Simak 3 Tips Rahasia Bikin Brand Lokal Dilirik Pembeli

Reporter : Dwi Ratih
Kamis, 18 Februari 2021 06:33
Simak 3 Tips Rahasia Bikin Brand Lokal Dilirik Pembeli
Kamu punya brand sendiri?

Dream - Antusias masyarakat terhadap brand lokal semakin meningkat. Peningkatan ini sejalan dengan banyaknya kehadiran brand lokal di Tanah Air dengan kualitas yang tak kalah dari produk luar negeri.

Survei yang dilakukan Katadata Insight Center (KIC) di penghujung 2020 mencapai 82,3 persen responden memilih menggunakan produk lokal karena dimotivasi kebanggaan terhadap produk dalam negeri. Sementara 60,7 persen memilih produk lokal karena harganya yang terjangkau.

Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat dengan brand atau produk lokal sudah semakin besar sehingga diperlukan strategi yang tepat dari sisi inovasi, kemudahan akses pembelian serta marketing dan branding untuk mendorong pertumbuhan yang lebih besar.

Shoppe Pay Talk© Shoppe Pay Talk

Melalui sesi bincang 'ShopeePay Talk: Pikat Hati Masyarakat dengan Produk Lokal' pada Rabu, 17 Februari 2021 yang dihadiri Beauty and Lifestyle Influencer Putri Caya, CEO Garis Temu Giorraando Grissandy, dan xCo-Founder Secondate Beauty Giorraando Grissandy, ada tiga tips yang dapat dilakukan brand lokal untuk menarik perhatian masyarakat:

1 dari 5 halaman

1. Gaungkan kebanggaan atas produk dan brand

Sebagai brand lokal, tunjukkan rasa bangga sebagai sebuah serta kualitas produk yang dimiliki. Lakukan riset dasar untuk mengetahui tren yang saat menjadi perbincangan publik untuk menciptakan strategi komunikasi yang relevan.

Jangan lupa untuk konsisten menekankan keunggulan produk yang diciptakan sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia serta daya saing yang tidak kalah dengan produk berskala internasional.

2. Tentukan strategi komunikasi yang sesuai dengan core value dari brand

Untuk memperkenalkan brand dengan baik ke masyarakat luas, dibutuhkan sebuah strategi komunikasi yang matang dan tepat sasaran.

Sebelum melangkah jauh, tentukan pesan utama yang nantinya akan disampaikan melalui keseluruhan program, konten, kampanye, hingga promo.

Kreativitas sangat dibutuhkan untuk mempromosikan produk atau jasa yang ditawarkan di tengah persaingan yang cukup ketat dengan brand internasional.

Jika dikemas dengan menarik, ciri khas dari sebuah brand dapat terus melekat di hati masyarakat.

2 dari 5 halaman

3. Terus berinovasi dan beradaptasi

Perubahan situasi dan kondisi yang terus bergerak di masyarakat mengharuskan setiap pegiat usaha untuk berinovasi dan beradaptasi.

Selain terus menciptakan produk yang sesuai dengan minat serta kebutuhan masyarakat, brand lokal juga harus terus memperluas jangkauan produknya dengan memanfaatkan teknologi yang ada saat ini.

Dengan menambah channel penjualan ke ranah online dan adopsi pembayaran digital, brand lokal dapat semakin dekat dengan masyarakat yang kini sudah semakin digital.

Laporan: Yuni Puspita Dewi

3 dari 5 halaman

Mengenal Sustainable Fashion dengan Konsep 'Slow Fashion'

Dream - Brand fashion 'Sejauh Mata Memandang' yang didirikan Chitra Subyakto membuat koleksi terbaru dengan menerapkan sustainable fashion. Menjaga bumi lewat pemilihan material yang digunakan untuk koleksi busananya.

Brand ini juga mengutamakan kesejahteraan para pengrajin, sampai urusan mengurangi limbah. Untuk mencapai itu, Sejauh Mata Memandang menggunakan Tencel, yaitu serat pakaian alternatif berbasis selulosa yang mudah terurai.

Brand yang menjual baju, celana dan aksesori ini juga membuktikan kepedulian mereka terhadap lingkungan. Pakaian yang berkelanjutan (sustainable fashion) saat ini tengah ramai digaungkan mengingat fashion adalah sumber limbah terbesar kedua di dunia. Salah satu cara untuk mengurangi limbahnya adalah menerapkan slow fashion. Lalu, apa persisnya slow fashion itu?

" Mulai dari kata 'slow' itu, artinya 'pelan'. Jadi slow fashion itu sebenarnya tidak memprioritaskan kecepatan produksi,” ujar pemilik jenama slow fashion Sejauh Mata Memandang, Chitra Subyakto, saat berdiskusi dengan aktris Dian Sastrowardoyo secara virtual, Jumat, 20 November 2020 kemarin.

4 dari 5 halaman

Cinta dengan bumi


Sejauh Mata Memandang© Instagram.com/sejauh_mata_memandang

Menurut Chitra, prioritas fashion lambat adalah kualitas ketimbang kuantitas. Ini tentu berkebalikan dengan fast fashion yang mengutamakan kuantitas daripada kualitas dari produk fesyen itu sendiri.

Para produsen yang menerapkan fashion lambat ini juga mengutamakan produk yang awet dan lama masa waktunya. Artinya, bahan yang digunakan pun harus bahan yang lebih berkualitas agar lebih awet dipakai.

“ Jadi lebih awet, tidak cepat rusak, dan produksinya dipikirkan, pekerjanya juga dipikirkan, kesehatannya. Dan, memerhatikan lingkungan, jadi kita berusaha untuk lebih tidak merusak Bumi kita ini,” jelas Chitra.

5 dari 5 halaman

Bagaimana dengan fast fashion?


Sejauh Mata Memandang© Instagram.com/sejauh_mata_memandang

Sementara itu, para produsen fast fashion yang mengutamakan kuantitas daripada kualitas, menurut Chitra, memiliki kewajiban mengisi tokonya di seluruh dunia

Artinya, pemilihan bahan pun tak dimungkiri harus dipilih yang lebih murah. Maka tak heran kualitas bahan tersebut pun lebih tak tahan lama, seperti mudah sobek atau mudah melar.

Para produsen fashion cepat biasanya selalu bergerak cepat karena mengejar tren yang sedang berkembang saat itu juga.

Jangka waktu pergantian tren, menurut Chitra, biasanya berkisar tiga bulan. Kadang, ada juga dua tren dalam satu pekan.

Perhatikan bahan yang digunakan

Sejauh Mata Memandang© Instagram.com/sejauh_mata_memandang

“ Karena waktunya singkat, jadi pekerjanya juga harus dicari yang bayarannya murah. Itu biasanya dari negara-negara ketiga, termasuk Indonesia,” ungkap Chitra.

Menurut Chitra, biasanya fashion cepat menggunakan bahan kain berupa polyester yang memiliki campuran plastik. Sementara, plastik merupakan bahan yang sangat sulit untuk diuraikan sehingga tak ramah untuk lingkungan. (mut)

Laporan: Savina Mariska

Beri Komentar