Makin Kompleks, OJK Ingatkan Industri Keuangan Syariah Terus Berinovasi

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Selasa, 15 Oktober 2019 18:36
Makin Kompleks, OJK Ingatkan Industri Keuangan Syariah Terus Berinovasi
Selama 20 tahun, industri ini berkembang pesat.

Dream Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan pelaku industri jasa keuangan syariah nasional membuat berbagai terobosan untuk bersiap menghadapi perkembangan yang semakin kompleks. 

Selama dua dekade terakhir, OJK mencatat industri baru ini telah menggapai banyak capaian dan kemajuan. Capaian ini dilihat dari aspek kelembagaan, infrastruktur penunjang, regulasi dan sistem pengawasan, serta kesadaran dan literasi masyarakat terhadap layanan jasa keuangan syariah.

“ Perkembangan industri jasa keuangan yang cepat dan dinamis telah membuka peluang inovasi bagi industri keuangan syariah untuk lebih fokus pada nilai-nilai yang terkandung pada konsep Responsible Finance and Investment (RFI),” kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hoesen, dalam pembukaan Forum Riset Ekonomi dan Keuangan Syariah (FREKS) 2019 di Yogyakarta, dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Dream, Selasa 15 Oktober 2019.

Menurut Hoesen, salah satu potensi yang bisa digali adalah dana sosial wakaf, zakat dan sedekah yang bisa dipadukan dengan pengembangan produk dan jasa keuangan syariah.

Pengembangan potensi baru ini bisa tercapai jika didukung berbagai riset dan ide-ide kreatif  dari akademisi ataupun masyarakat pelaku industri. OJK melihat area riset keuangan syariah relatif belum tersentuh.

Selain itu, OJK juga mengingatkan pelaku industri untuk berpedoman pada Master Plan Ekonomi Syariah Indonesia (MEKSI) yang disusun oleh Komite Nasional Keuangan Syariah. 

1 dari 6 halaman

OJK: Generasi Milenial Motor Keuangan Syariah

Dream – Perkembangan teknologi saat ini tak bisa dibendung dan telah merambah ke seluruh sendi kehidupan masyarakat. Perkembangan teknologi yang pesat bisa memperbesar potensi ekonomi dan keuangan syariah.

“ Ini harus kita manfaatkan untuk memacu perkembangan industri halal dan keuangan syariah,” kata Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Wimboh Santoso, dalam “ Sharia Investment and Economic Summit 2019” di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Dream, Senin 13 Mei 2019.

Wimboh mengatakan generasi milenial merupakan generasi yang inovatif, kreatif, dan melek teknologi. Generasi ini bisa menjadi mendorong pertumbuhan industri halal dan keuangan syariah.

“ Saya sangat berharap generasi muda kita ini menjadi mesin penggerak industri halal dan keuangan syariah kita,” kata dia.

 

 

Wimboh mengatakan teknologi bisa mempermudah dan mempercepat proses bisnis. Jangkauannya pun bisa semakin luas.

“ Di sektor jasa keuangan kita juga melihat transformasi yang telah dan akan terus terjadi, di mana saat ini kita mengenal istilah branchless banking, digital banking, insurtech dan futuready, online trading, investasi melalui marketplace dan e-money atau fintech payment,” kata dia.

2 dari 6 halaman

Kenapa Milenials?

Wimboh berharap generasi milenial bisa menjadi wirausahawan muda industri halal, investorm atau konsumen produk halal dan jasa keuangan syariah.

Dia mengungkapkan empat alasan generasi milenial bisa jadi motor industri halal dan keuangan syariah.

Pertama, berdasarkan data statistik Indonesia pada 2018, jumlah generasi milenilai pada usia 20 tahun—34 tahun lebih dari 100 juta orang. Jumlahnya akan meningkat jadi 4,7 miliar pada 2030.

Kedua, terdapat 142,6 juta penduduk pengguna internet. Ketiga, ada 177,9 juta penduduk menggunakan smartphone.

Keempat, jaringan tol langit akan segera menghubungkan seluruh wilayah Indonesia dengan akses internet cepat.

“ Kombinasi antara perkembangan teknologi dan besarnya penduduk muslim dan penduduk usia millenial, seharusnya dapat ditangkap oleh penggiat ekonomi syariah sebagai peluang untuk semakin mendorong perkembangan industri halal dan keuangan syariah,” kata dia. (ism) 

3 dari 6 halaman

Dua Industri Ini Diharapkan Kerek Literasi Keuangan Syariah

Dream – Tingkat literasi dan inklusi keuangan syariah di Indonesia masih rendah. Keberadaan industri 4.0 dan industri halal diprediksi bisa mengerek angka literasi keuangan syariah.

