Negara Asia Rebutan Jadi Penerbit Utang Syariah

Reporter : Syahid Latif
Sabtu, 17 Mei 2014 20:00
Negara Asia Rebutan Jadi Penerbit Utang Syariah
Malaysia memang masih menjadi penguasa pasar sukuk Asia dan dunia. Seiring waktu, negara-negara Asia mulai banyak mengikuti langkah Malaysia dan berupaya meraup dana asing lewat sukuk. Siapa saja?

Dream - Instrumen keuangan Islam sepertinya mulai mendapat perhatian dari pelaku ekonomi dari negara-negara non-muslim di Asia. Salah satu instrumen keuangan Islam yang gencar dijadikan komoditi adalah obligasi atau dalam istilah ekonomi Islam disebut sukuk.

Hong Kong, negara bekas koloni Inggris ini, diketahui berencana menerbitkan sukuk negara dengan mengacu pada regulasi Basel III.

Salah satu negara Asia yang paling getol mengkampanyekan sukuk adalah Malaysia. Negara Jiran ini merupakan pemain besar dalam industri keuangan Islam modern dan menjadi pelopor penerbit sukuk internasional di kawasan Asia.

Menurut Islamic Finance Information Service, nilai sukuk Malaysia mencapai US$ 490 miliar dari keseluruhan nilai sukuk di dunia, yakni US$ 673 miliar. Hal aling menakjubkan adalah US$ 475 miliar dibeli oleh investor lokal Malaysia.

Menurut pakar ekonomi Asian Development Bank, Thiam Hee Ng, seperti dikutip laman Emergingmarket.org, Sabtu, 17 Mei 2014, pasar sukuk di Asia tumbuh sangat pesat. Sayangnya, pelaku aktif di kawasan ini hanyalah Malaysia. Sukuk memiliki potensi yang luar biasa namun tetap dibutuhkan langkah-langkah strategis lanjutan sehingga bisa dilihat sebagai alternatif yang bisa dipercaya selain obligasi konvensional dan produk keuangan non-Islami lainnya.

Selain Malaysia, negara Asia yang mulai rajin berkampanye soal sukuk, baik secara nasional dan internasional, adalah Indonesia. Nilai sukuk Indonesia hingga saat ini berada di kisaran US$ 119 miliar. Selain kedua negara bertetangga itu, Pakistan, Singapura, Brunei Darussalam and Hong Kong merupakan negara-negara yang potensial mengembangkan sukuk.

Mohamad Safri Shahul Hamid, Deputi CEO CIMB Islamic mengatakan, instrumen keuangan Islam terus membuka pasar baru. Dari satu negara ke negara lain, instrumen keuangan Islam sangat membantu karena beberapa negara belum bisa menerbitkan obligasi konvensional.

Pemerintah Malaysia sendiri memasang target dapat menguasai sukuk dunia sebesar 40 persen pada tahun 2020. Hal itu wajar karena negara tersebut menjadi pendorong utama inovasi dan regulasi sukuk di Asia.

Meskipun lebih mengutamakan pasar dalam negeri, Malaysia mulai mencari celah untuk memasarkan sukuk ke luar negeri. Dua negara yang tertarik dengan sukuk dari Malaysia adalah Hong Kong dan Singapura. Kedua negara tersebut berharap dapat merangkul permintaan sukuk yang tumbuh pesat dengan menjadikan keduanya sebagai jembatan bagi sistem keuangan Islam. Hong Kong adalah yang paling berminat karena sebentar lagi juga akan menerbitkan sukuk negara.

Menurut Hamid, komitmen Hong Kong terhadap instrumen keuangan Islam seperti sukuk akan membuka jalan ke sistem ekonomi Tiongkok, di mana jumlah Muslimnya juga melebihi Malaysia. Beberapa instrumen di Tiongkok yang memiliki potensi tumbuh dengan baik jika diterapkan dengan model syariah di antaranya adalah bank swasta, ekuitas swasta dan manajemen aset. Meskipun legalitas masih menjadi kendala, namun rencana penerbitan sukuk negara oleh Hong Kong akan memudahkan penerapan syariah di Tiongkok.

Sementara itu, Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi pertumbuhan pasar keuangan Islam yang paling menjanjikan. Dari 250 juta penduduknya, 85 persen adalah Muslim dan Pemerintah Indonesia diharapkan bisa mendorong sistem ekonomi dan infrastrukur yang mendukung pembangunan ekonomi Islam.

Ironisnya, sebagian besar penduduk Indonesia tidak terbiasa berhadapan dengan bank dan meski pemerintahnya telah menerbitkan sukuk, namun hanya US$ 703 juta yang terserap, itu pun dari pembeli korporat.

" Indonesia menawarkan potensi pertumbuhan yang tak terbatas, terutama di sisi ritel," kata Hamid. " Indonesia memiliki penduduk tujuh hingga delapan kali lebih besar dari Malaysia dan sebagian besar Muslim. Jadi, sektor ritel Islam selalu tumbuh di sana."

Beberapa negara lain di Asia masih belum melihat sukuk sebagai instrumen keuangan yang menarik. Pakistan tidak menerbitkan lagi sukuk internasional sejak 2005 yang saat itu bernilai US$600 juta. Sementara India masih bergulat untuk menjadikan sistem keuangan Islam menjadi bagian dari ekonomi mereka. Padahal, potensi sukuk di India sangat besar karena populasi Muslim di sana juga besar.

Kawasan Asia Tengah juga kurang berkembang meskipun diberkati dengan sumber daya alam berupa gas dan bumi yang melimpah serta populasi Muslim yang besar. Di kawasan ini penerbitan obligasi konvensional juga rendah. (Ism)

Beri Komentar