Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dream - Bank-bank Indonesia menghadapi pertumbuhan kredit yang lebih lambat dan ekonomi melemah, di saat Federal Reserve sedang bersiap untuk menaikkan tingkat suku bunga.
Direktur Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Fauzi Ichsan mengatakan, para pengambil kebijakan sedang bekerja menentukan bank yang akan diselamatkan dengan membuat daftar sistemik.
Selain itu, lanjutnya, DPR juga akan meloloskan undang-undang tahun ini yang menetapkan aturan tentang dana talangan.
LPS adalah lembaga penjamin simpanan nasabah yang akan mengganti setiap pinjaman jika terjadi kegagalan pada bank.
Bank Indonesia yang memiliki jumlah kredit terbesar termasuk PT Bank Central Asia (BCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia (BRI), menghadapi pertumbuhan kredit lebih lambat dan pelemahan ekonomi di saat Federal Reserve sedang mempersiapkan diri untuk menaikkan tingkat suku bunga.
Langkah Amerika Serikat (AS) tersebut berpontensi menciptakan lebih banyak gangguan di pasar negara berkembang.
Sementara itu nilai tukar rupiah terhadap dolar AS telah merosot tajam, dengan nilai sekitar 14.400 per dolar AS. Rupiah merupakan mata uang dengan performa terburuk kedua di Asia tahun ini. Kendati demikian volatilitas pasar memberikan dampak positif bagi Indonesia untuk menopang sistem perbankan, Ichsan mengatakan dalam sebuah wawancara di Jakarta, Selasa.
"Banyak dari kita senang ada gejolak pasar, memaksa parlemen untuk fokus pada hal itu," kata mantan ekonom Standard Chartered di Jakarta ini.
"Mereka cenderung setuju dengan kami bahwa kita perlu landasan hukum yang lebih kuat untuk menjaga kebangkrutan masa depan."
Bank-bank Indonesia yang masuk daftar sistemik harus memiliki beberapa syarat, termasuk kecukupan modal dan tambahan modal cadangan, katanya.
Rasio kecukupan modal industri perbankan masih tinggi 20 persen dan rasio kredit macet (non-performing loan) masih 2,6 persen. Keduanya masih lebih baik daripada saat terjadi krisis kredit global sehingga tidak ada pemberi pinjaman saat ini yang dianggap sebagai gagal. "Ini bukan krisis, itu turbulensi," katanya.
Rencana untuk memasukkan bank-bank ke dalam daftar sistemik sejalan dengan upaya internasional yang dipimpin oleh Komite Basel dan Dewan Stabilitas Keuangan, yang telah merancang sebuah kerangka kerja yang luas bagi bank yang dianggap berpeluang besar untuk gagal di tingkat global dan domestik setelah krisis keuangan global tahun 2008.
Beberapa bank Indonesia sudah terkena dampak dari industri komoditas yang melemah, namun belum sampai membuat krisis perbankan yang meluas, katanya. Risiko kreditur Indonesia bisa meningkat jika pertumbuhan ekonomi tergelincir lebih jauh dan pelemahan rupiah terus memburuk, kata Fauzi.
"Jika pertumbuhan PDB turun di bawah 4 persen maka itu akan mengkhawatirkan. Termasuk jika rupiah tembus 16.000 per dolar AS," katanya. (Ism)
Advertisement

Benarkah Kecerdasan Manusia Menurun? Studi Ungkap Tren Mengkhawatirkan Sejak 2012

Mengapa Anak Suka Makan Upil? Sains Punya Penjelasan di Balik Kebiasaan Ini

Kurang Tidur Bisa Ganggu Gula Darah dan Kesehatan Jantung, Olahraga 10–15 Menit Ini Bisa Membantu

Sering Buang Angin Tanpa Sebab Jelas? Kebiasaan Mengunyah Permen Karet Bisa Jadi Pemicunya

IHSG Lanjutan Menguat ke Level 5.387, Saham Bank Pelat Merah Bermekaran

Teori Lipstik: Mengapa Penjualan Lipstik Mewah Bisa Meningkat Saat Ekonomi Memburuk?

Suka Camilan Gurih Dan Renyah? Ini Pilihan Untuk Temani Aktivitas Sehari-hari