Ironi Persiapan Piala Dunia 2022, Banyak Buruh Migran Dibayar Murah Tewas Kerjakan Stadion

Reporter : Alfi Salima Puteri
Jumat, 19 November 2021 09:12
Ironi Persiapan Piala Dunia 2022, Banyak Buruh Migran Dibayar Murah Tewas Kerjakan Stadion
Pekerja ini hanya mendapat upah sebanyak Rp230 ribu per hari.

Dream - Qatar dipilih sebagai negara Arab pertama yang menjadi tuan rumah Piala Dunia. Namun sorotan terus menerus muncul karena dugaan skandal korupsi, serta banyaknya laporan kematian ribuan pekerja karena kondisi kerja yang tidak aman.

Ada laporan yang menyebut bahwa pekerja migran dibayar dengan upah minim. Padahal tugas mereka besar, yakni menyelesaikan pembangunan stadion dalam kondisi kerja yang ekstrem dan berbahaya.

Pekerja migran di Qatar memepetaruhkan nyawa mereka, bekerja untuk membangun stadion agar selesai tepat pada waktunya untuk perhelatan Piala Dunia 2022.

Namun, pekerja ini hanya mendapat upah sebanyak 12 poundsterling atau sekitar Rp230 ribu per hari.

1 dari 4 halaman

Suhu panas sebabkan kematian

Meskipun sudah ada protes dari berbagai pihak, The Daily Mail mengklaim para pekerja masih menerima upah sebesar Rp230 ribu, meskipun bekerja dengan suhu panas yang cukup tinggi.

Sebuah laporan dari Reality Check yang diterbitkan Amnesty International pada hari Selasa menyatakan bahwa pekerja tersebut dalam resiko tinggi karena suhu panas yang telah menyebabkan banyaknya kasus kematian.

Dalam laporan itu, ada enam pekerja migran yang berusia muda dan mengalami kematian yang tidak dapat dijelaskan, karena bekerja dalam proyek tersebut.

Pekerja ini termasuk Suman Miah, seorang pekerja konstruksi berusia 34 tahun yang pingsan dan meninggal tahun lalu setelah lama bekerja pada suhu 38°C, dan Tul Bahadur Gharti, 34 tahun, yang meninggal setelah bekerja di luar ruangan pada suhu 39°C.

Sumber: Dailystar

2 dari 4 halaman

Taruhan Nyawa, Segini Besaran Gaji Tukang Bersih Kaca Burj Khalifa

Dream - Mungkin Sahabat Dream bertanya-tanya bagaimana cara membersihkan jendela gedung pencakar langit. Salah satu gedung tertinggi di dunia yang kita akan bahas kali ini adalah Burj Khalifa dengan ketinggian 828 meter.

Burj Khalifa dibangun pada awal 2004 dan selesai pada Oktober 2009, lalu dibuka untuk umum pada awal 2010. Untuk menjaga agar kaca jendela gedung ini selalu bersih, Burj Khalifa memiliki tim pembersih kaca.

Tentu saja, semakin tinggi pembersih kaca naik, semakin kencang pula angin yang menerpa mereka. Memeriksa dan mengukur kecepatan angin adalah bagian terpenting sebelum mulai membersihkan kaca. Hal ini bertujuan untuk memastikan besaran atau hembusan angin di atas sana.

Emaar Dubai, perusahaan pengembang real estate yang bertanggung jawab untuk Burj Khalifa, menyatakan bahwa pembersih kaca aman untuk bekerja pada kecepatan angin 20 knot atau sekitar 23 mil per jam, namun mereka akan berhenti jika kecepatan anginnya melebihi 12 knot atau sekitar 14 mil per jam.

Sebab pekerjaan ini dapat beresiko jika angin sedang kencang.

3 dari 4 halaman

Pembersih kaca harus bekerja setiap hari

Ilustrasi© shutterstock

Dengan resiko yang tinggi, gaji untuk pembersih kaca Burj Khalifa sebesar UDD50 ribu atau sekitar Rp710 juta, yakni sebesar Rp60juta perbulannya.

Pembersih kaca harus bekerja setiap hari sepanjang tahun, karena untuk membersihkan semua jendela Burj Khalifa ini memakan waktu sekitar tiga bulan, dan dilakukan sebanyak empat kali setahun.

Tapi tenang saja, tim pembersih kaca tidak bekerja sendirian. Mereka dibantu kru yang mengoperasikan teknologi dan mesin canggih.

Perusahaan yang dikontrak untuk membersihkan Burj Khalifa, Cox Gomyl, merancang dan membangun sistem mesin pembersih jendela yang menguras biaya sekitar USD5,7 juta.

Hal ini untuk membuat semuanya menjadi lebih efisien.

4 dari 4 halaman

24 ribu jendela dengan 36 orang pembersih

Ilustrasi© shutterstock

Untuk kondisi yang sulit dijangkau di puncak Burj Khalifa, ada mesin tak berawak yang dapat membersihkan bagian gedung yang lebih tinggi. Jika sedang tidak digunakan, mesin ini disembunyikan di berbagai ketinggian di sekitar gedung.

Meskipun Burj Khalifa memilik tinggi 828 meter dengan 24.000 jendela yang harus dibersihkan, tim pembersih kaca ini hanya terdiri dari 36 orang.

Tim ini masih menggunakan cara tradisional untuk membersihkan kaca, yakni menggunakan air sabun dan juga wiper pembersih jendela.

Sumber: Windowcleaningforums.co.uk

Beri Komentar