Efek Sri Mulyani Berakhir, Indeks Syariah Terjun Bebas

Reporter : Syahid Latif
Jumat, 29 Juli 2016 16:24
Efek Sri Mulyani Berakhir, Indeks Syariah Terjun Bebas
Meski asing mencetak nett buy hingga Rp 1,5 triliun, aksi asing

Dream - Efek Sri Mulyani sudah usai. Pelaku pasar ramai-ramai melepas portofolionya di pasar saham. Jelang libur akhir pekan, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) dan Jakarta Islamic Index (JII) pun ditutup melemah.

Koreksi indeks saham terjadi di tengah membanjir dana asing di pasar modal Indonesia. Nett buy asing mencapai Rp 15 triliun. Namun aliran dana asing ini tak cukup kuat menahan aksi lepas saham pemodal lokal.

Pada penutupan perdagangan harian Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat, 29 Juli 2016, indeks ISSI meluncur 2,411 poin (1,37%) ke level 173,745. Indeks bluechips syariah, JII, juga anjlok 13,844 poin (1,87%) ke level 726,610.

Transaksi jual beli saham syariah kali ini meningkat pesat hingga mencetak angka Rp 8,26 triliun. Sebanyak 57,18 miliar saham berpindahtangan dengan 91 emiten berhasil ditutup menguat.

Papan perdagangan ISSI sore ini didominasi pelemahan dengan 113 emiten syariah ditutup melemah dan 44 bertahan stagnan.

Dibuka melemah, indeks syariah sebetulnya sempat bergerak menguat. ISSI menyentuh level tertinggi di 177,583. Namun kekhawatiran kondisi regional yang melemah memaksa investor melakukan aksi jual saham.

Emiten barang konsumsi dibanjiri aksi jual setelah terjun bebas 5,41 persen. Diikuti manufaktur 3,25 persen, infrastruktur 1,76 persen, dan industri dasar 1,73 persen.

Indeks sektor industri aneka memimpin laju penguatan usai naik 3,69 persen. Disusul pertanian 0,39 persen, keuangan 0,08 persen, dan properti 0,05 persen.

Saham UNVR yang menguat beberapa hari terakhir, menjadi korban aksi jual saham. UNVR terjun bebas Rp 2750 per saham dan menjadi top losser. Diikuti SILO Rp 1.125, LPPF Rp 875, PTBA Rp 375, dan SMGR Rp 300 per saham.

Sementara saham dua kelompok usaha Astra, ASII dan UNTR mengisi daftar top gainer usai naik Rp 300 dan Rp 125 per saham. Disusul BSDE Rp 30, AKRA Rp 25, dan INCO Rp 20 per saham.

Dari pasar keuangan, kurs rupiah juga dilanda tekanan. Sore ini rupiah turun 27 poin (0,21%) menjadi 13.118 per dolar AS.

Beri Komentar