BI Peroleh Komitmen Rp30 Miliar dari Lelang Wakaf

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Jumat, 9 Oktober 2020 19:33
BI Peroleh Komitmen Rp30 Miliar dari Lelang Wakaf
Lelang ini mendorong partisipasi masyarakat untuk mendukung pembangunan ekonomi.

Dream – Bank Indonesia (BI) menggandeng Badan Wakaf Indonesia (BWI) dan lembaga-lembaga nazir Indonesia untuk melaksanakan lelang wakaf. Lelang yang digelar pada 6-7 Oktober 2002 mencatat komitmen penyaluran wakaf produktif senilai Rp30,32 miliar.

Dikutip dari bi.go.id, Jumat 9 Oktober 2020, pelaksaan lelang ini merupakan kolaborasi BI dan dua lembaga yang tergabung dalam Forum Wakaf Produktif. Tujuannya untuk memberikan pemahaman tentang wakaf, terutama wakaf produktif. Program ini juga mendorong partisipasi publik dalam berwakaf untuk mendukung pembangunan ekonomi.

Penandatangan komitmen wakaf tersebut dilakukan dalam High Level Seminar on Waqf “ Akselerasi Gerakan Wakaf Menuju Indonesia Maju” pada Kamis 8 Oktober 2020. Rangkaian kegiatan itu merupakan bagian dari pekan wakaf dalam rangka Indonesia Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) Virtual 2020, dan akan mencapai puncaknya pada 27-31 Oktober 2020.

Lelang wakaf mencatat komitmen Rp30 miliar,© Bank Indonesia

“ Untuk lebih mengoptimalkan wakaf di Indonesia, terdapat lima langkah yang perlu diambil, kata Deputi Gubernur BI, Sugeng.

Kelima langkah ini adalah perlunya perubahan mindset dan peningkatan literasi, inovasi produk wakaf menjadi social-commercial financing, dan penguatan ekosistem rantai nilai halal (halal value chain) sebagai objek wakaf produktif dan kredibel, antara lain melalui pesantren dan UMKM syariah.

Kemudian, transparansi dalam keseluruhan proses wakaf mulai dari penyaluran dari wakif kepada nazhir, sampai dengan penggunaannya untuk sektor produktif, serta digitalisasi dalam mekanisme penyaluran wakaf, baik untuk tujuan sosial maupun integrasi social-commercial dalam CWLS, antara lain melalui pemanfaatan QRIS (QR Code Indonesian Standard) dalam penyaluran wakaf.

1 dari 5 halaman

Strategi Tingkatkan Literasi Wakaf

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementrian Agama, Kamaruddin Amin, menyebut peningkatan literasi wakaf penting untuk mengoptimalkan pengembangan wakaf. Kamaruddin mengatakan pihaknya meningkatkan literasi wakaf masyarakat, menyesuaikan regulasi wakaf, memperkuat standar kompetensi nazir, mengembangkan instrumen wakaf, serta memperluas kerja sama dalam rangka memproduktifkan aset masyarakat.

Ketua BWI, Muhammad Nuh, mengatakan optimalisasi pengembangan wakaf aset produktif memberikan banyak manfaat dalam perekonomian. “ Salah satu bentuk implementasi pengelolaan wakaf produktif dari wakaf linked sukuk senilai Rp51 miliar adalah pengemnangan retina dan glaucoma center,” kata Nuh. 

2 dari 5 halaman

Indonesia Punya Potensi Wakaf Uang Rp77 T, Baru Terhimpun Rp225 M

Dream - Komisioner Badan Wakaf Indonesia (BWI), Iwan Agustiawan Fuad, mengatakan Indonesia memiliki potensi wakaf uang yang sangat besar namun sayang tak banyak digali. Pengumpulan wakaf saat ini masih sangat kecil dibandingkan potensi yang dimilikinya. 

Mengutip data Bank Indonesia, Iwan mengatakan potensi wakaf uang di Indonesia bisa mencapai Rp77 triliun. Tetapi yang bisa dikumpulkan masih sekitar Rp200 miliar.

" Untuk pengumpulan wakaf uang tahun 2018 itu baru Rp225 miliar," ujar Iwan di kantor BWI, Kompleks TMII, Jakarta, Rabu 13 November 2019.

Selain potensi wakaf uang, BWI saat ini mengelola wakaf aset berupa tanah seluas 4 miliar meter persegi. Lokasinya tersebar di seluruh Indonesia.

 

© Dream

 

" Aset tersebut kalau dinominalkan sebesar Rp2.005 triliun," kata dia.

Wakaf aset terbesar berada di wilayah Jawa dan Kalimantan. Sementara nilai aset wakaf yang paling tinggi berada di Jakarta.

Ke depan, dia berharap tanah aset dengan luas 4 miliar meter persegi itu dapat menciptakan nilai manfaat yang lebih ketika di atasnya didirikan bangunan komersil.

