Kisah `Cah Ndeso` Anak Buruh Tani Merantau jadi Kondektur, Kini Juragan PO Rosalia Indah

Reporter : Alfi Salima Puteri
Jumat, 3 Juni 2022 09:35
Kisah `Cah Ndeso` Anak Buruh Tani Merantau jadi Kondektur, Kini Juragan PO Rosalia Indah
Berasal dari latar belakang keluarga kekurangan, membuat pria yang akrab disapa Roso ini mengaku menjadi sosok yang mandiri.

Dream - Masyarakat Indonesia khususnya di Pulau Jawa tentu tidak asing dengan Rosalia Indah. Nama itu sering terpampang di body bus luar kota dan sering beroperasi lintas provinsi.

Rosalia Indah merupakan salah satu perusahaan jasa transportasi darat dengan armada bus yang berkantor Pusat di Palur Jawa Tengah. Berdiri sejak tahun 1983, Rosalia Indah didirikan oleh sepasang suami istri, Yustinus Soeroso dan Yustina Rahyuni.

Tak banyak yang mengetahui jika Yustinus Soeroso berasal dari keluarga kurang mampu. Bahkan pemilik Rosalia Indah ini harus merantau demi mencukupi kebutuhan keluarga lantaran sang ayah kala itu hanya bekerja sebagai buruh tani dan tak memiliki sawah sama sekali.

Berasal dari latar belakang keluarga kekurangan menempa mental pria yang akrab disapa Roso ini untuk menjadi sosok yang mandiri.

1 dari 5 halaman

" Itulah kondisi saya sebenarnya. Termasuk masa kecil saya termasuk anak kurang beruntung. Maksudnya karena keadaan keluarga menderita, anak ada 6. Dari situ saya termotivasi untuk mandiri," ungkap pria yang menyebut dirinya sebagai cah ndeso (anak desa,red) dalam wawancara yang dimuat kanal YouTube PerpalZ TV.

Di perantauan Roso mendapat kerja sebagai kondektur. Berkat semangat kerja keras dan doa yang tak pernah putus, kariernya terus melejit hingga menjadi agen bus di Timbul Jaya,

Selama menjadi kondektur, segala urusan keuangan menjadi tanggung jawab sang istri. Beruntung Soeroso dan istri sama-sama bukan tipe orang yang hidup boros. Seberapa pun pendapatan akan dijaga dan segera dipakai untuk melunasi utang. Bukan disimpan terlalu lama.

2 dari 5 halaman

Dengan pengalaman belajar sendiri (otodida), Soeroso senantiasa tak pernah menyimpan duit terlalu lama setiap kali mendapat penghasilan dari operasional bus. 

" Dapat dikit langsung setor bank, dapat banyak juga setor bank. Artinya, kalau setorannya itu rutin, cepat, lunas, buruan utang lagi," ucap Roso seraya tertawa.

Selama menjadi agen bus, Soeroso aktif bekerja mencari penumpang ke banyak wilayah. Hingga berjalannya waktu, tak terasa Soeroso telah mengabdi untuk perusahaan otobus itu selama 11 tahun.  

" Alhamdulillah saya pinter itu berkat ini. Jasanya tidak terlupakan. Itu adalah almamater saya," imbuhnya.

3 dari 5 halaman

Dengan pengabdian dan kerja kerasnya, karier Soeroso semakin menanjak sampai akhirnya dipercaya sebagai kepala unit. Di pundaknya, da bertanggung jawab besar terhadap kebijakan di Timbul Jaya yang kala itu mengelola 36 armada bus.

" Segala sesuatu kebijakannya, saya yang menentukan, hampir 90 persen saya. Bos tahunya ada setoran dan ada cicilan dibayar. Zaman itu masih gampang-gampangnya," papar Soeroso.

Tak pernah memasang target dan menjalani hidup mengalir apa adanya, Soeroso mendapat pencerahan di tahun 1983. Kala itu dia melihat peluang layanan jasa yang ditawarkan Timbul Jaya kebanyakan berakhir di kota Solo.

Selanjutnya penumpang akan dioper ke angkutan lain guna melanjutkan perjalanan ke kota yang dituju.

4 dari 5 halaman

" Saya ambil kesempatan itu, saya cari inisiatif untuk kredit kendaraan sendiri. Supaya bisa mengangkut, meneruskan pelayanan ini," tutur Soeroso yang memutuskan mengangsur satu kendaraan untuk mewujudkan idenya itu.

Berselang satu tahun, armada yang dimiliki Soeroso semakin bertambah. Hingga ia dan istri memutuskan membuka jasa travel di tahun 1984.

Perlahan dari travel, Soeroso memberanikan diri untuk membeli bus dengan cara berutang. Untuk satu bus saja, sudah bisa untuk mengangsur utang dua bus. Di tahun 1991 ini, bisnis bus yang dimiliki Soeroso mulai berjalan.   

" Saya itu tanpa berpikir yang tinggi-tinggi, apa yang bisa kita lakukan, sesuai kemampuan ya saya jalani," katanya.

Sebelum memutuskan membuka bisnis bus, Soeroso kala itu sudah memiliki 29 armada travel. Beruntung bisnis bus saat itu masih berkembang pesat sehingga Soeroso bisa membayar utang.

" Persaingan belum banyak, jadi pendapatan bisa maksimal. Pendapatan bus 1 untuk angsur bus 2, mampu," jelas Soeroso.

5 dari 5 halaman

Soeroso merupakan sosok yang spontanitas namun terkonsep sehingga perjalanan bisnis dan peluang kariernya terkesan mulus. Salah satunya dalam menentukan nama perusahaan yang didirikannya.

Begitu pula dengan nama Rosalia Indah yang dijadikan merek dari perusahaan busnya. Nama itu ternyata diambil dari salah satu anaknya yang bernama Ana Rosalia. 

" Akhirnya saya ambil, dikasih Indah belakangnya. Semua itu saya lakukan yang gampang, sederhana, yang ada di depan mata," kata Soeroso.

Menurutnya, segala hal baik yang terjadi dalam hidupnya itu merupakan campu tangan Tuhan.

" Tapi semua itu kuasa Tuhan. Hanya manusia itu wajib berusaha, bagaimana mencari rezeki yang benar, sepanjang itu dilakukan dengan itikad yang baik, Insyaa Allah Tuhan punya kuasa," terangnya.(Sah)

Beri Komentar