Garuda Resmi Batalkan 49 Pesanan Boeing 737 Max 8

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Jumat, 22 Maret 2019 11:45
Garuda Resmi Batalkan 49 Pesanan Boeing 737 Max 8
Ada 49 pesawat yang belum dibuat produsen asal Amerika Serikat ini.

Dream – PT Garuda Indonesia Tbk (Persero) memutuskan membatalkan seluruh pesanan pesawat Boeing Boeing 737 Max 8. Perusahaan pelat merah ini diketahui masih memiliki pesanan 49 pesawat yang belum dikirim oleh Boeing.

Komisaris Utama Garuda Indonesia, Agus Santoso mengatakan manajemen Garuda sudah menyurati surat kepada Boeing terkait pembatalan pemesanan.

“ Sudah dikirimkan surat kepada Boeing soal pembatalan pemesanan ini,” kata Agus dikutip dari Liputan6.com, Jumat 22 Maret 2019.

Agus mengatakan keputusan membatalkan seluruh pesawat tersebut telah melalui banyak pertimbangan. Selain berbagai temuan dari kecelakaan Lion Air PK-LQP dan Ethiopian Airlines, manajemen Garuda juga mengungkapkan banyak penumpang yang sudah tak lagi percaya dengan pesawat terlaris tersebut. 

“ Selanjutnya ada keputusan otoritas untuk melakukan grounded. Ini menjadi alasan kuat kami untuk memutuskan pembatalan pemesanan ini,” kata dia.

Saat ini, Garuda memiliki satu unit Boeing 737 Max 8. Pesawat ini digunakan oleh Garuda untuk melayani rute luar negeri, seperti Singapura.

(Sumber: Liputan6.com/Ilyas Istianur Praditya)

1 dari 2 halaman

Boeing 737 MAX Tak Lagi Terbang, Rp8500 Triliun Bakal Melayang

Dream – Boeing kembali terpuruk akibat kecelakaan pesawat Ethiopian Airlines. Kecelakaan tragis pesawat Boeing 737 Max 8 menyebabkan 157 penumpang dan kru kabin maskapai itu tewas.

Musibah yang dialami Ethiopian Airlines hanya berselang 5 bulan dari kecelakaan Lion Air JT-610. Pesawat yang dipakai bertipe sama. 

Dua kecelakaan beruntun dalam waktu kurang dari setahun membuat banyak maskapai mempertimbangkan pembatalan pemesanan jet komersial terlaris ini.

Dikutip dari Los Angeles Times, Jumat 15 Maret 2019, kecelakaan di Addis Ababa mendorong banyak negara melarang terbang sementara untuk pesawat 737 Max 8. Lebih jauh, maskapai banyak yang berpikir untuk membatalkan pesawat ini.

Ethiopian Airlines diketahui tengah mempertimbangkan kembali pembelian pesawat senilai US$57 miliar (Rp813,72 triliun) itu.

Vietjet Aviation juga memutuskan untuk mengkaji kembali pesanan 200 pesawat senilai US$25 miliar (Rp356,89 triliun). Diikuti Kenya Airways yang dikabarkan berpaling ke Airbus A320.

Sementara itu, Utair Aviation dari Rusia meminta jaminan sebelum menerima pengiriman 30 pesawat pertama senilai US$3,65 miliar (Rp521,07 triliun).

Di Indonesia, Lion Air mencoba untuk membatalkan pesanan senilai US$22 miliar (Rp314,06 triliun) untuk 737 Max 8. Menurut sumber, maskapai ini melirik pesawat jet Airbus.

Sejak peristiwa nahas di Addis Ababa, saham Boeing melorot sampai 10,7 persen. Perusahaan ini menghadapi risiko keuangan yang meningkat setelah dua bencana yang melibatkan jet komersial dalam lima bulan terakhir.

Sekadar informasi, pesawat 737 Max 8 ini merupakan model yang laris manis. Boeing menerima lebih dari 5 ribu pesanan untuk jenis itu. Nilainya mencapai US$600 miliar (Rp8.565,49 triliun).

“ Berita jangka pendek bisa menjadi lebih buruk bagi Boeing,” kata analis Cowen and Co, Cai von Rumohr.

Rumohr tidak melihat ada potensi kerugian jangka panjang. Alasannya, perusahaan pembuat pesawat itu sudah mempersiapkan pembaruan software untuk kendali penerbangan.

“ Kami tidak melihat ada risiko jangka panjang yang berarti,” kata dia.

Bagaimana dengan maskapai? RT.com menyebut maskapai berpotensi merugi hingga miliaran dolar AS akibat larangan terbang sementara. Mereka harus mencari pengganti pesawat 737 Max 8 swecara cepat.

Maskapai penerbangan tak punya pilihan lain. Satu-satunya pesawat yang bisa dilirik sebagai alternatif jet 737 Max 8 adalah Airbus, yaitu Airbus A320.

2 dari 2 halaman

Reputasi Boeing Terancam

Tak hanya kerugian, reputasi Boeing juga berada di ujung tanduk. Dikutip dari USA Today, pengamat industri dari CFRA Research, Jim Corridore, mengatakan bahaya yang dihadapi Boeing setelah insiden kecelakaan pesawat di Indonesia dan Ethiopia adalah bisnis dan reputasi.

“ Tapi ini bergantung dari hasil investigasi dan reaksi Boeing,” kata Corridore.

Bicara tentang reputasi, lembaga pemeringkat utang, Fitch Ratings belum bisa memastikan akan menurunkan peringkat utang Boeing. Peringkat utang Boeing bisa dipangkas jika larangan terbang dan penundaan pengiriman bisa dilakukan berbulan-bulan.

“ Larangan terbang dan penundaan pengiriman pesawat beberapa bulan bisa mempengaruhi peringkat perusahaan,” kata Fitch and Ratings.

Dikatakan pula bahwa pesawat jet MAX merupakan program kunci produsen ini. Pesawat jet itu bisa menghasilkan pendapatan senilai US$27 miliar-US$30 miliar (Rp385,45 triliun—Rp428,27 triliun). Dengan adanya insiden kecelakaan di Indonesia dan Ethiopia, lembaga pemeringkat ini akan memantau terus sentiment pasar terhadap Boeing.

“ Kami juga akan terus memantau efek kecelakaan terhadap sentiment publik terhadap pesawat MAX. Kerusakan reputasi bisa menjadi sangat penting walaupun Boeing telah melewati episode kecelakaan sebelumnya,” kata lembaga ini. 

Beri Komentar
Cara Samuel Rizal Terapkan Hidup Sehat Pada Anak