Yogyakarta ini sudah ditemukan pada masa Kesultanan Mataram Islam pertama. Jauh lebih dulu sebelum nama kota Yogyakarta digaungkan.

Saat Kesultanan Mataram Islam hendak didirikan, Panembahan Senopati harus 'babat alas' Alas Mentaok atau membuka hutan belantara untuk memperluas wilayah. Panembahan Senopati memerintah prajurit Mataram dan semua kaum pekerja untuk 'babat alas' yang kelak bernama Yogyakarta ini.

 

2 dari 5 halaman

Banyak Pohon Nangka dan Kelapa di Hutan

Ternyata, di Alas Mentaok tersebut terdapat banyak pohon nangka dan kelapa. Pada saat itu, nangka yang sudah matang langsung dimakan dan kelapa muda juga dijadikan minuman. Nangka muda dan kepala tua tentunya sayang dibiarkan begitu saja.

 Gudeg © Gudeg

Akhirnya nangka muda dan santan yang dihasilkan dari kelapa dimasak dan dijadikan santapan bersama. Banyaknya prajurit dan pekerja pada saat itu, mengharuskan memasak dalam jumlah yang banyak.

Dimasaklah nangka muda dengan santan dari kelapa ditambah gula aren, berbagai macam bumbu, serta rempah-rempah, di dalam kuali besar.

Baca kelanjutan kisah gudeg di Diadona.id

3 dari 5 halaman

Ini Camilan Kampung yang Bikin Lee Seung Gi Blusukan ke Yogyakarta

Dream - Lee Seung Gi, selebritas asal Korea Selatan rupanya sedang ada di Indonesia. Tak ada informasi sebelumnya kalau aktor tampan itu bakal mengunjungi kota Gudeg.

 Ini Camilan Kampung yang Bikin Lee Seung Gi Blusukan ke Yogyakarta© MEN

Seung Gi datang Yogyakarta ternyata bukan untuk menemui para penggemar atau menggelar konser. Ada pekerjaan yang harus dilakukannya, yaitu syuting variety show berjudul " 2 Man Trip" .

Tak sendirian, Seung Gi juga bersama seleb Taiwan, Jasper Liu. Selama di Yogyakarta, dua pria ini menyempatkan cicipi cenil lupis ternama seantero dunia bikinan Mbah Satinem.

4 dari 5 halaman

Lupis Cenil 'Go International'

Mbah Satinem, sang pembuat sekaligus penjual cenil, memang sangat populer bukan hanya di Indonesia, tapi juga berbagai negara. Dagangannya jadi incaran turis asing saat datang Yogyakarta.

Hal ini lantaran serial Netflix berjudul 'Street Food' yang mengulas lupis buatannya yang begitu melegenda di Yogyakarta. Ada potongan video yang tersebar di Twitter, saat Seung Gi sedang membeli lupis Mbah Satinem.

5 dari 5 halaman

Berjualan Cenil Lupis 50 Tahun

Si mbah yang sudah berjualan cenil lupis selama 50 tahun, melayani aktor tersebut dengan sangat ramah. Potongan lupis ditaruh di daun pisang, lalu ditaruh cenil berwarna kemerahan, ditabur kelapa dan disiram gula merah cair.

 Seung Gi© Instagram

Duh, bikin ngilerSahabat Dream sudah pernah mencicipinya? Jangan sampai kalah dengan Seung Gi.


Laporan Rahmi Safitri/ Sumber: Kapanlagi.com

 

 

Beri Komentar
Melihat Kelanjutan Nasib Konser Tunggal Ayu Ting Ting