Gojek Rampungkan Pendanaan dari Google dan Tencent, Nilainya Rp13 T?

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Jumat, 1 Februari 2019 15:45
Gojek Rampungkan Pendanaan dari Google dan Tencent, Nilainya Rp13 T?
Perusahaan akan menggunakan dananya untuk ekspansi bisnis termasuk membuka layanan di luar negeri.

Dream – Perintis transportasi online, PT Gojek Indonesia telah merampungkan fase awal pendanaan seri F. Santer beredar nilai pendanaan yang dikucurkan tersebut mencapai US$ 1 miliar atau sekitar Rp13,9 triliun.

Tiga investor kakap dalam pendanaan seri F ini berasal dari Google, JD.com, dan Tencent yang menjadi leader. Dua perusahaan lainnya adalah Mitsubishi Corporation dan Provicent Capital.

" GOJEK telah sukses mempelopori model (multi-sided platform) dimana jutaan pengguna dapat mengakses berbagai layanan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," kata Nadiem Makarim, CEO GOJEK Group dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 1 Februari 2019. 

Nadiem tak menjelaskan berapa nilai pendanaan yang diperolehnya pada pendanaan seri F Gojek tersebut. Namun mengutip Straits Times, sumber di kalangan industri menyebut nilai investasi yang didapatkan lebih dari US$1 miliar (Rp13,96 triliun).

Investasi ini akan menjadikan valuasi perusahaan transportasi online mencapai US$8 miliar-US$10 miliar (Rp111,72 triliun-Rp139,66 triliun).

Gojek menyebutkan pendanaan yang telah diperoleh perusahaan akan digunakan untuk meningkatkan penetrasi pasar untuk setiap bisnisnya. Perusahaan yang digawangi Nadiem Makarim ini juga ingin memperkuat posisinya di Asia Tenggara seiring dengan ekspansinya di Singapura, Vietnam, dan Thailand.

Setelah penutupan seri F, para pendiri Gojek akan tetap memegang kendali dalam pengambilan keputusan dan penentuan arah kebijakan perusahaan. Tujuannya agar mereka bisa merealisasikan visi jangka panjang perusahaan. Plus, melakukan ekspansi dan pengembangan bisnis yang pesat.

Nadiem mengatakan Gojek yang berawal dari bisnis ojek, telah berhasil menjadi pemimpin industri di berbagai layanan utama, seperti transportasi, pesan-antar makanan, pembayaran digital, logistik, dan layanan mitra usaha hanya dalam waktu sekejap.

GO-FOOD bahkan diklaim telah menjadi layanan pesan-antar makanan terbesar di Asia Tenggara. Sementara data dari Financial Time Research menyebutkan GO-PAY menjadi platform pembayaran digital yang memfasilitasi tiga perempat dari pengguna mobile payment di Indonesia.

“ Kesuksesan yang telah kami capai hingga hari ini merupakan bukti keahlian dan kejelian GOJEK dalam menciptakan dampak sosial positif secara luas, dan di saat yang sama juga menciptakan value untuk investor kami," ujarnya.

Menurut Nadiem, putaran pendanaan ini menunjukkan kepercayaan serta keyakinan investor terhadap kemampuan perusahaan dalam mewujudkan visinya.

Perusahaan juga melanjutkan kemitraan strategisnya dengan JD.com, perusahaan patungan e-commerce Indonesia, JD.id, dan perusahaan patungan pengiriman logistik last mile, J-Express (JX).

Kemitraan ini akan melibatkan kolaborasi dalam solusi pembayaran, pemasaran, dan TI dengan JD.id, memungkinkan platform e-commerce untuk menjangkau lebih banyak konsumen Indonesia.

Sementara JX akan bekerja dengan jaringan kurir Gojek untuk menyediakan pelanggan dengan cakupan logistik nasional.

GOJEK merupakan platform mobile on-demand dan pembayaran digital terbesar di Asia Tenggara dengan total gross transaction value (GTV) lebih dari US$9 miliar dan total volume transaksi setahun mencapai 2 miliar pada akhir 2018.

