Belajar dari SBY, Begini Cara Ubah Janji Kampanye Menjadi Program Nyata Pemerintahan
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
CEO Telegram (kiri), Pavel Durov, Menemui Menteri Komunikasi Dan Informatika, Rudiantara. (Foto: Kementerian Komunikasi Dan Informatika)
Pavel Durov berbincang dengan Rudiantara mengenai sejumlah isu, terutama terorisme.
Dream – CEO Telegram, Pavel Durov, akhirnya bertemu dengan Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara. Kedatangan Durov ke Indonesia terjadi setelah aplikasi percakapan tersebut diblokir pemerintah Indonesia.
Dalam perbincangan tersebut, Rudiantara mengungkapkan mereka sempat berbincang mengenai isu penanganan terorisme dan konten radikal yang kerap tersebar melalui aplikasi percakapan Telegram.
Keduanya juga membahas tindak lanjut dari penutupan 11 domain name system (DNS) layanan Telegram berbasis web.
“Saya mengapresiasi Telegram yang responsif dalam menyikapi isu ini,” kata Rudiantara melalui keterangan tertulis diterima Dream, Selasa, 1 Agustus 2017.
Durov mengatakan Telegram punya komitmen yang sama dengan pemerintah Indonesia. Dia menyatakan pihaknya juga menaruh perhatian sangat besar terhadap ancaman terorisme global.
“Penting buat pemerintah Indonesia dan Telegram untuk membuat joint statement terkait hal ini,” kata dia.
Usai pertemuan ini, Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kemenkominfo, Samuel A Pangerapan, menangkap adanya itikad baik serta komitmen Telegram untuk menangani isu-isu terorisme dan konten radikal. Melihat komitmen itu, kata Samuel, pihaknya menyatakan blokir terhadap 11 DNS Telegram akan dipulihkan.
“Minggu ini akan segera dipulihkan,” kata Samuel.