4 Tantangan Pengembangan Keuangan Syariah

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Rabu, 14 Juni 2017 09:17
4 Tantangan Pengembangan Keuangan Syariah
telah menjadi pemahaman umum, produk dan jasa keuangan syariah belum dapat menyediakan kenyamanan dan kecanggihan.

Dream - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengakui hingga saat ini masih terdapat tantangan dalam pengembangan keuangan syariah di Indonesia. Setidaknya ada empat tantangan yang masih harus dihadapi.

" Empat tantangan utama industri keuangan syariah kita," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad di Jakarta, Selasa, 13 Juni 2017.

Tantangan pertama, kata Muliaman, kapasitas kelembagaan yang belum kompetitif dan efisien. Beberapa masalah di antaranya seperti dukungan permodalan dan jaringan yang terbatas, rendahnya penggunaan teknologi, serta kapasitas SDM yang belum merata.

Tantangan kedua yaitu masih terbatasnya jenis dan akses terhadap produk dan layanan keuangan syariah, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

 Hijab

 

Muliaman mengatakan telah menjadi pemahaman umum, produk dan jasa keuangan syariah belum dapat menyediakan kenyamanan dan kecanggihan, seperti halnya yang diberikan industri keuangan konvensional.

" Akan sulit kita menjawab kebutuhan dari masyarakat kelas menengah yang terus tumbuh dengan cepat," kata dia.

Tantangan yang ketiga adalah market share keuangan syariah yang masih kecil. Per Maret 2017, total aset keuangan syariah Indonesia di luar saham syariah mencapai Rp967,9 triliun, yang masih didominasi sektor perbankan syariah sebanyak hampir 50 persen.

 OJK

Muliaman mengatakan, kondisi ini tidak menunjukkan perubahan. Padahal, beberapa produk keuangan syariah memiliki market share lebih dari 5 persen secara individu, seperti perbankan syariah 5,29 persen, pembiayaan syariah 7,27 persen dan sukuk negara 16,96 persen.

" Namun, market share secara total aset keuangan syariah, masih di bawah 5 persen dari keseluruhan aset keuangan kita," kata dia.

 Hijab

Muliaman mengatakan tantangan yang terakhir adalah literasi keuangan syariah masyarakat yang masih rendah. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2016 menunjukkan Indeks Literasi Keuangan Syariah 2016 baru mencapai 8,11 persen.

" Saya menyadari ini bukan tantangan yang mudah untuk kita selesaikan dan membutuhkan waktu yang berkelanjutan," kata dia.

Muliaman pun mengajak masyarakat melihat potensi perkembangan yang begitu besar. Contohnya seperti jumlah kelas menengah terus bertumbuh, penduduk Muslim yang besar, peningkatan sovereign credit rating Indonesia menjadi investment grade, prospek ekonomi global dan domestik yang lebih baik serta regulatory regime yang kondusif.

" Semua ini akan menjadi potensi yang besar bagi keuangan syariah apabila tantangan-tantangan tadi dapat kita sikapi dengan baik," kata dia. (ism) 

Beri Komentar
Canggih, Restu Anggraini Desain Mantel dengan Penghangat Elektrik