Kinerja ini mengukuhkan kepemimpinan GOJEK di layanan pembayaran digital dan pesan-antar makanan. Ekosistem GO-PAY memproses US$6,3 miliar GTV, sementara GO-FOOD memproses US$2 miliar GTV di tahun sepanjang tahun 2018 - menjadikan GO-FOOD layanan pesan-antar makanan terbesar di Asia Tenggara.(Sah)

1 dari 2 halaman

Rencana Gojek `Ngojek` di Filipina Terhadang

Dream – Ambisi perintis usaha ojek online Indonesia, Gojek, untuk melebarkan sayap ke Filipina menghadapi tantangan. Regulator transportasi Filipina menolak PT Karya Anak Bangsa (Gojek) rencana Gojek yang ingin meluncurkan jasa transportasi di negara tersebut.

Otoritas setempat beralasan keinginan Gojek terganjal aturan kepemilikan asing. 

Larangan ini bisa menghambat Gojek menjadi perusahaan penyedia jasa transportasi terbesar di Asia Tenggara. Sekadar informasi, pasar ini dikuasai oleh rivalnya, Grab.

Ketua Otoritas Transportasi Darat Filipina, Martin Delgra, Dikutip dari Channel News Asia, Rabu 9 Januari 2019 menyatakan instansinya menolak permintaan anak usaha Gojek, Velox Technology Philippines karena dinilai tak memenuhi syarat kepemilikan lokal.

“ Aplikasi pengajuan tak sesuai dengan aturan kami,” kata Delgra.

Regulasi Filipina membatasi kepemilikan asing hingga 40 persen untuk industri tertentu. Saat ini, Grab menjadi penyedia transportasi online terbesar di Filipina.

Delgra mengatakan Grab patuh terhadap regulasi di negara itu. Melalui anak usaha lokalnya, MyTaxi, Grab mematuhi ketentuan yang diminta dalam regulasi Filipina. Sedangkan Velox sampai saat ini masih dikuasai sepenuhnya oleh Gojek.

“ Kalau mereka ingin mengajukan banding, itu adalah pilihan mereka,” kata dia.(Sah)

2 dari 2 halaman

8 Tahun Pimpin Gojek, Ini yang Dipetik Nadiem Makariem

Dream – Sebagai bos PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Gojek Indonesia), Nadiem Makarim bertanggung jawab terhadap bisnis yang dikembangkan di lima negara dan satu juta mitra pengemudi. Perjalanan menumbuhkan Gojek tidaklah mulus.

Namun ada satu hal yang dipetik Nadiem tentang manajerial perusahaan. Pelajaran itu adalah tidak selalu merasa menjadi seorang pemimpin.

“ Sebagai seorang pendiri, kamu merasa tahu apa yang paling tepat untuk bisnis. Itu memang alami untuk memiliki insting itu,” kata Nadiem di acara Managing Asia, dikutip dari CNBC, Rabu 4 Juli 2018.

Akan tetapi, sikap ini bisa menjadi bumerang untuk para pemimpin perusahaan. Maka, tak jarang pemimpin membohongi diri sendiri tentang hal itu.

“ Semakin besar tinggi posisimu dan semakin besar perusahaanmu, orang-orang akan semakin ragu memberi tahu apa yang dipikirkan,” kata dia.

Pria kelahiran 1984 ini mengatakan, pemimpin perusahaan harus menemukan gaya kepemimpinan yang tepat untuk memimpin perusahaan. “ Jika tidak, kamu akan merasa sangat tidak berguna dengan cepat,” kata dia.

Lalu, bagaimana gaya Nadiem memimpin di perusahaannya? Dia mengajak karyawannya untuk berdiskusi dalam mengambil keputusan, dari bisnis ojek sampai layanan kecantikan. Kepercayaan diri karyawannya pun didorong.

“ Banyaknya orang dan cara yang berbeda-beda untuk mencapai sebuah visi merupakan sesuatu yang sangat menguntungkan. Dikelilingi orang-orang yang mampu berkata ‘tidak’ dan mengajukan cara lain itu penting,” kata dia.

[crosslink_1]

Beri Komentar
Istri Akui Cemburuan, Daus Mini: Coverboy Sih Nggak ya