Blak-blakan Menkeu Sri Mulyani Soal Pandemik Corona: `Luar Biasa Berat`

Reporter : Syahid Latif
Selasa, 4 Agustus 2020 06:33
Blak-blakan Menkeu Sri Mulyani Soal Pandemik Corona: `Luar Biasa Berat`
Baru pertama kali terjadi sepanjang sejarah Kemenkeu berdiri.

Dream - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengakui jika pandemi corona saat ini menjadi tantangan terberat yang dihadapi pemerintah. Bahkan tantangan ini menjadi yang pertama kali dihadapi kementeriannya.

Selain dampak yang muncul cukup parah, pandemik penyakit menular corona juga baru pertama kali terjadi di dunia.

" Menangani pandemik ini merupakan suatu tugas yang luar biasa berat," kata Sri Mulyani dalam pembukaan konferensi pers Kementerian Keuangan Peduli di Masa Pandemik, Senin, 3 Agustus 2020.

Meski mengaku jadi tugas luar biasa berat, Menkeu memastikan pemerintah akan terus berupaya memaksimalkan penanganan pandemi tersebut melalui sejumlah instrumen kebijakan yang inovatif. Kebijakan yang dibuat tetap mempertimbangkan aturan hukum yang berlaku.

Kebijakan yang disiapkan pemerintah difokuskan pada penanganan terhadap tiga sektor yang dianggap paling rentan yakni kesehatan, sosial, dan ekonomi.

Di bidang kesehatan, instrumen kebijakan akan menyasar pada kualitas dan kuantitas penanganan korban Covid-19. Sementara sektor sosial akan difokuskan pada perluasan penerima manfaat bantuan sosial, khususnya bagi masyarakat miskin.

" Bagi ekonomi. Instrumen kebijakan akan menyasar sektor korporasi sampai UMKM agar bisa mempertahankan bisnisnya. Khususnya tidak melakukan aksi PHK," jelas Sri Mulyani.

Khusus kepada para pegawai Kemenkeu, Sri Mulyani berpesan agar jajarannya lebih peka dalam menyikapi krisis yang terjadi. Setiap orang, lanjutnya, bisa memberikan potensi yang dimiliki sebagai sumbangsih bagi masyarakat sekitar.

Sementara untuk masyarakat umum, Menkeu berharap agar kooperatif dalam menerapkan protokol kesehatan dalam berbagai aktifitas. " Karena, kita masih dalam suasana yang waspada akibat pandemi ini," pesannya.

(Sah, Sumber: Liputan6.com)

1 dari 3 halaman

Curhat Sri Mulyani: Bolehkah Saya Istirahat Setengah Hari untuk Ketemu Cucu?

Dream - Sri Mulyani harus bekerja keras selama masa pandemi virus corona, bahkan harus berfikir keras 24 jam dalam sehari selama satu minggu. Jarang libur. Maklum, selain mengancam jiwa, virus corona juga membuat ekonomi banyak negara rontok.

Saking sibuknya mengurus keuangan negara yang tengah menghadapi tantang berat, hampir-hampir tak ada waktu istirahat. Menteri Keuangan itu bahkan secara khusus meminta kepada Sekretaris Jenderal kementerian Keuangan untuk beristirahat.

" Saya kadang minta ke Pushaka (Sekjen), saya bisa tidak setengah hari di Sabtu ini jangan diganggu. Saya hanya ingin duduk, kosongkan pikiran dan berdiam," ujar Sri Mulyani, dikutip dari Merdeka.com, Jumat 19 Juni 2020.

Sri Mulyani tidak akan kemana-mana. Dia hanya minta waktu setengah hari untuk bersama sang cucu yang sudah semakin jarang ditemui. " Saya bisa enggak setengah hari di Sabtu ini (bekerjanya) saya ingin ketemu cucu saya.Saya merasakan bekerja tujuh hari 24 jam penuh," sambung mantan Direktur Bank Dunia itu.

2 dari 3 halaman

Semenjak pandemi virus corona, kata Sri Mulyani, pemerintah harus bekerja ekstra dibandingkan dengan kondisi normal. Mereka memang bekerja dari rumah, namun tetap saja harus menyiapkan berbagai strategi ekonomi dengan melakukan berbagai rapat.

" Karena orang menganggap kalau dari satu meeting ke meeting lain enggak perlu travelling time, cuma pindah dari satu zoom to another zoom, padahal di Kemenkeu harus menyediakan bahan karena ada konsekuensi keuangan negara," jelas dia.

      View this post on Instagram

A post shared by Sri Mulyani Indrawati (@smindrawati) on

 

3 dari 3 halaman

Saat ini, imbuh dia, Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) menghadapi tantangan yang sangat berat. Salah satunya defisit yang mendekati 1,76 persen.

" APBN berubah luar biasa, bayangkan 2020 tadinya kita ini berharap APBN itu primary balance mendekati 0, sudah mulai sangat sehat di mana penerimaan dan belanja sudah mulai mendekat dan memiliki defisit hanya 1,76 persen dengan keseimbangan primer mendekati 0," jelasnya.

Peningkatan defisit itu tak lain disebabkan penggelontoran dana penanganan Covid-19 hingga Rp700 triliun. " Artinya keuangan negara mengalami tekanan sangat berat," ujar Sri Mulyani.

Beri Komentar