Mengintip `Mesin Uang` Pejabat Korup FIFA

Reporter : Sandy Mahaputra
Kamis, 28 Mei 2015 16:43
Mengintip `Mesin Uang` Pejabat Korup FIFA
Di jaringan korupsi FIFA, Hawilla berperan sebagai penengah atau makelar bagi berbagai federasi sepakbola internasional dan perusahaan-perusahaan yang ingin menjadi bagian dari olahraga itu.

Dream - Mungkin hanya beberapa penggemar sepakbola yang pernah mendengar tentang Traffic Group, sebuah perusahaan pemasaran olahraga asal Brasil yang didirikan Jose Hawilla.

Tetapi untuk memahami tuduhan pidana yang melanda organisasi sepakbola dunia, FIFA, ada baiknya melihat surat dakwaan yang mencantumkan nama Hawilla dan anak perusahaannya di Amerika Serikat itu.

Pejabat AS mengatakan, Hawilla adalah salah satu orang penting yang menyuap para pejabat FIFA. Sementara uang suap itu sebenarnya untuk mengembangkan sepakbola.

Di jaringan korupsi FIFA, Hawilla berperan sebagai penengah atau makelar bagi berbagai federasi sepakbola internasional dan perusahaan-perusahaan, yang ingin menjadi bagian dari olahraga itu. Khususnya dalam urusan menjadi sponsor atau pemegang hak siar pertandingan.

Semua federasi atau perusahaan itu harus berurusan dengan Hawilla dan Traffic Group, karena sudah memiliki kesepakatan dengan berbagai federasi sepakbola di dunia. Dan untuk melancarkan bisnisnya sebagai makelar, Hawilla harus menyuap para pejabat federasi sepakbola itu.

Dakwaan hukum tidak menyebutkan perusahaan sponsor atau badan penyiaran yang membayar suap kepada Hawilla atau pejabat FIFA.

Tetapi kontrak perusahaan-perusahaan itu dengan Hawilla, yang digunakan untuk mendanai suap yang berakhir di kantong pejabat FIFA.

Dan suap itu semakin banyak hingga mencapai jumlah mengejutkan seiring makin populernya olahraga sepakbola di AS.

Mengaku Bersalah

Pada Desember 2014, Hawilla dan anak perusahaan Traffic Group di Florida secara diam-diam mengaku bersalah di pengadilan federal AS, karena melakukan tindakan pemerasan, penyuapan dan pencucian uang.

Sebagai bagian dari pengakuan itu, Hawilla sepakat menyerahkan uang senilai US$ 151 juta yang diperoleh dari perbuatannya itu. Namun dia hanya menyetor US$ 25 juta.

Pengakuan bersalah itu dipublikasikan pada Rabu, 27 Mei pada saat tuduhan baru dijatuhkan kepada beberapa pejabat tinggi FIFA.

Setelah itu, aparat penegak hukum di Swiss, markas besar FIFA, melakukan penangkapan sejumlah pejabat tinggi FIFA yang sekarang akan diekstradisi ke AS untuk diadili.

Dalam dakwaannya Hawilla tidak menyebut nama-nama pejabat tinggi FIFA siapa saja yang dia suap. Namun, dia menggunakan istilah 'rekan sekongkol 1', yang digambarkan sebagai 'pejabat tinggi FIFA'.

Masih menurut dakwaan yang sama, seorang pejabat FIFA mengatakan kepada Hawilla pada tahun 1991, 'Hawilla akan meraup banyak uang dari hak yang dimilikinya'.

Pejabat itu kemudian menambahkan adalah hal yang 'wajar', jika dia juga mendapat bagian dari uang itu.

Dan dalam perkembangannya, banyak pejabat FIFA lainnya yang mulai berani minta 'jatah' dari kontrak yang disepakati Traffic Group.

Pada 2013, Hawilla dan perusahaan pemasaran olahraga lainnya sepakat bagi-bagi uang kepada 11 pejabat FIFA senilai US$ 100 juta.

Tiga pejabat tertinggi FIFA minta bagian masing-masing US$ 15 juta. Tujuh pejabat lainnya mendapat US$ 9,5 juta, dan sisanya mendapat jatah US$ 2,5 juta.

(Ism, Sumber: CNN Money)

Beri Komentar