Ini Negara-negara Penguasa Keuangan Mikro Islami

Reporter : Syahid Latif
Jumat, 16 Mei 2014 09:07
Ini Negara-negara Penguasa Keuangan Mikro Islami
Bukan Indonesia, Dubai, ataupun Malaysia yang menguasai keuangan mikro syariah di dunia. Dengan dua juta nasabah aktif, dua negara mendominasi bisnis keuangan ini. Siapa mereka?

Dream - Keuangan mikro syariah telah mampu menyentuh 2 juta pebisnis kecil dan masyarakat cilik di seluruh dunia. Sistem keuangan syariah ini dianggap telah memuaskan penduduk di sejumlah negara.

CEO Al-Huda Center of Islamic Banking and Economics (CIBE), Muhammad Zubair Mughal mencatat, sejumlah negara telah menggunakan sistem keuangan Islami untuk mendukung keuangan mikro.

Dari sejumlah negara Islami anggota OKI, CIBE mencatat nasabah aktif lembaga keuangan mikro syariah terbanyak berasal dari Sudan dan Pakistan. Di Sudah tercatat lebih dari 700 ribu nasabah aktif menerima pembiayaan dari lembaga keuangan mikro syariah.

Sementara Pakistan menjadi negara kedua dengan nasabah keuangan mikro syariah terbanyak berjumlah 400 ribu klien. Selain dua negara tersebut, CIBE juga mencatat Yaman, Indonesia, Bangladesh, sebagai negara dengan nasabah keuangan mikro syariah terbanyak.

Tak lupa ada juga negara lain seperti Maroko, Senegal, Nigeria, dan Tunisia yang mengaku puas dengan model keuangan mikro Islami tersebut.

Zubair mengakui, beberapa negara seperti Nigeria, India, Tanzania, dan Ethiopia, memang telah menerapkan sistem keuangan mikro syariah. Sayangnya, negara itu hanya mengkhususkan sistem keuangan ini bagi masyarakat muslim.

" Keuangan mikro syariah harus digunakan sebagai model bisnis bukan sebagai intervensi agama. Keuangan mikro syariah adalah sistem yang dapat digunakan dan dioperasikan oleh semua segmen masyarakat tanpa memandang agama apapun," katanya.

Menurut Zubair, manfaat penerapan keuangan mikro syariah bagi umat Islam adalah menjadi model bisnis yang sesuai dengan keyakinan agamanya. Sementara bagi masyarakat non-Muslim, keuangan mikro syariah adalah instrumen keuangan yang ideal untuk pengentasan kemiskinan dan pengangkatan derajat sosial.

Meski berkembang, Zubair menilai masih banyak kendala yang masih perlu diatasi dalam mengembangkan keuangan mikro syariah ini. Persoalan seperti minimnya organisasi yang mau menjalankan model bisnis syariah, kurangnya kualitas dan keahlian teknis SDM, serta kurangnya standarisasi produk menjadi masalah tersendiri.

Dari berbagai persoalan yang ada, rintangan utama berasal dari kurangnya dana bagi lembaga keuangan mikro syariah itu sendiri.

" Itulah mengapa pertumbuhannya tidak begitu konstan. Tetapi hal itu dapat diatasi dengan suntikan modal ventura, penjualan sukuk, sistem zakat terpusat, revitalisasi konsep Wakaf, crowd funding dan sumber-sumber pendanaan Islami lainnya," ujar Zubair. (Ism)

Beri Komentar