UMKM Turut Menjadi Korban Pandemi Virus Covid-19.(Foto: Grab)
Dream – Pandemi corona telah mengantam beragam sektor usaha, tak terkecuali bisnis UMKM. Bagi UMKM, terutama sektor kuliner, kebijakan pembatasan sosial yang diterapkan secara masif untuk mencegah penyebaran virus COVID-19 telah mengubah pola usaha dan perilaku pelanggan.
Pelanggan tak lagi bisa menikmati hidangan di tempat seperti biasa, bahkan beberapa usaha kuliner harus membatasi jumlah pengunjung dan mengurangi jam operasional.
Untuk dapat bertahan dalam masa penuh tantangan ini, pelaku usaha harus beradaptasi dengan segala perubahan yang terjadi melalui strategi baru, terutama para UMKM sebagai garda terdepan perekonomian nasional.
Salah satunya adalah dengan mengandalkan teknologi untuk menjangkau pelanggan dalam situasi pembatasan sosial.
Strategi tersebut, seperti yang dilakukan oleh para mitra merchant GrabFood di Bandung, Surabaya, Makassar, dan Medan yang hingga kini masih bertahan dan terus menggerakkan perekonomian kotanya.
Salah satu UMKM yang menjual kreasi menu daging ayam di Bandung, Wingz O Wingz, berbagi pengalaman `bertahan` di pandemi corona. Manajer Pemasaran Wingz O Wingz, Muhammad Muhlis, mengatakan dampak yang paling terasa adalah transaksi makan di tempat hanya tinggal 5 persen.
“ Sesuai imbauan pemerintah kami juga membatasi kunjungan pelanggan untuk makan di tempat dengan mengutamakan layanan take away atau order memakai aplikasi,” kata Muhlis, dikutip dari keterangan tertulis Grab, Senin 13 April 2020.
Restoran ini sudah beroperasi sejak 2011 dengan mendirikan outlet kecil. Usaha tersebut terus tumbuh dan sekarang berhasil menjadi sumber penghidupan bagi 250 orang karyawannya.
Biasanya omzet utama Wingz O Wingz berasal dari pelanggan yang makan di tempat serta pelanggan yang memesan secara online. Namun sekarang mereka benar-benar mengandalkan penjualan online sebagai sumber pemasukan utama.
Meningkatnya transaksi dari pemesanan online, didorong oleh terbukanya peluang bagi para mitra merchant GrabFood untuk mendapatkan eksposur dan menjangkau basis konsumen digital yang lebih luas.
Ditambah lagi, UMKM bisa memanfaatkan berbagai program pemasaran yang ditujukan untuk mendukung perkembangan bisnis UMKM lokal.
Dukungan ini antara lain diwujudkan melalui hadirnya kategori khusus ‘Jagoan Lokal’ yang memuat daftar mitra merchant lokal favorit masyarakat masing-masing daerah. Hal ini diakui oleh Muhlis.

“ Saat ini paling saya syukuri sih bahwa usaha yang saya kembangkan ini sekarang tidak hanya tetap menghidupi ratusan karyawan tapi juga membantu para pengemudi ojek online di tengah situasi sulit ini,” kata dia.
Lain lagi dengan Surabaya. Salah satu mitra GrabFood di Kota Pahlawan ini adalah Ayam Bakar Primarasa. Restoran ayam bakar yang sudah dirintis sejak 1993 silam.
Edwin Sugiarto adalah generasi kedua pengelola Ayam Bakar Primarasa, menceritakan bahwa tantangan terbesar banyak pengusaha kuliner akibat pandemi COVID-19 adalah berhadapan dengan sejumlah keputusan sulit.
“ Pilihannya banyak, misalnya menutup layanan makan di tempat, tutup total tanpa layanan makan di tempat dan take away, atau tetap beroperasi. Kami hanya bisa mengambil satu,” kata Edwin.
Dia memilih untuk beroperasi seperti biasa. Hal ini bertujuan agar karyawan tetap bisa mendapatkan gaji utuh setiap bulan. Caranya dengan meningkatkan standar kebersihan dan melakukan prosedur pengecekan kesehatan.
“ Kami punya sekitar total 100 karyawan yang tersebar di tujuh cabang,” kata Edwin. Dia menyebut saat ini 50 persen transaksi berasa dari online
MasterCheese juga ikut merasakan dampak pandemi corona. UMKM kuliner ini masih beroperasi untuk mempertahankan omzet.
Perintis bisnis ini, Yulianti, mengatakan jumlah pengunjung yang makan di tempat semakin sedikit, sedangkan pemesanan online terus meningkat.
“ Memang lewat pesanan online, terutama Grab itu tetap banyak. Dulu saja sebelum Corona, 50 persen pesanannya dari Grab, sekarang pesanan online dari Grab naik sampai 80 persen. Bersyukur karena ada teknologi yang membuat kami mampu bertahan di situasi sulit ini,” kata dia.

Sementara itu, pebisnis Martabak Mekar, Erwin Susanto, mengatakan pandemi corona kini berdampak di Medan, Sumatera Utara. Akan tetapi, belum sampai di tahap sepi pembeli. Dikatakan, kebanyakan pembeli memesan di aplikasi.
“ Sebenarnya tidak banyak pengaruh. Saya masih buka seperti biasa, meski saya sudah ada rencana untuk tutup satu jam lebih cepat. Jumlah pesanan sendiri masih seperti biasa, belum terpengaruh pandemi. Apalagi pesanan memang lebih banyak dari online,” kata dia.
Managing Director Grab Indonesia, Neneng Goenadi, mengatakan para mitra UMKM menerapkan standar yang tinggi dalam menjalankan bisnisnya selama pandemi corona.
Misalnya, menjaga kebersihan dan standar keamanan makanan, serta mewajibkan karyawannya untuk memakai masker dan sarung tangan. Ditambah lagi karyawan dan pelanggan harus diperiksa suhu tubuh.
“ Kami mengembangkan sejumlah pedoman, perangkat, dan materi pelatihan baru yang dapat membantu mitra merchant untuk mengimplementasikannya dengan mudah ke dalam proses kerja harian mereka,” kata Neneng.
Jika salah satu mitra pengantaran GrabFood menunjukkan gejala seperti suhu tubuh tinggi, demam, pilek, atau batuk, mitra merchant dapat melaporkannya kepada tim layanan pelanggan Grab dan meminta mitra pengantaran lain untuk menggantikannya.
Selain itu, mitra merchant juga diminta untuk menerapkan physical distancing setidaknya 2 meter pada saat terjadi antrean. Mereka juga diwajibkan untuk meningkatkan frekuensi pembersihan area persiapan makanan dan lainnya, setidaknya setiap empat jam.
Semua karyawan yang menangani makanan harus mengenakan masker, sarung tangan, dan tutup kepala. Daging dan bahan mentah harus dijaga agar tetap higienis.
“ Semua pesanan makanan yang akan diantarkan harus disegel dengan benar untuk menghindari kontaminasi,” kata dia.