Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Standardisasi Sukuk Di Pasar Modal Sangat Diharapkan Investor.
Dream - Lembaga pemeringkat, Standard and Poor's (S&P) mendesak dibuatnya standardisasi surat utang syariah (sukuk). Adanya standardisasi diyakini bisa membuat pasar sukuk lebih menarik lebih banyak investor.
Direktur Keuangan Syariah S&P, Mohamed Damak, mengatakan obligasi syariah ini berkembang signifikan di pasar modal syariah dalam dua dekade. Meskipun demikian, hanya ada 4.650 penawaran sejak 2005 dan penerbitannya menurun dari puncaknya pada 2012. Larangan pengadaan bunga utang yang membuat investor enggan membuat penawaran.
Damak menjelaskan, banyak hal memicu perlunya dibuat standardisasi sukuk. Contohnya, perbedaan pendapat ulama yang menginterpretasikan hukum syariah dan penerapannya dalam pembiayaan utang.
Standardisasi ini diprediksi akan dicapai dalam waktu 3-5 tahun dengan organisasi multilateral semacam Islamic Development Bank (IDB) yang bekerja untuk membuat model penerbitan dan penawaran sukuk.
" Saya berharap standardisasi ini akan rampung dalam beberapa hari ke depan," kata Damak dalam media briefing di London, Inggris, dilansir dari CNBC, Jumat 27 Mei 2016.
" Jika proses mirip proses untuk obligasi konvensional, mungkin lebih banyak orang yang bisa mengakses pasar (sukuk)," kata Damak.
Dikatakan, Inggris merupakan salah satu negara barat pertama yang menerbitkan sukuk pada tahun 2014. Padahal, mereka sudah mengumumkan niatnya pada 2006. Jeda waktu eksekusi ini adalah ilustrasi tantangan yang dihadapi oleh emiten potensial. Tantangan ini bisa dihadapi dengan adanya standardisasi sukuk.
" Ada banyak emiten yang saat ini melirik pasar sukuk. Namun, ketika melihat prosesnya, mereka takut," kata dia.
Damak melanjutkan, kompleksitas penerbitan sukuk adalah salah satu alasan volume penawaran sukuk turun baru-baru ini. Saat ini, penerbitan sukuk global mencapai US$50 miliar-55 miliar (Rp678,75 triliun-74,66 triliun) pada 2016. Penerbitan sukuk ini turun US$63,4 miliar (Rp860,65 triliun). Penurunan harga minyak ini membuat pemerintah mengerem obligasi pemerintah dan memotong anggaran belanja.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya