Kemampuan Bahasa Inggris Orang Indonesia Masuk 30 Terbawah Dunia

Reporter : Alfi Salima Puteri
Selasa, 30 November 2021 13:36
Kemampuan Bahasa Inggris Orang Indonesia Masuk 30 Terbawah Dunia
Turun enam peringkat dibandingkan tahun lalu.

Dream - Perusahaan penyedia layanan pengajaran bahasa secara global, EF Education First, meluncurkan Laporan Indeks Kecakapan Bahasa Inggris atau EPI (English Proficiency Index) 2021.

Laporan ini memaparkan kecakapan Bahasa Inggris di dunia. Indonesia berada di peringkat 80 dari 112 negara atau turun enam peringkat dibandingkan tahun lalu.

Prof. Dr. McCormick, Wakil Presiden Bidang Akademik EF Education First mengatakan EF EPI 2021 ini dapat memberikan masukan yang berguna bagi para pembuat kebijakan dalam upaya meningkatkan kecakapan berbahasa Inggris di negara masing-masing.

“ Laporan ini bahkan memberikan gambaran adanya peningkatan kecakapan berbahasa Inggris pada hampir semua kalangan usia dewasa produktif di dunia,” jelas McCormick dalam konferensi pers virtual, Senin, 29 November 2021.

EF EPI adalah laporan terstandar dan objektif yang mengelompokkan kemampuan Bahasa Inggris dari negara-negara yang tidak menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa ibu mereka (non-native English speaking countries).

Laporan disusun dengan data kemampuan Bahasa Inggris dari 2 juta individu yang telah mengikuti EF Standard English Test (EF SET) atau model tes pengukuran kemampuan Bahasa Inggris lainnya yang disediakan oleh EF sepanjang 2020.

“ Dalam laporan ini, selain memaparkan pentingnya Bahasa Inggris dalam membantu meningkatkan taraf hidup individu dunia, secara luas Bahasa Inggris juga memungkinkan adanya peningkatan daya saing ekonomi,” ujar McCormick.

1 dari 6 halaman

Peringkat 80 dari 112

Menurut Johan Wilhelmsson selaku EF Adults Indonesia Country Manager, pemguasaan Bahasa Inggris yang baik akan mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi terlebih pada negara-negara dengan bonus demografi seperti Indonesia.

Pada tahun ini, capaian EPI Indonesia berada di peringkat 80 dari 112 negara atau turun enam peringkat dibandingkan dengan posisinya di tahun lalu. Dari segi skor EPI, Indonesia memperoleh 466 poin, sedikit meningkat dari skor tahun lalu yang ada di angka 453.

Meskipun terjadi peningkatan skor, tahun ini Indonesia masih tetap berada pada kategori rendah untuk kecakapan Bahasa Inggris.

Secara global, capaian skor EPI Indonesia bahkan masih berada di bawah rerata skor EPI global yang berada pada angka 503.

2 dari 6 halaman

Bagaimana dengan negara Asian Tenggara lain?

Ilustrasi© shutterstock

Dibandingkan dengan sejumlah negara tetangga, capaian EPI Indonesia pada tahun ini berada jauh di bawah Singapura, Filipina, dan Malaysia yang berhasil menempati posisi tiga besar EPI di kawasan Asia.

Singapura sebagai negara dengan capaian EPI tertinggi di Asia berhasil menempati peringkat empat EPI secara global dan masuk dalam kategori kecakapan sangat tinggi.

Adapun, Filipina dan Malaysia secara berturut berada pada peringkat 18 dan 28 secara global dan dikategorikan sebagai negara dengan kecakapan tinggi dari segi kemampuan Bahasa Inggrisnya.

Masih di kawasan Asia Tenggara, Vietnam juga berada pada peringkat yang lebih unggul dibandingkan dengan Indonesia, yakni berada pada peringkat 66 secara global dengan selisih skor EPI sebesar 20 poin dibandingkan Indonesia.

3 dari 6 halaman

Realita Sektor Pendidikan di Inggris, Pengajar Bergelar PhD Hidup di Tenda

Dream - Punya gelar tinggi dan berkarier di dunia pendidikan di Inggris rupanya tak menjamin kesejahteraan. Malah, ada pengajar yang terpaksa hidup serba kekurangan.

Seperti kebanyakan mahasiswa PhD, Aimee Le bertahan hidup dengan upah yang didapatnya per jam dari mengajar Bahasa Inggris. Tetapi, apa yang tidak pernah diduga oleh murid-muridnya adalah selama dua tahun mengajar, dia hidup di tenda.

Dikutip dari The Guardian, Le memutuskan tinggal di luar sebagai upaya terakhir ketika dia dihadapkan dengan kenaikan biaya sewa rumah yang melonjak tajam di tahun ketiganya menempuh jenjang PhD di Royal Holloway, University of London. Dia sadar tidak akan mampu membeli apartemen dari seluruh pendapatan dari hasil penelitian dan mengajar.

" Dingin. Itu adalah tenda kecil untuk satu orang. Tetapi ada hari-hari ketika saya bangun dan tenda saya berada di lingkaran salju. Ketika saya tidak sedang menyelesaikan PhD saya atau pekerjaan lain, saya belajar cara memotong kayu atau menyalakan api," kenang Le.

Dia menyimpan buku-buku di kantor pascasarjana agar tidak rusak dan mandi di kampus. Le mengaku tidak bisa memberi tahu orangtuanya karena bisa membuat mereka khawatir.

Le juga tidak bisa memberi tahu pihak kampus yang berkeras kesejahteraan semua mahasiswanya adalah hal penting dan mendorong siapa pun yang berjuang untuk mencari bantuan.

