Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Ilustrasi (youtube.com)
Dream - Jika pernah membeli ponsel, televisi atau bahkan mobil, Anda mungkin tahu bahwa memiliki yang terbaik dan terbaru bukan jaminan akan selamanya seperti itu. Karena jika ada model baru yang dirilis, barang-barang tersebut tidak terlihat keren dan baru lagi.
Namun masih ada saja yang melakukan upgrade barang-barang elektronik atau kendaraan mereka hanya karena gengsi atau terjebak oleh iklan. Sehingga mereka jatuh ke dalam siklus upgrade yang tak berujung.
Setiap upgrade memiliki konsekuensi. Lebih buruk lagi, orang mengembangkan kebiasaan untuk melakukan upgrade yang tidak perlu, yang membuat kacau keuangan mereka. Pilihan keuangan mereka bisa jadi tidak logis, apalagi jika preferensi pribadi menjadi pertimbangan.
Untuk orang-orang yang mencampuradukkan prioritas dan upgrade seperti itu, maka diperlukan sebuah perencanaan matang agar keinginan upgrade dan pemenuhan kebutuhan dasar bisa berjalan beriringan. Seperti dikutip dari Gulf News, Kamis,10 Desember 2015, berikut cara menahan keinginan terus mengganti barang-barang mewah milik Anda:
1. Mengatur waktu dan prioritas
Entah itu upgrade kecil atau besar, jangan melakukannya secara langsung dan saat itu juga. Jika Anda menemukan komputer yang lebih canggih, lewati saja jika memang Anda tidak punya rencana untuk membeli komputer baru dalam jangka waktu tertentu. Misalnya bulan ini, tahun ini, dan sebagainya. Sebaliknya, fokus pada apa yang menjadi prioritas berikutnya dalam daftar pembelian Anda.
Jika pembelian itu adalah tujuan yang harus segera dipenuhi, pastikan telah memenuhinya sebelum Anda melakukan pembelian atau upgrade yang tidak direncanakan.
2. Menjadi realistis ketika melakukan upgrade
Dalam banyak kasus, orang-orang memanfaatkan upgrade untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Namun, berpikirlah realistis ketika melakukan upgrade. Jika komputer Anda, misalnya, tidak akan berfungsi jika salah satu komponen tidak diupgrade, maka silakan lakukan upgrade untuk komponen itu saja. Jangan lantas membeli komputer satu set yang mengharuskan Anda mengeluarkan uang jauh lebih banyak.
Pembenaran hanyalah alasan untuk mengubah rencana. Jadi tetaplah pada rencana Anda dan tidak jatuh ke dalam perangkap upgrade tak terkendali karena silau oleh keinginan memiliki versi terbaru.
3. Mengubah pola pikir
Mengapa orang melakukan upgrade pada gadget, mobil dan sejenisnya lebih sering dari apa pun? Karena barang-barang ini memberikan kepuasan instan. Mereka menyenangkan untuk digunakan. Mereka dapat menunjukkan status. Dan mereka dapat diakses dan memiliki nilai ekonomis.
Sementara itu, menyisihkan uang untuk masa pensiun adalah sebuah ide abstrak, terutama jika Anda berada di usia dua puluhan. Anda akan melakukan hal itu nanti. Bagaimana dengan membayar utang? Itu juga bisa menunggu sampai bulan depan. Meski mampu melunasi utang bisa menimbulkan perasaan puas, tidak memberikan kepuasan instan.
Jadi apa yang dibutuhkan agar tidak terjebak siklus upgrade tak berujung? Mengubah pola pikir tentang kepuasan. Sebagai contoh, jika Anda punya rencana matang tentang berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melunasi utang, Anda dapat mulai melihat perbedaan saat mengalokasikan pendapatan ke tabungan atau pembelian baru.
Hal yang sama, ketika Anda mampu meredam membeli item dalam daftar belanja yang mengharuskan Anda mengeluarkan uang lebih banyak. Semua ini adalah masalah prioritas dalam hidup.
Advertisement

Benarkah Kecerdasan Manusia Menurun? Studi Ungkap Tren Mengkhawatirkan Sejak 2012

Mengapa Anak Suka Makan Upil? Sains Punya Penjelasan di Balik Kebiasaan Ini

Kurang Tidur Bisa Ganggu Gula Darah dan Kesehatan Jantung, Olahraga 10–15 Menit Ini Bisa Membantu

Sering Buang Angin Tanpa Sebab Jelas? Kebiasaan Mengunyah Permen Karet Bisa Jadi Pemicunya

IHSG Lanjutan Menguat ke Level 5.387, Saham Bank Pelat Merah Bermekaran

Teori Lipstik: Mengapa Penjualan Lipstik Mewah Bisa Meningkat Saat Ekonomi Memburuk?

Suka Camilan Gurih Dan Renyah? Ini Pilihan Untuk Temani Aktivitas Sehari-hari