Membina Mualaf dari Kafe

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 13 Januari 2016 20:33
Membina Mualaf dari Kafe
Mereka memilih berdakwah dari kafe ke kafe, restoran ke restoran, atau mal ke mal. Bukan di masjid atau pun musala.

Dream - Tampilan para pemuda ini biasa saja. Tak menunjukkan ciri pendakwah. Mereka tak bersarung ataupun peci, sebagaimana banyak dikenakan kiai. Tak mengenakan baju koko dan juga sorban, seperti dipakai para ustaz. Mereka hanya berkaos oblong dan bercelana panjang.

Lihat pula tongkrongan mereka. Bukan di masjid. Bukan pula di majelis taklim. Mereka lebih sering terlihat di restoran, mal, kafe, dan juga warung kopi. Seperti anak-anak muda di Ibukota. Bercengkerama adalah kebiasaan mereka.

Tetapi, dengarlah apa yang mereka bicarakan. Meski kongko di tempat wah, mereka tak membincangkan mobil sport keluaran terbaru, bisnis yang lagi ngetren, atau seputar pertandingan sepakbola Eropa. Topik bincang mereka hanya satu: tentang Islam.

Para pemuda ini adalah pendiri Mualaf Center Indonesia (MCI). Yayasan ini merupakan wadah berbagi ilmu Islam, agama mereka yang baru. Hampir semua anggota yayasan ini adalah mualaf. Memeluk Islam atas dasar kesadaran atas kebenaran ajaran Islam.

Cara dakwah aktivis MCI ini memang unik. Mereka keluar dari arus utama. Berdakwah tak harus di masjid. Tak harus di musala. Sebab, masyarakat yang paling perlu tahu tentang kebenaran Islam adalah mereka yang berada di luar masjid dan musala.

Meski demikian, para pemuda yang tergabung dalam MCI ini tak mencari pengikut. Melalui dakwah itu mereka hanya ingin menyebarkan pengetahuan tentang Islam. Mereka menanamkan pemahaman bahwa Islam adalah ajaran bernilai universal dan penuh kedamaian. Harapan mereka satu, menyebarkan rahmat bagi seluruh alam.

***

Aktivitas MCI ini berawal dari Islamophobia, ketakutan terhadap Islam, yang melanda sebagian anak muda Indonesia dan juga dunia. Kecenderungan itu juga dialami oleh Steven Indra Wibowo dan tiga temannya. Semula, mereka adalah non-Muslim.

Tetapi, dalam benak keempat anak muda ini muncul keinginan untuk mengerti dan memahami bagaimana ajaran Islam yang sebenarnya, hingga mengantarkan mereka mengucapkan dua kalimat syahadat.

Lantaran banyak informasi tentang Islam yang kurang mendalam, keempat anak muda ini berusaha terus mengkaji agama baru mereka. Mereka berniat menghapus segala prasangka buruk terhadap agama yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW.

Hingga pada 2003, mereka memutuskan perlu membentuk yayasan sebagai tempat belajar para mualaf untuk memahami Islam. Setelah itu, berdirilah MCI. “ Tujuannya menyebarkan informasi bagi orang ingin tahu Islam,” tutur Ketua Yayasan MCI Steven Indra Wibowo saat berbincang dengan Dream awal pekan ini.

“ Jadi, mau tahu tentang Islam, orang mau belajar tentang Islam walaupun mereka ingin tahu saja atau orang yang sudah masuk Islam tapi dia kurang tahu Islam seperti apa dan ingin belajar lagi tentang Islam,” tambah dia.

Yayasan ini memulai aktivitas melalui jejaring dunia maya. Awalnya, obrolan Islam terjadi melalui forum diskusi di internet. Lambat laun, forum tersebut berkembang menjadi laman Mualaf.com. Melalui laman ini, Steven dan anggota MCI menyebarkan pengetahuan tentang Islam yang sejujurnya. Di laman itu pula, para pengunjung diberikan kebebasan untuk bertanya serta berkonsultasi tentang Islam tanpa dipungut biaya.

“ Mualaf Center, kita lebih ke arah sharing. Ini lho Islam, Islam itu seperti ini,” kata Steven.

