Kala Duel Saudi Lawan `Minyak Baru` AS Berakhir Buruk

Reporter : Syahid Latif
Senin, 17 Agustus 2015 10:00
Kala Duel Saudi Lawan `Minyak Baru` AS Berakhir Buruk
Saudi bersikukuh mengebor habis sumur minyaknya untuk melawan produk shale gas AS. Apa daya justru anggaran Saudi jebol.

Dream - Keputusan Arab Saudi melawan Amerika Serikat (AS) dengan bersikukuh mempertahankan produk minyak mentah mulai memicu masalah besar. Dalam dua tahun negara ini dikhawatirkan akan menemui persoalan besar.

Bahkan proyeksi kondisi Arab Saudi ini akan akan menjadi krisis eksistensial pada akhir dekade ini.

Seperti diketahui, harga kontrak minyak mentah AS untuk pengiriman bulan Desember tahun 2020 adalah US$ 62,05. Ini menyiratkan perubahan drastis dalam lanskap ekonomi untuk Timur Tengah dan negara-negara petrodolar.

Saudi membuat pertaruhan besar pada November lalu ketika mereka berhenti mendukung harga pasar dan memilih membanjiri pasar serta mengusir para pesaing. Akibatnya, produksi minyak Saudi meningkat menjadi 10,6 juta barel per hari yang kemudian cenderung menurun.

Lembaga keuangan Negeri Paman Sam semacam Bank of America bahkan sesumbar menyebut OPEC 'efektif sudah bubar'.

Jika tujuan Saudi untuk menjegal industri oil shale AS, negara Petrodolar ini dituding telah salah menilai. Mereka juga salah dalam menilai ancaman oil shale yang berkembang selama 8 tahun secara bertahap.

" Terlihat jelas bahwa para produsen non-OPEC tidak responsif terhadap harga minyak yang rendah seperti yang diperkirakan, setidaknya dalam jangka pendek," kata Bank Sentral Saudi dalam laporan stabilitas terbarunya seperti dikutip laman thetelegraph, Senin, 17 Agustus 2015.

Seorang pakar Saudi yang tak mau disebutkan namanya ini bahkan bicara blak-blakan, " Kebijakan ini tidak akan berjalan dan hal itu tidak akan pernah berhasil."

Dengan membuat harga minyak dunia jatuh, Saudi dan sekutu Timur Tengah dituding telah membunuh prospek usaha berbiaya tinggi di Kutub Utara Rusia, Teluk Meksiko, perairan dalam di Samudra Atlantik, dan di gurun pasir Kanada.

Wood Mackenzie, seorang konsultan, mengatakan perusahaan minyak dan gas besar telah menangguhkan 46 proyek besar yang menyebabkan investasi sebesar US$ 200 miliar hilang.

Masalah bagi Saudi adalah pengeboran oil shale AS tidak membutuhkan biaya tinggi. Mereka termasuk dalam golongan pengeboran biaya menengah. Para ahli mengatakan perusahaan-perusahaan pengeboran oil shale bahkan bisa menekan biaya sebesar 45 persen per tahun.

Teknik pengeboran yang lebih maju telah mempermudah penambang untuk membuat lima sampai sepuluh sumur di wilayah berbeda dalam satu tempat. Meski jumlah pertambangan oil shale menyusut 664 dari 1.608 pada bulan Oktober 2014 tapi masih mampu menghasilkan 9,6 juta barel per hari hingga 43 tahun.

Di sisi lain, Arab Saudi juga terus menghamburkan uang dengan memberikan bonus senilai US$ 32 miliar kepada semua pekerja dan pensiunan. Keputusan Saudi meluncurkan perang berbiaya tinggi melawan Houthi di Yaman dan pembangunan militer dengan mengimpor senjata cukup besar telah menguras anggaran.

Perlahan-lahan uang mulai keluar dari Arab Saudi. Dengan arus modal bersih mencapai 8 persen dari PDB per tahun, bahkan sebelum harga minyak runtuh. Sejak itu negara memboroskan cadangan devisa dengan sangat cepat.

Khalid Alsweilem, mantan pejabat Bank Sentral Saudi, menulis dalam sebuah laporan di Harvard bahwa Arab Saudi akan memiliki triliunan tambahan aset sekarang jika mereka mengadopsi model sovereign wealth fund yang dijalankan Norwegia untuk mendaur ulang uang, bukan memperlakukannya seperti celengan bagi kementerian keuangan.

" Kami beruntung sebelumnya karena harga minyak pulih pada waktunya. Tapi kita tidak bisa mengandalkan itu lagi," katanya.

Dalam kenyataannya saat ini, cadangan devisa Arab Saudi mungkin sudah turun menjadi US$ 200 miliar pada akhir 2018 dan industri oil shale AS mungkin belum menampakkan kekuatannya terhadap negara-negara OPEC.

Beri Komentar