4 dari 6 halaman

Terpaksa Jadi Tunawisma

Le mengaku terpaksa menjalani kehidupan ganda. Tetapi, dia takut hal itu dapat merusak reputasi profesionalnya jika orang tahu dia tunawisma.

" Saya mendapat review bagus dari mahasiswa. Saya mendapat 300 GCSE di lobi hotel. Saya bahkan menyelenggarakan konferensi internasional. Saya bekerja dengan standar tinggi dan saya sangat fokus," ujar Le.

Pihak kampus dan College Union mengatakan nasib para akademisi muda untuk mendapatkan karier yang bagus semakin memburuk. Staf di 146 institusi pendidikan tinggi memiliki waktu hingga Kamis untuk memilih apakah akan melakukan pemogokan sekali lagi atas pembayaran yang tidak adi, beban kerja yang berlebihan, dan kontrak kasual.

" Saya pikir para mahasiswa memiliki perkiraan tinggi untuk gaji yang saya terima. Saya pikir itulah yang diasumsikan oleh mahasiswa dimana pun, bahwa kami adalah dosen dengan kontrak yang tepat. Saya beri tahu mereka bahwa bukan itu masalahnya, tetapi saya pikir jika saya memberi tahu mereka bahwa saya tinggal di luar (tenda) adalah langkah yang terlalu jauh," ungkap Le.

5 dari 6 halaman

Bertahan Hidup demi Tak DO

Penelitian yang diterbitkan Oktober 2021 mengungkap temuan hampir setengah dari sarjana terkenal di Universitas Cambridge, bekerja tidak tetap tanpa kontrak yang layak. UCU (serikat pekerja Inggris dalam pendidikan lanjutan) mengatakan ini merupakan ‘cerita akrab’ di seluruh negeri.

Le sendiri dianugerahi beasiswa tahunan sebesar 16 ribu poundsterling atau sekitar Rp311 juta selama tiga tahun dari Royal Holloway untuk meraih gelar PhD mengenai kelompok etnis minoritas dalam sastra Amerika. Dia meraih beasiswa tambahan dari AS, tempat asalnya, di tahun pertamanya kuliah.

Namun, sebagai mahasiswa internasional dia harus membayar 8.000 poundsterling, setara Rp155,8 juta setahun untuk biaya universitas (biaya yang dibebaskan untuk mahasiswa warga negara Inggris). Sehingga, dia hidup dengan 12 ribu poundsterling, setara Rp233,7 juta setahun, termasuk upahnya dari mengajar.

Le bilang sebelum tinggal di tenda, dia menempati aula pascasarjana dengan biaya murah sebelum akhirnya ditutup untuk renovasi di tahun kedua kuliahnya. Ketika hendak menyewa rumah, dia harus berhadapan dengan biaya sewa tambahan 3.000 poundsterling, setara Rp58,4 juta per tahun.

Le tak punya uang sebanyak itu. Bertekad untuk tidak drop out, akhirnya dia meminjam tenda dari seorang teman.

" Saya sangat takut. Saya menemukan ada kamp di dekat kampus jadi saya bertanya apakah saya bisa tinggal di sana sehingga saya tidak sendirian. Dan itu adalah awal dari dua tahun berikutnya," kata Le.

Saat berada di tendanya, dia menantikan ‘reward of stability’ setelah gelar PhD-nya. Dia tahu mungkin masih akan mengambil beberapa kontrak jangka.

6 dari 6 halaman

Berburu Pekerjaan

Le memperoleh gelar PhD pada 2018 dan mengajar anak-anak sekolah serta bekerja di kebun raya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sebelum mendapatkan dua tahun kontrak tetap mengajar menulis kreatif di Exeter University. Sekarang, dia tinggal bersama orang tuanya dan mencari pekerjaan lagi.

" Saya tidak tahu apa yang akan terjadi. Saya memiliki banyak wawancara, termasuk satu di Cambridge baru-baru ini, tetapi saya mulai mencari pada bulan April ketika saya masih bekerja. Saya merasa sangat gugup,” ucap Le.

Dia mengaku tidak tahu apakah dia benar untuk tidak menyerah dan terus berjuang.

" Sejujurnya saya kesulitan dengan pertanyaan itu. Ironisnya, saya pikir saya sangat cocok dengan pekerjaan itu. Saya tahu saya adalah guru yang sangat baik. Ini seperti sebuah panggilan,” ungkapnya.

Royal Holloway tidak tahu Le sedang kesulitan secara finansial. Seorang juru bicara mengatakan, " kami telah mendedikasikan tim penasihat dan kesejahteraan siswa yang ada di sini untuk mendukung siswa kami termasuk mahasiswa PhD dengan kesehatan dan kesejahteraan mereka."

Layanan termasuk konseling gratis, bantuan krisis, dan tim kesejahteraan keuangan dapat menawarkan informasi tentang pendanaan tambahan bagi mahasiswa yang memenuhi syarat.

Presiden UCU, Vicky Blake, mengatakan banyak orang masih terkejut mengetahui bahwa pendidikan tinggi adalah salah sektor paling santai dalam ekonomi Inggris. Setidaknya ada 75 ribu staf dengan kontrak tidak aman: pekerja yang dieksploitasi, dibayar rendah, dan sering didorong " ke tepi jurang" oleh tim manajemen senior yang mengandalkan niat baik dan budaya ketakutan.

Penelitian serikat pekerja menunjukkan sepertiga dari akademisi dipekerjakan dengan kontrak jangka waktu tetap. 41 persen dari akademisi yang mengajar saja memiliki kontrak yang dibayar per jam.
Wanita, orang kulit hitam, orang Asia, dan etnis minoritas lebih cenderung dipekerjakan secara tidak aman dan adil.

Beri Komentar