Selain melalui laman tersebut, MCI juga membuka diri bagi mereka yang ingin berkonsultasi dengan tatap muka. Di manapun tempatnya, baik di masjid ataupun di cafe, MCI tetap akan melayani. Konsep ini membuat para mualaf menjadi nyaman. Tidak jarang, banyak dari mereka para non-Muslim pada akhirnya memutuskan untuk memeluk Islam.

Alhamdulillah semakin banyak mualaf yang mau belajar tentang Islam dan mempelajari Islam. Kita berdakwah tapi bukan sekadar di atas panggung. Kalau di atas panggung sudah banyak ulama, tapi kita bagian yang tidak tersentuh oleh mereka. Di kafe, di jalan, di warung, di terminal, dan airport, ataupun di area dakwah tertentu,” ucap Steven.

Saat konsultasi dijalankan, kata Steven, terdapat sejumlah materi yang disampaikan kepada mereka yang memang ingin belajar. Dapat diandaikan, konsultasi tersebut mirip semacam kursus privat. Meski begitu, MCI tidak pernah mematok batas waktu kapan konsultasi harus selesai.

“ Kita ajarkan tentang akidah. Misalnya ada tauhid, bagaimana mengenal Allah, bagaimana hidup sebagai seorang muslim, ibadah, aqidah dasar seorang muslim, sambil belajar salat, belajar Alquran, dan ajarin salat atau pesantren kilat. Kadang sampai sebulan tapi ada juga yang lama tiga sampai empat bulan. Ada juga yang nggak kelar-kelar karena mereka ingin terus belajar,” tutur Steven.

***

Bagi Steven dan anggota MCI, dakwah merupakan panggilan jiwa. Mereka dengan ikhlas menjalankan dakwah meski tanpa biaya. Hingga saat ini, seluruh aktivitas dakwah yang mereka kerjakan tanpa biaya.

Free, semua tanpa biaya. Itu kenapa semua pengurus kita bekerja. Jadi, semua pengurus kerja. Uang kami, zakat kami semuanya masuk ke situ,” ujar Steven.

Seluruh pengurus MCI tidak mendapatkan upah sama sekali. Malahan, kata Steven, para pengurus menyumbangkan sebagian penghasilan mereka, termasuk zakat untuk membiayai setiap kegiatan MCI.

“ Kita bukan hidup dari yayasan tapi kita menghidupi yayasan secara nyata, bukan sebatas konsep atau ideologi, tapi memang seperti itu,” ungkap Steven.

Steven sempat mengakui ada kekhawatiran dakwah ini akan tersendat lantaran tidak menerapkan upah. Tetapi, kekhawatiran itu diabaikan oleh segenap pengurus MCI. Mereka memilih pasrah dan ikhlas dalam menjalankan dakwah, tanpa sibuk memikirkan dana dakwah. Lebih sering, masing-masing pengurus mengeluarkan uang pribadi untuk kegiatan dakwah mereka.

“ Kami pakai dana pribadi. Insya Allah, Allah cukupkan. Dulu sempat berpikir tidak cukup. Tapi makin ke sini makin Allah cukupkan. Saya juga tidak tahu cara hitungnya, tapi Allah cukupkan,” tutur dia.

Perjuangan dakwah Steven bersama rekan-rekannya MCI tidak sia-sia. Yayasan ini kini telah memiliki cabang di beberapa kota besar, seperti Yogyakarta, Surabaya, Makassar, dan lain-lain.

Jumlah mualaf yang mereka bimbing juga semakin bertambah, baik dari dalam negeri maupun luar negeri dan kebanyakan masih berada di usia produktif antara 25-35 tahun.

Meski begitu, Steven mengatakan MCI merasa tidak perlu membangun tempat penampungan untuk para mualaf. Dia beralasan, cukup Allah SWT yang menjadi penolong bagi setiap mualaf.

“ Ini adalah amal, setiap individu mengatur dirinya sendiri, dan biar Allah yang tuntun mereka,” ucap Steven.

 

Laporan: Amrikh Endah Palupi

Beri Komentar