Masya Allah, Dua Bocah jadi CEO Perusahaan IT

Reporter : Eko Huda S
Senin, 30 Mei 2016 13:43
Masya Allah, Dua Bocah jadi CEO Perusahaan IT
Dua bersaudara ini memang masih bocah. Tapi kakak-adik ini sukses mendirikan perusahaan.

Dream - Dua bersaudara ini memang masih bocah. Usia masih di awal belasan, bahkan salah satunya masih belum genap usia 10. Tapi mereka sudah menjabat sebagai Chief Executive Officer atau disingkat CEO. Orang nomor satu di sebuah perusahaan

Mereka adalah, Shravan dan Sanjay Kumaran. Bocah asal India. Shravan masih berusia 12, sementara adiknya baru umur 10. Seperti bocah lainnya, mereka juga punya mainan. Tapi bukan mobil-mobilan atau pistol air, melainkan sebuah perusahaan.

Ibarat kata, kecil-kecil cabai rawit. Di usia sebelia ini, keduanya sudah mendirikan perusahaan software, GoDimensions. Bahkan, usaha itu telah dibangun sejak empat tahun silam, atau 2012.

Saat mendirikan perusahaan itu, Shravan memang masih berusia 8, sementara Sanjay baru 6 tahun. Bocah-bocah itu telah mengembangkan 11 aplikasi telepon seluler dan sudah diunduh sebanyak 70.000 kali.

Dengan prestasi gemilang itu, mereka dinobatkan sebagai CEO termuda di India.

Steve Jobs dari Ayah...

 

1 dari 4 halaman

Steve Jobs dari Ayah

Duo kakak-adik ini terinspirasi oleh Steve Jobs, sang pendiri Apple. Apa yang dipelajari kedua bocah ini dari Steve Jobs?

Mereka selalu kagum dengan kisah pendiri Apple yang punya inovasi tak pernah mati, bahkan dalam waktu paling sulit sekali pun.

" Cerita ini yang kami dengar berulang kali dari ayah kami," kata mereka, sebagaimana dikutip Dream dari laman India Times, Senin 30 Mei 2016.

Rekor sebagai Programmer Aplikasi Mobile termuda di India telah mereka genggam. Keduanya telah mengembangkan lebih dari 150 aplikasi sebagai percobaan sebelum meluncurkan aplikasi resmi pertama mereka, Catch Me Cop.

Aplikasi lain yang telah mereka luncurkan adalah Alphabet Board. Aplikasi ini bahkan mendapat rating 5-bintang di app store. Sekarang, Shravan dan Sanjay ingin 50% pengguna smartphone di India menggunakan aplikasi mereka.

2 dari 4 halaman

Terkuak Harga Sebenarnya Sepatu Adidas

Dream - Sepatu lari (sneakers) dengan brand-barang tertentu, misalnya Adidas dan Nike termasuk alas kaki kelas atas. Harganya cukup Mahal. Untuk membeli sepasang sepatu ini, terkadang harus merogoh kocek dalam-dalam.

Sebut saja harga sepasang sepatu Adids model Boston 5 Boost yang seharga US$120 atau Rp1,6 juta dan sepatu Adidas model D-Rose 6 Boost seharga US$140 atau Rp1,9 juta.

Sementara di jajaran sepatu Nike, terdapat model Zoom Pegasus dengan harga US$110 (Rp1,49 juta) dan Nike Air Zoom Vomero 11 yang seharga US$125 (Rp1,69 juta).

Meski mahal, kedua mereka sepatu olahraga itu tetap jadi buruan. Apalagi jika sudah terlanjur menjadi pelanggan setiap. Laporan Dilansir dari Sole Reveiew, justru membuat kabar mengejutan. Dilansir Dream, Sabtu 28 Mei 2016, ternyata harga memproduksi sepatu itu jauh lebih murah dibandingkan harga jualnya.

Sebut saja harga sepatu Adidas Energy Boost 3. Di pasaran, sepatu ini dijual US$160 atau (Rp2,17 juta). Tapi coba tengok biaya produksinya.  Sepatu ini cukup dibuat dengan harga US$30 atau Rp407,28 ribu.

Lalu, mengapa harga eceran bisa setinggi itu?

Tahun lalu, pendapatan Adidas sebesar 4,1 persen, sedangkan Nike sebesar 10,7 persen. Tapi ingat, pendapatan itu berasal dari harga grosir, bukan harga eceran. Jika marjin merek dimasukkan ke dalam komponen harga eceran, Adidas dan Nike hanya membuat keuntungan masing-masing sebesar 2,05 persen dan 5,3 persen.

Dengan kata lain, dengan harga sepatu senilai US$100 atau Rp1,35 juta, Adidas hanya menghasilkan untung US$2,05 (Rp27,83 ribu) dan Nike US$5,3 (Rp71,95 ribu)

Lalu, apa saja biaya yang membuat harga tersebut melonjak dari harga produksi hingga harga eceran?

Pertama adalah landed cost, biaya pengiriman, dan marjin kotor. Landed cost atau harga pokok hanya merepresentasikan langkah pertama perjalanan produk akhir. Sejak sepatu itu meninggalkan negara produsen, dia akan dikenakan biaya tambahan berupa biaya pengiriman.

Di tingkat ini, ada beberapa macam komponen biaya, seperti biaya pengiriman, asuransi, dan bea. Harga pabrik ditambah biaya-biaya tambahan ini akan menghasilkan harga pokok

Misalnya, harga sepatu di tingkat pabrik adalah US$20 (Rp271,52 ribu), lalu ditambah biaya pengapalan US$1, biaya asuransi US$0,3 (Rp4 ribu), dan cukai US$3 (40,72 ribu). Maka harga pokok penjualan dari sepasang sepatu adalah US$24,3 (Rp329,89 ribu).