Dikutip dari keterangan tertulis BNI Syariah, Kamis 28 Maret 2019, berdasarkan data Otositas Jasa Keuangan (OJK), angka literasi keuangan syariah hanya 8 persen. Angkanya lebih rendah daripada literasi keuangan konvensional yang sebesar 30 persen.

Sementara itu, untuk inklusi keuangan syariah baru sebesar 11 persen. Angkanya lebih rendah daripada angka inklusi nasional yang sebesar 30 persen. Padahal, Indonesia merupakan negara yang penduduk Muslim-nya terbanyak di dunia.

 

 

Direktur Utama PT BNI Syariah, Abdullah Firman Wibowo, mengatakan, keberadaan industri halal dan industri 4.0 bisa meningkatkan literasi keuangan syariah.

" Dengan adanya industri 4.0 dan potensi industri halal yang masih belum banyak berkembang diharapkan bisa meningkatkan literasi dan inklusi industri keuangan syariah," kata Firman dalam pidatonya di kuliah umum di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Surabaya, Jawa Timur.

4 dari 6 halaman

Beri Fasilitas Pembiayaan Syariah untuk Universitas Muhammadiyah Surabaya

Selain kuliah umum di UM Surabaya, BNI Syariah juga menggandeng kampus tentang produk dan jasa layanan perbankan, yaitu bisnis pembiayaan.

Perjanjian kerjasama ini ditandatangani oleh Pemimpin BNI Syariah Wilayah Timur, Imam Hidayat Sunarto ,dan Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya, Sukadiono, di Universitas Muhammadiyah Surabaya.

 BNI Syariah bekerja sama dengan UM Surabaya untuk pembiayaan syariah.

Imam mengatakan perjanjian kerja sama ini terkait dengan fasilitas pembiayaan BNI Flexi iB Hasanah untuk karyawan dan dosen Universitas Muhamaddiyah Surabaya,

Potensi bisnis pembiyaaan di Universitas Muhammadiyah Surabaya ini cukup besar. Sampai saat ini, jumlah karyawan dan dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya masing-masing sebanyak 143 dan 294 orang.

Per 2018, BNI Syariah tercatat telah menyalurkan pembiayaan produktif ke Universitas Muhammadiyah Surabaya sebesar Rp25 miliar.

5 dari 6 halaman

Keunikan Wakaf yang Tak Ada di Instrumen Keuangan Syariah Lain

Dream - Dalam ekonomi syariah, ada satu instrumen yang khas, yaitu wakaf. Instrumen yang satu ini punya satu hal yang tak ada di produk keuangan syariah lainnya yaitu aset.

Corporate Director Karim Consulting Indonesia, Muhammad Yusuf Helmy, menjelaskan bahwa wakaf tidak boleh menggunakan aset yang habis sekali pakai. Aset yang digunakan itu bersifat berkelanjutan.

" Zakat bisa diberikan dengan beras. Beras habis sekali pakai. Tapi, wakaf bisa pakai beras? Tidak bisa," kata Yusuf dalam " Potensi Pemanfaatan Wakaf Asuransi bagi Pertumbuhan Ekonomi Nasional" di Menara Prudential, Jakarta, Selasa, 15 Mei 2019.

Menurut Yusuf, aset untuk wakaf saat ini juga mengalmai perkembangan pesat. Dahulu, masyarakat menilai benda yang bisa diwakafkan adalah aset tak bergerak seperti tanah. Tak heran muncul pandangan jika orang yang bisa berwakaf adalah orang kaya yang punya tanah.

 

 

Kini, harta yang bisa diwakafkan adalah aset bergerak, seperti logam mulia, kendaraan, dan uang. Semua orang pun juga tak perlu menunggu kaya untuk berwakaf. 

Untuk wakaf uang, pengelola wakaf (nazir) " mengkonversi" aset bergerak menjadi sesuatu yang bermanfaat.

" Kini, orang tak harus menunggu kaya. Hari ini bisa saweran bangun rumah sakit, jalan tol," kata dia.

6 dari 6 halaman

Dua Jenis Wakaf

Yusuf mengatakan, untuk tujuan, wakaf terbagi menjadi dua, yaitu wakaf ahli dan wakaf khairi. Wakaf ahli ini bersifat terbatas. Misalnya, lahan wakaf untuk kuburan keluarga.

Wakaf yang satu ini kini menjadi minoritas karena penggunannya yang terbatas.

Yang satu lagi adalah wakaf khairi alias wakaf yang bisa ditujukan bagi pengembangan agama dan masyarakat umum. Semua orang bisa menggunakan aset yang diwakafkan.

" Misalnya, wakaf untuk pembangunan infrastruktur," kata dia.(Sah)

Beri Komentar
Tutorial Ikuti Audisi LIDA 2020 Indosiar di KapanLagi Lewat Handphone