Jokowi Pamer Prestasi Bursa Saham dan Ekonomi RI di 2021

Reporter : Alfi Salima Puteri
Senin, 3 Januari 2022 15:12
Jokowi Pamer Prestasi Bursa Saham dan Ekonomi RI di 2021
Pertumbuhan investor ritel pada 2021 ditopang oleh kalangan milenial dan Gen-Z.

Dream - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menginginkan jumlah investor pasar modal di Indonesia terus bertambah banyak setiap tahun untuk membantu pertumbuhan ekonomi nasional. Pada tahun 2021, investor pasar modal di Indonesia mencapai 7,48 juta investor. 

Penambahan ini tergolong tinggi karena investor yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2017 baru mencapai 1,1 juta orang.  

" Utamanya investor-investor ritel yang banyak dari anak-anak muda, milenial, semuanya masuk," kata Jokowi dalam sambutan pembukaan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2022, Senin, 3 Januari 2022.

Merujuk data otoritas BEI, secara khusus pertumbuhan investor ritel pada 2021 ditopang oleh kalangan milenial (kelahiran 1981-1996) dan Gen-Z (kelahiran 1997 – 2012) atau rentang usia kurang dari 40 tahun sebesar 88 persen dari total investor ritel baru (per November 2021).

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mencatat adanya pertumbuhan investor pasar modal yang luar biasa sepanjang 2021 yang diwarnai munculnya banyak investor milenial.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, pertumbuhan investor ritel pada tahun lalu di luar dugaan, karena pada 2020 hanya 3,8 juta dan sekarang mencapai 7,48 juta.

" Ini blessing juga, dalam masa pandemi, orang-orang belanjanya berkurang, sehingga banyak dimasukkan ke pasar modal. Digitalisasi transaksi dukung itu semua, sehingga investornya mencapai 7 juta," ujar Wimboh dalam kesempatan yang sama.

1 dari 3 halaman

Cuan Lebih Tinggi

Pada bagian lain, Jokowi mengatakan Indonesia harus bersyukur karena kinerja pasar modal Indonesia memberikan keuntungan lebih besar dibandingkan negara tetangga.

Dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menunjukkan kinerja positif, return investasi dari investor di BEI mencapai 10,1 persen, lebih tinggi dibanding negara tetangga, seperti Malaysia, Filipina, dan Singapura.

“ Ini sebuah angka yang lumayan tinggi. Dan kalau dibandingkan dengan Filipina, Malaysia, dan Singapura kita masih yang paling atas,” ucapnya.

Diketahui Singapura memberikan return pada investor sebesar 9,8 persen, Malaysia minus 3,7 persen, bahkan Filipina minus 0,2 persen, sementara Indonesia mencapai 10,1 persen.

 

2 dari 3 halaman

Pemulihan Ekonomi Makin Kuat

Presiden juga memastikan pemulihan ekonomi yang dialami Indonesia saat ini berlangsung cukup kuat. Ini terlihat dari neraca perdagangan yang mengalami surplus US$ 34,4 miliar. Bahkan aktivitas perdagangan Indonesia mengalami suprlus dalam 19 bulan terakhir.

" Belum pernah kita mengalami seperti ini," ungkapnya. 

Ekspor Indonesia secara tahunan dilaporkan mengalami kenaikan 49,7 persen (yoy). Begitu pula dengan impor yang naik 52,6 persen terutama untuk bahan baku dan bahan penolong.

Menurut Jokowi, peningkatan ekspor ini terjadi karena kebijakan pemerintah yang menghentikan ekspor bahan mentah (raw material). Dia mencontohnya ekspor bahan olahan nikel yang biasanya hanya US$1-2 miliar per tahun kini sudah melompak menjadi US$ 20,8 miliar.

" Saya kira keberanian kita menyetop itu hasilnya kelihatan. Oleh sebab itu, kita akan lanjutkan dengan setop bauksit, setop tembaga, setop timah, dan yang lain-lainnya. Hilirisasi menjadi kunci dari kenaikan ekspor kita," ujarnya.

3 dari 3 halaman

Indikator ekonomi lain yang dilaporkan presiden adalah tingkat daya saing Indonesia yang naik sebanyak tiga peringkat. Dalam posisi yang sangat berat seperti 2021, Indonesia diakui masih bisa menaikkan angka competitiveness index tersebut.

" Ini juga patut kita syukuri. Di bisnis 37 ranking kita, di digital bisnis 53, ini naik tiga peringkat semuanya," ungkapnya.

Penguatan juga tercatat pada indikator konsumsi dan indikator produksi yang semakin menguat. Keyakinan konsumen jika dibandingkan dengan Maret yang 113,8 persen sudah naik menjadi 118,5 persen pada November 2021 lalu. Tingkat indeks pengeluaran masyarakat (spending index) juga sudah naik ke 120,5 persen.

Sementara purchasing managers’ index (PMI) manufaktur Indonesia dilaporkan naik dari 51 persen sebelum pandemi menjadi 53,9 persen. " Optimisme melihat angka-angka seperti ini harus kita tunjukkan," ajak Presiden. (Sah)

 

Beri Komentar