Drone Serang Kilang Aramco, Harga Minyak Dunia Meroket

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Senin, 16 September 2019 13:46
Drone Serang Kilang Aramco, Harga Minyak Dunia Meroket
Berapa besar kenaikannya?

Dream – Kilang minyak Arab Saudi diserang drone. Serangan tersebut membuat ledakan besar di kilang milik Saudi Aramco sekaligus memicu aksi spekulasi harga minyak dunia bakal melonjak.

Diduga memangkas 5 persen pasokan minyak dunia, serangan drone membuat harga minyak mentah di pasar internasional meroket sampai 15 persen.

Dikutip dari Al Jazeera Senin 16 September 2019, harga minyak Brent naik 10 persen menjadi US$71,95 per barel. Bloomberg memberitakan kenaikan harga ini tercatat sebagai yang terbesar.

Harga minyak mentah di pasar berjangka AS naik lebih dari 15 persen ke US$63,34 per barel. Dua harga minyak ini melonjak ke level tertinggi sejak Mei 2019.

Saat perdagangan ditutup, harga minyak dunia naik 12 persen. Kenaikannya ini dipicu karena Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengizinkan pelepasan cadangan minyak strategis jika diperlukan. Hal ini untuk mengantisipasi serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi.

Sekadar informasi, raksasa produsen minyak dunia, Saudi Aramco, mengakui serangan itu memotong produksi 5,7 juta barel per hari.

Saat serangan terjadi, BUMN migas Saudi sedang bersiap-siap terhadap penjualan sahamnya.

“ Saya pikir pasar akan berada dalam wait and see. Tentu saja akan ada banyak kecemasan dan volatilitas dalam perdagangan,” kata founder dan CEO riset pasar Vanda Insight, Vananda Hari, kepada Al Jazeera.(Sah)

1 dari 5 halaman

Butuh Waktu Berminggu-minggu?

Aramco tak memberikan batas waktu untuk kembali beroperasi pasca serangan. Tapi, menurut sumber, perusahaan ini memerlukan waktu berminggu-minggu untuk kembali pulih.

Sumber ini mengatakan ekspor minyak terus berlangsung karena kerajaan memanfaatkan stok dari fasilitas penyimpanan yang besar. 

2 dari 5 halaman

Kilang Minyak Aramco Diserang, AS Tuduh Iran

Dream - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Michael Richard Pompeo meluapkan amarah ke Iran. Amarah itu meluap karena Iran diduga menjadi otak di balik pembakaran kilang minyak milik perusahaan Arab Saudi, Aramco.

Mike menolak klaim aksi itu dilakukan pemberontak Houthi, yang didukung Iran. Seperti diketahui, Arab Saudi memimpin koalisi militer yang didukung Barat menentang gerakan pemberontak Houthi di Yaman.

" Tehran (ibu kota Iran) dibalik sekitar 100 serangan di Saudi Arabia, ketika Rouhani dan Zarif memilih untuk berdiplomasi," kata Pompeo dalam cuitannya, diakses Senin, 16 September 2019.

 

© Dream

Dia menggambarkan serangan itu sebagai serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap pasokan energi dunia.

" Kami menyerukan semua negara untuk secara terbuka dan tegas mengutuk serangan Iran," kata Pompeo.

Meski demikian, Kementerian Luar Negeri Iran menuduh Pompeo sebagai penipu.

Sementara itu, Kementerian Energi Arab Saudi mengatakan pembakaran kilang minyak itu telah mengurangi produksi minyak mentah sebesar 5,7 juta barel per hari atau sekitar setengah dari produksi Arab Saudi.

3 dari 5 halaman

Buntut Serangan Aramco

Kondisi ini punya dampak signifikan terhadap harga minyak dunia.

Dilaporkan BBC, serangan yang diduga oleh drone alias pesawat tanpa awak di kilang Minyak Saudi di Abqaiq terjadi pada Sabtu. Lokasi ini merupakan pengolahan minyak terbesar Aramco.

Serangan-serangan itu tiba dengan latar belakang ketegangan yang terus-menerus antara AS dan Iran, menyusul sikap Presiden AS Donald Trump yang mundur dari perjanjian kegiatan nuklir Iran.

Melihat kasus ini, AS akan bekerja dengan sekutunya untuk memastikan pasar energi tetap tersuplai dengan baik.

Gedung Putih mengatakan Trump telah menawarkan dukungan AS untuk membantu Arab Saudi mempertahankan diri dari serangan Iran.

4 dari 5 halaman

Tumbangkan Apple, Saudi Aramco Jadi Perusahaan Berprofit Terbesar Dunia

Dream - Rekor perusahaan dengan profit terbesar di dunia kini tidak lagi dipegang oleh Apple. Rekor tersebut kini dipegang oleh Saudi Aramco.

Dikutip dari New York Times, Selasa 2 April 2019, perusahaan minyak terbesar di dunia milik Kerajaan Arab Saudi mencatatkan pendapatan sepanjang 2018 sebesar US$111,1 miliar, setara Rp1.582,14 triliun. Angkanya dua kali dari pendapatan Apple Inc. yang mencapai US$59,5 miliar, setara Rp852,3 triliun.

Tak hanya itu, jumlah pendapatan tersebut melebihi catatan pencapaian profit dua raksasa minyak dunia, Royal Dutch Shell dan Exxon Mobile. Sepanjang 2018, dua perusahaan tersebut mencatatkan pendapatan masing-masing US$23,9 miliar, setara Rp340,35 triliun dan US$20,8 miliar, setara Rp296,2 triliun.

Selain membukukan pendapatan terbesar di dunia, Aramco siap merilis surat utang senilai US$15 miliar, setara Rp213,61 triliun. Instrumen ini disiapkan untuk menekan ketergantungan pendapatan Pemerintah Saudi dari sektor industri minyak dan gas.

 

5 dari 5 halaman

Investasi Baru

Putra Mahkota Saudi, Pangeran Mohamed bin Salman, ingin mendiversifikasi ekonomi negara agar tidak melulu mengandalkan sektor energi. Beberapa langkah yang ditempuh seperti menempatkan kekayaan negara pada investasi di perusahaan teknologi seperti Tesla dan Uber.

Sebelumnya, Saudi Aramco sempat berencana melakukan penjualan saham untuk membiayai diversifikasi tersebut. Tetapi, rencana penjualan saham itu akhirnya ditunda pada tahun lalu.

Penjualan saham di Saudi Basic Industries, perusahaan petrokimia, jadi alternatif untuk mengumpulkan dana.

Sementara itu, Mohamed mencari sumber investasi baru dan mencoba pulih dari kejatuhan politik akibat kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khasoggi tahun lalu. Terdapat rencana Aramco tengah didorong menjadi produsen energi yang lebih luas.

Direktur Utama Aramco, Amin Nasser, mengatakan perusahaan sedang mengejar akuisisi internasional di bidang-bidang seperti gas alam cair yang bisa diangkut menggunakan kapal.

Beri Komentar