Belajar dari SBY, Begini Cara Ubah Janji Kampanye Menjadi Program Nyata Pemerintahan
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Penangkapan Petinggi FIFA Di Zurich, Swiss (nytimes.com)
Mereka dituding melakukan korupsi secara sistemik melibatkan banyak pihak baik di dalam maupun luar negeri.
Dream - Otoritas Swiss menggelar operasi tangkap tangan terkait kasus korupsi penyelenggaraan Piala Dunia. Sebanyak 14 orang petinggi badan sepakbola dunia, Federation Internazionale de Football Association (FIFA) ditangkap atas tuduhan korupsi.
Para petinggi ditangkap saat berada di Baur au Lac Hotel, sebuah hotel bintang lima dengan pemandangan Pegunungan Alpen dan danau Zurich. Rencananya, mereka akan menggelar rapat tahunan FIFA.
Mereka dituduh melakukan korupsi penyelenggaraan Piala Dunia selama dua dekade terakhir. Dugaan tersebut dilakukan ketika penetapan penyelenggara, perjanjian pemasaran dan siaran.
Para petinggi tersebut diduga melakukan pemerasan dan konspirasi pencucian uang. Selain mereka, tuduhan juga dilayangkan kepada pelaksana pemasaran siaran dari Amerika Serikat dan Amerika Selatan lantaran menyuap sejumlah media untuk menyiarkan kejuaraan sepakbola sedunia itu dengan nilai mencapai 150 juta dolar, setara Rp2 triliun.
14 petinggi tersebut adalah Jeffrey Webb, Jack Warner, Eugenio Figueredo, Eduardo Li Sanchez, Julio Rocha Lopez, Rafael Esquivel Melo, Costas Tacas, Jose Maria Marin, Nicolas Leoz, Alejandro Burcazo, Hugo Jinkis, Mariano Jinkis, dan Aaron Davidson.
Dalam surat dakwaan yang dikeluarkan penegak hukum setempat bekerjasama dengan FBI, disebutkan kasus korupsi itu terjadi secara sistematis. Selain itu, korupsi juga dijalankan lintas negara.
"Surat dakwaan menyebutkan korupsi merajalela, sistemik dan mengakar kuat baik di dalam maupun luar negeri," kata Jaksa Agung Amerika Serikat Loretta Lynch, dikutip dari nytimes.com, Rabu, 27 Mei 2015.
Pejabat Amerika Serikat juga menyebut setidaknya terdapat empat orang mengaku bersalah terlibat dalam kasus korupsi ini, antara lain mantan eksekutif FIFA Chuck Blazer dua tenaga pemasaran perusahaan alat olahraga.