Dulu Pemulung, Kasdi Sujono Kini Lulus Universitas Beken di Amerika Serikat

Reporter : Sugiono
Selasa, 7 Juli 2020 08:33
Dulu Pemulung, Kasdi Sujono Kini Lulus Universitas Beken di Amerika Serikat
Mereka mencari makan dengan mengais sampah. Mengais pagi untuk makan pagi. Mengais siang untuk makan siang.

Dream - Ini adalah kisah pemuda inspiratif yang perlu dicontoh semua orang. Pemuda asal Malaysia, bernama Kasdi Nata Sujono, ini telah membuktikan bahwa kemiskinan bukanlah akhir kehidupan bagi manusia yang mau bekerja keras.

Pemuda 23 tahun itu memang menghabiskan masa kecil dalam bekapan kemiskinan. Sang ayah, Sujono Suhanda, yang saat ini sudah berusia 65 tahun, hanya bekerja sebagai buruh peternakan ayam. Sementara, sang ibu, Faimah Abdullah, hanya ibu rumah tangga biasa.

Keluarga Kasdi benar-benar harus menjalani hidup serba kekurangan. Untuk mengisi perut pun mereka harus mengais sampah busuk di tempat pembuangan akhir. Mereka memungut benda apapun yang bisa dijual.

" Hidup kami sangat susah. Ayah dan ibu harus keluar rumah ke tempat pembuangan sampah, mencari kursi rusak dan apa saja yang bisa diperbaiki dan dijual," kata kasdi, dikutip dari mstar.com.my, Senin 6 Juli 2020.

1 dari 5 halaman

Kasdi juga terjun ke tumpukan sampah. Selain membantu, dia juga memulung mainan yang masih bisa dipergunakan. Maklim, Kasdi tak pernah merasakan bermain dengan mainan baru.

" Saya juga mencari mainan untuk bermain karena ayah dan ibu tidak mampu membelikan saya mainan baru," tambah dia.

Bekapan kemiskinan itu justru menempa tekad Kasdi. Semangatnya semakin membaja. Saban hari belajar hingga larut malam di bawah temaram lilin. Maklum, rumahnya tidak memiliki saluran listrik.

Di dalam rumah sempit, yang dihuni bersama ayah, ibu, serta dua kakak dan dua adiknya, Kasdi giat belajar. Dari rumah temaram itu, Kasdi menjadi sosok yang mencorong di sekolah. Semua nilainya di sekolah dasar: A!

2 dari 5 halaman

Kasdi semula mendapat tawaran dari Sekolah Menengah Sains Kuching. Namun, sang ibu melarang karena takut Kasdi menjadi bahan cemoohan. Kasdi pun bersekolah di Sekolah Menengah Kebangsaan Balai Ringin dengan beasiswa.

Di sekolah itu, Kasdi tidak hanya belajar. Dia bekerja di koperasi untuk mendapat uang tambahan. Di sekolah menengah, nilai Kasdi juga kinclong.

" Saya bekerja sambilan agar bisa menabung untuk masa depan saya, kerana menjadi impian saya untuk memberi kehidupan yang lebih baik untuk keluarga saya," kata Kasdi.

Tekad Kasdi untuk menarik keluarganya dari kubangan kemiskinan sangatlah kuat. Pada 2013, pemuda kelahiran Balai Ringin, Sarian, wilayah yang berjarak 100 kilometer dari Kuching, itu melanjutkan studi ke Universitas Kebangsaan Malaysia di Bangi, Selangor.

3 dari 5 halaman

Namun sayang, Kasdi masuk kuliah tanpa beasiswa. Sehingga dia harus menggunakan uang tabungan untuk biaya kuliah. " Saya gunakan tabungan RM350 untuk tiket penerbangan dari Kuching ke Kuala Lumpur."

Kasdi juga membayar uang sekolah dengan tabungan sendiri. Dia harus membayar RM1.000. Karena merasa tak mampu, kasdi meminta keringanan. " Saya merayu kepada pihak sekolah untuk menunda pembayaran tersebut," kata dia.

Cobaan tak berhenti. Ayah Kasdi mengalami musibah saat bekerja dan mengalami cedera kaki, sehingga sulit berjalan. Keuangan keluarga Kasdi semakinporak-poranda.

Sang ibu terpaksa bekerja apa saja untuk membiayai anak-anaknya. Salah seorang kakaknya terpaksa berhenti kerja untuk menjaga ayah yang sakit.

" Keluarga saya tidak mampu lagi mengirimkan uang kepada saya kerana hidup mereka pun bak mengais pagi makan pagi, mengais petang makan petang," kata dia.

4 dari 5 halaman

Meski demikian, Kasdi tidak surut. Semangat belajarnya terus membara. Dia juga tidak pernah pulang kampung. Beruntung, Kasdi mendapat bantuan dari lembaga zakat di Malaysia. " Uang yang saya peroleh membantu saya membayar iuran," tutur Kasdi.

Saat libur kuliah pun Kasdi tak pulang kampung karena tak mampu membeli tiket mudik ke Sarawak.

" Apabila guru dan kawan-kawan saya tahu keadaan saya ini, ada beberapa kali mereka membantu membiayai tiket penerbangan untuk saya balik ke Sarawak. Seumur hidup saya berhutang budi kepada mereka," tambahnya.

Setelah lulus, Kasdi terbang ke Amerika Serikat. Dia mendapat beasiswa dari perusahaan minyak negaranya untuk menempuh pendidikan di bidang geologi di University of Colorado Boulder. " Bagai mimpi menjadi kenyataan dan saya sungguh tidak menjangkakannya," kata dia.

" Saya memang berminat dalam bidang geologi sejak awal belajar mata pelajaran ini dalam kelas geografi di tingkatan satu," tambah dia.

5 dari 5 halaman

Semasa belajar di University of Colorado Boulder, Kasdi tidak menyia-nyiakan waktu dan bekerja sambilan. Dia mencuci wajan, menjadi pelayan restoran. Dia juga mengajar.

Di samping itu, Kasdi juga melakukan banyak lagi kerja sambilan. Semua dijalani untuk mencari uang tambahan. " Kerja yang saya lakukan ini menjadikan saya lebih matang dan dapat mandiri dalam segi keuangan," katanya.

Tujuh bulan lalu, Kasdi tamat dari University of Colorado Boulder. Kini dia duduk sebagai Eksekutif Model Operasi di Unit Perdagangan Digital Petronas di Kuala Lumpur.

Dengan jabatan Kasdi, ditambah dua abang yang juga sudah bekerja, kehidupan keluarga yang dulu harus berjibaku di kubangan kemiskinan itu telah jauh berubah.

Sumber: mstar.com.my

Beri Komentar