" Ini perlu dikembangkan ke arah strategis, kalau luar negeri kan tanah wakaf dijadikan mall, office, atau town hall," ujar dia.

3 dari 5 halaman

Gandeng BWI dan Kemenag, KNKS Ingin Buat Basis Data Wakaf RI

Dream – Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) mendorong sistem basis data (database) wakaf nasional. Basis data yang terintegrasi menjadi sangat penting karena potensi wakaf nasional yang sangat besar.

“ Tanpa adanya data base tersebut strategi pemanfaatannya menjadi tidak terintegrasi. Untuk melihat ke depan bagaimana kita bisa membangun ini,” kata Direktur Eksekutif Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS), Ventje Rahardjo Soedigno, di Jakarta, dikutip dari Merdeka.com, Selasa 5 Maret 2019.

Untuk mewujudkan data terintegrasi tersebut, Ventje mengajak para pemangku kepentingan untuk berdiskusi membangun basis data wakaf nasional. KNKS juga akan mengajak Badan Wakaf Indonesia (BWI) dan Kementerian Agama (Kemenag) untuk mengimplementasikan hal ini.

“ Dalam waktu dekat, kami akan bekerja sama dengan BWI denagan Kemenag untuk melihat bagaimana kami bisa membangun ini,” kata dia.

Selain dua lembaga tersebut, KNKS juga bakal mengajak perusahaan pengelola asset agar basis data yang dimiliki menjadi lebih kuat dan transparan.

Sekedar informasi, berdasarkan catatan BWI potensi aset wakaf per tahun mencapai Rp 2.000 triliun dengan luas tanah wakaf mencapai 420 ribu hektare (ha). Potensi wakaf uangnya bisa menembus Rp188 triliun per tahun.(Sah)

4 dari 5 halaman

Tanah Wakaf Bersertifikat Minim, BWI: Jangan Sampai Diserobot!

Dream – Badan Wakaf Indonesia (BWI) mengeluhkan sedikitnya tanah wakaf yang disertifikasi. Padahal, tanah wakaf yang tidak disertifikasi ini berpotensi menimbulkan sengketa.

“ Sertifikasi tanah wakaf belum maksimal, baru 35 persen yang tersertifikasi,” kata Wakil Ketua BWI, Nadratozzaman Hosen, di Jakarta, ditulis Kamis 8 Desember 2016.

Nadra mengatakan banyak masjid di Indonesia yang didirikan di atas tanah wakaf. Sayangnya, masjid yang bersertifikat didirikan di tanah wakaf, juga baru sedikit.

“ Paling yang bersertifikat baru 20 persen,” kata dia.

Nadra mengatakan sertifikat tanah wakaf ini penting supaya tanah wakaf tidak menjadi sengketa atau diserobot oleh pihak lain. Lembaga ini tidak mau tanah wakaf nantinya ditarik kembali oleh pemberi wakaf.

BWI pun mengharapkan bantuan dari Kementerian Agraria dan Tata Ruang untuk membantu proses sertifikasi tanah wakaf.

“ Kami mau kejar-kejaran. Jangan sampai tanah wakaf diserobot orang,” kata dia.

Selain itu, Nadra juga mendorong Undang-Undang No. 41 Tahun 2004 tentang Wakaf segera direvisi. Sebab, dalam beleid itu, yang dilibatkan dalam pengelolaan wakaf adalah BWI dan Kementerian Agama. BWI pun meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), dan Badan Pertanahan Nasional (BPN) turut dilibatkan.

" Ini menyangkut bisnis. Kalau dibisniskan, lalu ada profit, maka profit itulah yang dibagikan kepada umat," kata dia.(Sah)

5 dari 5 halaman

BWI: Banyak Masyarakat Belum Paham Wakaf

Dream - Masyarakat Indonesia dinilai belum sepenuhnya memahami konsep wakaf. Padahal, lewat wakaf, aset berupa tanah bisa diproduktifkan sehingga mendapatkan nilai tambah.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI), Slamet Riyanto. dalam acara " Soft Launching Forum Wakaf Produktif" di Jakarta, Rabu 7 Desember 2016.

" Masyarakat belum paham (konsep) wakaf, terutama di pedesaan yang tahunya (tanah) wakaf tidak boleh diapa-apakan," katanya.

Dia bercerita, ketika hendak membangun madrasah di tanah wakaf di suatu daerah, warganya tidak setuju dengan rencananya tersebut. Setelah ditelusuri, ternyata alasan yang disampaikan masyarakat cukup mengejutkan. 

" Mereka bilang itu penghasilan untuk imam (masjid)," kata Slamet.

Diungkapkan Slamet, saat ini setidaknya sudah ada 121 perwakilan BWI di kabupaten dan 168 pengelola wakaf (nazir) yang terdaftar. Selain itu terdapat 16 bank syariah yang menjadi penerima wakaf uang.

" Jumlah wakaf uangnya sebesar Rp186 miliar saat ini," kata dia.(Sah)

Beri Komentar