Dari Cilacap Menembus Dunia

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Senin, 27 Mei 2019 07:43
Dari Cilacap Menembus Dunia
Padahal, modalnya cuma Rp50

Dream – Bagi sebagian nelayan, kulit ikan pari sering dianggap menjadi limbah. Tapi, kulit ikan ini bisa menghasilkan kerajinan yang bernilai tambah tinggi.

Ini yang dilakukan oleh Amil Maulana. Pria ini menyulap kulit ikan pari menjadi kerajian seperti dompet dan tas.

Dikutip dari Liputan6.com, Senin 27 Mei 2019, Amil merintis usaha kerajinan kulit pari pada 2005. Saat itu, dia baru saja lulus kuliah jurusan teknologi kulit di Yogyakarta.

Tanpa pengalaman kerja dan modal Rp500 ribu, pria asal Cilacap, Jawa Tengah, ini memberanikan diri untuk memproduksi barang-barang dari kulit pari.

“ Kebetulan di daerah saya banyak kulit ikan pari yang tidak dimanfaatkan. Dulunya kulit ikan pari itu dibuang karena dianggap limbah. Ini kan keras jadi tidak bisa dimakan. Jadi saya inisiatif untuk mengolahnya menjadi kerajinan," kata Amil.

Dari kulit pari, Amil bisa memproduksi beragam produk kerajiana, seperti dompet, ikat pinggang, tas, gelang, dan tali jam tangan. Waktu pertama kali, pembuatan masih manual. Kulit dicampur dengan bahan kimia dan bahan lainnya agar stabil dan lebih lentur.

“ Tapi, sekarang sudah pakai mesin,” kata dia.

1 dari 2 halaman

Potensinya Oke, Plus Tembus Spanyol

Amil mengatakan produk kerajinan dari kulit pari ini memiliki potensi pasar yang besar. Produk ini tak hanya dijual di dalam negeri, tetapi juga dipasok ke luar negeri.

Selama empat tahun terakhir, pria ini sudah menjual produknya ke semua wilayah Indonesia, termasuk Jabodetabek, Bali, dan Papua. Bahkan, produknya juga diekspor ke Pakistan dan Spanyol.

“ Saya jualan lewat online, marketplace, seperti lewat Bukalapak, Tokopedia, Shopee, lewat Instagram, Facebook. Juga pernah ekspor ke Pakistan dalam bentuk lembaran kulit. Kalau dalam bentuk barang jadi, pernah sekali ke Spanyol,” kata dia.

Dalam satu bulan, Amil mampu memproduksi sekitar 200 item produk dan 200 lembaran kulit. Dia juga mampu menjual 150 dompet kulit pari dalam satu bulan.

" Dulu cuma mampu produksi lima dompet kemudian dijual untuk membeli kulit lagi. Dulu saya kerjakan sendiri, sekarang alhamdulillah sudah punya tiga karyawan," kata dia.

Dari produk kerajinan yang diproduksi Amil, yang termahal yaitu tas pria dan wanita berada di kisaran Rp1,5 juta. Sedangkan yang paling murah, yaitu tali jam tangan yang dibanderol hanya Rp150 ribu.

" Peminatnya lumayan banyak karena pesaingnya juga belum banyak. Ada paling dari Yogyakarta dan Medan tetapi bisa dihitung dengan jari yang mampu mengolah kulit ikan pari," kata Amil.

2 dari 2 halaman

Jadi Mitra Binaan UMKM BNI

Amil merupakan salah satu mitra binaan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) sejak pertengahan 2015. Sejak bergabung sebagai mitra binaan BNI, Amil memperoleh banyak manfaat seperti sering diikutsertakan dalam pameran, ikut dalam pelatihan dan mendapatkan bantuan permodalan.

Dia juga menjadi salah satu UMKM yang terpilih untuk ikut serta dalam Bazaar Rumah Kreatif BUMN (RKB) yang digelar di lobi Graha BNI, Kantor Pusat BNI. Bazaar tersebut digelar pada 22-24 Mei 2019.

" Saya senang bisa ikut bazaar ini, karena disediakan stand gratis, penginapan gratis, transportasi juga. Dalam dua hari ikut bazaar saya sudah dapat omzet Rp4 juta," kata Amil.

Dia berharap dengan menjadi mitra binaan BNI, produknya bisa semakin dikenal di pasar dalam negeri dan bisa kembali menembus pasar ekspor.

“ Rencananya ke depan saya mau memproduksi sepatu dari kulit ikan pari. Di Indonesia belum ada, adanya di Eropa seperti Italia, kemudian Jepang,” kata dia.

(Sumber: Liputan6.com/Septian Deny)

Beri Komentar
ANGRY BIRDS 2, Animasi Lucu dengan Pesan Tersembunyi - Wawancara Eksklusif Produser John Cohen