Biasanya, pemegang merek membeli sepatu itu setengah dari harga eceran. Apabila harga sepatu eceran US$100 atau Rp1,35 juta, perusahaan merek akan membeli sepasang sepatu itu sebesar US$50. Inilh yang disebut untung penjualan. Kemudian, merek akan mendapatkan marjin kotor US$28 (Rp380,12 ribu) apabila landed cost sepasang sepatu sebesar US$22 (Rp298,67) per pasang.

Kedua, biaya-biaya lainnya, pajak, dan laba bersih. Perusahaan itu akan mendapatkan laba bersih setelah dikurangi oleh pajak dan biaya lainnya, seperti biaya gaji karyawan, biaya distribusi, dan pemasaran. Laba bersih inilah yang diperoleh dari pemegang merek dari sepasang sepatu.

Jadi, harga sepatu Adidas yang sebesar US$100 (Rp1,35 juta) itu terdiri atas US$21 (Rp285,09 ribu) biaya produksi, US$5 (Rp67,88 ribu) untuk biaya pengapalan, asuransi, dan cukai, US$8 (Rp108,6 ribu) untuk pemasaran, US$13 (Rp176,48 ribu) untuk biaya lainnya, dan US$50 (Rp678,8 ribu) untuk marjin eceran. Lalu, profit Adidas sebesar US$ (Rp27,15 ribu) per sepasang sepatu.

 

3 dari 4 halaman

Jangan Kaget, Sepatu Nike Dibuat Cuma Seharga..

Sementara itu, harga sepatu Nike yang sebesar US$100 (Rp1,35 juta) ini terdiri atas US$22 (Rp298,67 ribu) untuk biaya produksi, US$5 (Rp67,88 ribu) untuk pengapalan, asuransi, dan cukai, US$11 (Rp149,33 ribu) untuk biaya lainnya, serta US$2 (Rp27,15 ribu) untuk pajak penghasilan. Keuntungan bersih Nike dari sepatu, lebih besar daripada Adidas, yaitu US$5 (Rp67,88 ribu).

Bagaimana dengan keuntungan ritel jika harga sepasang sepatu US$100 (Rp1,35 juta)? Jika perusahaan merek menjual harga sepasang sepatu sebesar US$50 (Rp678,8 ribu) kepada pengecer, marjin yang didapatkan pengecer adalah US$6 (Rp81,45 ribu) dari sepasang sepatu. Sisanya yang sebesar US$44 (Rp597,34 ribu) ini adalah komponen berupa biaya-biaya sebesar US$17 (Rp230,79 ribu) dan pajak penghasilan sebesar US$3 (Rp40,72 ribu). Ada juga komponen diskon yang sebesar US$24 (Rp325,82 ribu) per pasang sepatu.

Adidas dan Nike tentu memerlukan peran orang lain untuk mempromosikan produknya, misalnya atlet dan selebritis. Lalu, berapa biaya untuk promosi lewat orang-orang itu dari harga sepatu yang sebesar US$100? Tidaklah besar, yaitu sebesar US$1,5 (Rp20,36 ribu) per pasang sepatu.

[crosslink_1]

4 dari 4 halaman

Petani Miskin Tak Tahu Dirinya Jadi Direktur Maskapai

Dream - Sebuah kabar mengejutkan datang dari sebuah pertanian kecil di Pilibhit, Uttar Pradesh, India. Seorang petani bernama Manmohan Singh, selama ini ternyata dianggap sebagai penjamin seorang miliarder Kingfisher Airlines, Vijay Mallya.

Yang lebih mengejutkan, selama bertahun-tahun Singh ternyata menjadi direktur dari maskapai penerbangan yang telah mati ini.

Kabar mengejutkan ini dimulai saat pria pemilik lahan seluas delapan hektare ini baru sadar dua rekeningnya di Bank Baroda dibekukan. Alasannya, Singh dianggap sebagai penjamin utang Kingfisher Airlines. Dilansir dari India Times, Selasa 24 Mei 2016, kejadian ini terjadi pada Desember tahun lalu.

Seorang manajer Bank Baroda -tak disebutkan namanya- mengatakan Singh telah mengoperasikan dua rekeningnya selama delapan tahun. Mereka selalu menemukan bahwa rekening tabungan yang dimaksud adalah rekening asli milik penjamin utang Kingfisher Airlines. Pembekuan rekening ini dilakukan setelah ada surat perintah dari kantor wilayah.

Padahal, jika melihat dari rekeningnya, Singh hanya memiliki tabungan 4 ribu rupee (Rp808,26 ribu) dan 1.217 rupee (Rp245,91 ribu). Jumlah ini tentu tak masuk akal untuk seorang pegawai yang menjabat seorang direktur perusahaan.

" Saya pernah mendengar namanya (miliarde Kingfisher Airline, Vijay Mallya), tapi belum pernah bertemu dengannya. Saya juga tidak habis pikir bagaimana caranya saya bisa menjadi direktur perusahaan itu," kata dia.

Malang bagi Singh. Akibat rekening tabunganya dibekukan, dia terpaksa menjual tanaman gandumnya kepada swasta dengan harga yang sangat murah. " Saya tidak bisa mendapatkan harga minimal karena pembayarannya langsung ke rekening saya yang telah dibekukan," katanya.

Setelah ditelusuri, rupanya pihak bank berbuat kesalahan. Mereka salah mengira Manmohan Singh, si petani, adalah Manmohan Singh Kapur yang merupakan direktur Kingfisher Airlines.

Manmohan Singh yang asli tercatat sebagai direktur independen maskapai ini sejak 2009.

[crosslink_1]

Beri Komentar