Anak Sopir Bus Jadi Walikota London

Reporter : Puri Yuanita
Rabu, 18 Mei 2016 22:35
Anak Sopir Bus Jadi Walikota London
Dia cuma anak sopir bus. Hidup penuh dalam kontroversi, kini pria muslim itu menjadi walikota. Ini kisah hidupnya.

Dream - Pria itu berdiri gelisah. Meski senyum sempat tersungging dari wajahnya. Beberapa kali tanganya terkepal. Menoleh ke kanah dan kiri seolah mencari posisi nyaman. Rambut memutih dengan paras mirip orang Asia membuat perawakan mudah terlihat di jajaran delapan orang itu.

Kegelisahan semakin memuncak kala sahutan pengunjung yang sedari tadi riuh tiba-tiba menghilang. Seorang pria berjas gelap maju ke tengah podium. Membawa sepucuk kertas. Satu persatu hasil pengumuman dibacakan.

“ Sadiq Aman Khan memperoleh satu juta seratus ribu….,” ucap pria itu. Tak sempat dia menyelesaikan kalimat itu. Sahutan kembali bergemuruh. Semua berdiri memberikan tepuk tangan panjang.

Dengan wajah penuh keyakinan, pria berjas biru gelap melangkah menuju podium. Riuh tepuk tangan mengiringi langkahnya. Seluruh mata tertuju pada sosok pria paruh baya itu. Menunggu-nunggu pidato yang akan disampaikan.

" Saya tidak pernah membayangkan orang sepertiku bisa terpilih sebagai Walikota London. Saya sangat bangga warga London memilih harapan daripada ketakutan," ujar pria itu membuat pidatonya.

Suara tegas seketika dibalas tepuk tangan ratusan orang. Tak sedikit yang berdiri. Kagum melihat pada sosok pria itu. Ya, Sadiq Aman Khan, pria muslim itu baru saja terpilih menjadi walikota baru London. Ibukota negara Inggris.

Hasil pemungutan suara memperlihatkan calon dari Partai Buruh ini meraih 56,8 persen suara, Unggul dari saingan terdekatnya Zac Goldsmith dari Partai Konservatif yang meraih 43,2 persen suara, dengan tingkat partisipasi 45,3 persen dari jumlah pemilih.

Sontak, Nama Sadiq Khan menjadi fenomenal. Jadi perbincangan orang seluruh dunia. Bukan hanya London dan Inggris. Gaungnya sampai pula ke Indonesia.

Anak Sopir Bus

1 dari 2 halaman

Putra Seorang Sopir Bus

Dream - Tak banyak orang yang mengenal Sadiq Khan. Apalagi membayangkannya menjadi walikota. Maklum, Eropa sedang dilanda demam Islamiphobia. Dan kini semua kaget. Saat seorang muslim menjadi orang nomor satu di rumah Ratu ELizabeth itu.

Khan kecil bukanlah orang berada. Sejak kecil, hidupnya penuh keprihatinan dan perjuangan. Dia Lahir dari keluarga keturunan Pakistan dan tinggal di kota kecil, Tooting di London Selatan. Ayahnya cuma seorang sopir bus. Sementara ibunya seorang penjahit. Bersama tujuh saudara kandungnya, Sadiq dibesarkan di perumahan yang disubsidi pemerintah setempat.

Lulus dari sekolah negeri di Tooting, Sadiq menekuni jurusan hukum di London. Pendidikan yang membawanya menjadi seorang pengacara. Dia memilih kasus penegakan hak asasi manusia selama satu dekade. Namanya tenar di kalangan orang tertindas. Apalagi dia menangani banyak kasus rasialisme.

Ketenaran itu pula yang membawanya pada dunia politik. Ia sudah menjabat sebagai anggota dewan termuda di London pada usia 23 tahun. Menjadi perwakilan daerah Tooting sejak 1994 hingga 2006. Sadiq juga menjabat sebagai pemimpin Liberty, organisasi penegak HAM di Inggris dan Wales selama tiga tahun.

Karirnya melesat. Ia terpilih menjadi anggota parlemen Muslim pertama di Inggris pada 2005. Sampai akhirnya Khan mulai menginjak kaki di pemerintahan. Dia didaulat sebagai Menteri Transportasi untuk London pada 2009 dan 2010. Kala itu pemerintahan Buruh digulingkan dan digantikan oleh koalisi pemerintahan Konservatif dan Liberal Demokrat.

Rentetan pengalaman itu membawanya lebih jauh. Partai Buruh yang menaunginya mengusung namanya. Menjadi seorang walikota London. Tumbuh besar di rumah subsidi seperti kebanyakan keluarga imigran dan kelas pekerja lainnya, Khan membawa janji yang lebih memikat. Berjanji mengatasi tingginya harga hipotek dan sewa rumah di London. Tarif yang berada di luar jangkauan rata-rata warganya.

Pilihannya tepat. Hati orang-orang London yang sedang terhimpit berhasil diraihnya. " Saya ingin semua warga London mendapatkan peluang yang sama seperti yang diberikan kota ini kepada saya," ucap Khan saat diwawancari stasiun televis setempat.

 

2 dari 2 halaman

Tak Lepas dari Kontroversi

Dream - Menjadi seorang walikota, apalagi muslim, bukan pekerjaan mudah bagi Khan. Namun hal itu bukan barang baru baginya. Sedari meniti karir, Hidup Khan memang tak lepas dari kontroversi. Meski seorang muslim, ia dikenal sebagai sosok yang memiliki toleransi tinggi.

Khan pernah mendukung pernikahan gay pada 2013 silam. Alhasil, Khan dihujani kritik tajam. Sebuah ancaman kematian dari kelompok ekstremis bahkan dialamatkan kepadanya.

Tak jera dengan sikapnya itu, Khan kembali menuai kontroversi. Kali ini dia mengunjungi beberapa kelab malam. Di tempat surga duniawi itu, Khan membuat seruan mengejutkan. Meminta kelab malam di Inggris tak ditutup. Padahal dia anti mengonsumsi alkohol.

Menjadi calon walikota, isu panas makin banyak menghampiri Khan. Tak tangung, kali ini dari rivalnya dalam pemilihan, Goldsmith. Putra seorang miliarder itu meluncurkan kampanye hitam. Menuduh Khan punya pandangan anti-semitisme dan ekstremisme.

Yang makin berat. Kampanye negatif itu didukung Perdana Menteri David Cameron. Dia menyebut Khan dekat dengan sejumlah orang berpandangan ekstremisme.

Bukannya mundur, Khan unju diri. Menepis tudingan, dalam pidato resminya Khan mengatakan, " Sebagai walikota, saya akan menjadi Muslim Inggris yang berjuang melawan para ekstremis."

Dan kini jalan panjang terbentang di depan Khan. Bukan lagi gelisah menunggu jawaban, namun mewujudkan janjinya. 

Beri Komentar