Mandiri Syariah Fokus 5 Sektor Pembiayaan Demi Tumbuh 11%

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Senin, 11 Maret 2019 17:45
Mandiri Syariah Fokus 5 Sektor Pembiayaan Demi Tumbuh 11%
Untuk mencapai target, Mandiri Syariah lakukan ini.

Dream – PT Bank Syariah Mandiri (Mandiri Syariah) membidik pertumbuhan bisnis pembiayaan sekitar 11,2 persen pada tahun ini. Direktur Utama Mandiri Syariah, Tony E. B. Subari menegaskan sumber pertumbuhan bakal berasal dari pembiayaan ritel dan wholesale.

" Pertumbuhan Insya Allah, 15-16 persen di ritel dan wholesale 9-10 persen," kata Tony di Jakarta, Senin, 9 Maret 2019.

Untuk mencapai target itu, kata Tony, Mandiri Syariah akan lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan. Perusahaan menetapkan akan ada lima sektor pembiayaan yang menjadi fokus Mandiri Syariah diantaranya infrastruktur dan kesehatan.

“ Tak semua sektor kami pilih,” kata dia.

Sekadar informasi, pembiayaan Mandiri Syariah tumbuh 11,63 persen dari Rp60,69 triliun pada 2017 menjadi Rp67,75 triliun pada 2018. Rinciannya, pembiayaan ritel Mandiri Syariah tumbuh 15,49 persen dari Rp34,59 triliun pada 2017 menjadi Rp39,95 triliun pada 2018.

Sementara, pembiayaan wholesale tumbuh 6,5 persen year on year (yoy) dari Rp26,1 triliun menjadi Rp27,79 triliun.

“ Ini sesuai dengan strategi yang dicanangkan oleh manajemen. Dipilih hati-hati sekali,” kata Direktur Wholesale Banking Mandiri Syariah, Kusman Yandi.(Sah)

1 dari 1 halaman

2018, Laba Mandiri Syariah Meroket 65,7 Persen

Dream – PT Bank Syariah Mandiri (Mandiri Syariah) membukukan laba bersih sebesar Rp605 miliar pada 2018. Laba bersih ini meningkat sebesar 65,74 persen dari 2017 yang sebesar Rp365 miliar.

" Alhamdulillah, laba bersih kami naik 65,74 persen," kata Direktur Utama Mandiri Syariah, Tony E. B. Subari, di Jakarta, Senin 11 Maret 2019.

Tony mengatakan pertumbuhan laba bersih ini disokong oleh pertumbuhan di sektor lainnya, yaitu aset, pembiayaan, dan dana pihak ketiga. Pada 2018, aset Mandiri Syariah meningkat 11,83 persen dari 2017 yang sebesar Rp87,94 triliun menjadi Rp98,34 triliun serta pembiayaan meningkat 11,63 persen dari Rp60,69 triliun pada 2017 menjadi Rp67,75 triliun.

" Pertumbuhan pembiayaan ini diiringi dengan perbaikan kualitas," kata Tony.

Anak usaha PT Bank Mandiri Tbk (Persero) ini menekan rasio pembiayaan bermasalah (non performing financing/NPF) nett dari 2,75 persen menjadi 1,5 persen.

Tony mengatakan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh sebesar 12,3 persen dari Rp77,9 triliun pada 2017 menjadi Rp87,47 triliun pada 2018. Komposisi DPK ini didominasi oleh low cost fund. Dana murah tercatat sebesar Rp44,46 triliun atau tumbuh 10,16 persen.

" Porsi low cost fund itu 50,82 persen dari DPK," kata dia.

Untuk tahun 2019, Tony membidik pertumbuhan pembiayaan sebesar 11,2 persen, DPK 10-12 persen, serta laba 50-60 persen.

Beri Komentar
Suasana Cair Roger Danuarta dan Ayah Cut Meyriska di Meja Makan