OJK Target 100 Bank Wakaf Mikro Tahun Ini

Reporter : Eko Huda S
Sabtu, 27 Juli 2019 12:16
OJK Target 100 Bank Wakaf Mikro Tahun Ini
Meski demikian, Suparlan mengaku tidak mengetahui jumlah dana yang saat ini tersedia untuk merealisasikan target seratus Bank Wakaf Mikro pada tahun ini.

Dream - Jumlah Bank Wakaf Mikro di Indonesia terus tumbuh. Tahun ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan ada seratus Bank Wakaf Mikro di Tanah Air.

" Itu kalau dana sosialnya cukup," tutur Direktur Lembaga Keuangan Mikro OJK, Suparlan, di Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu 27 Juli 2019.

Saat diluncurkan pada 2017, jumlah Bank Wakaf Mikro berjumlah 20 unit. Pada Desember tahun lalu, bertambah menjadi 41. Hingga tengah tahun ini, sudah ada 51 Bank Wakaf Mikro di Indonesia.

Meski demikian, Suparlan mengaku tidak mengetahui jumlah dana yang saat ini tersedia untuk merealisasikan target seratus Bank Wakaf Mikro pada tahun ini.

" Kalau modal, terus terang kami dari regulator, yang tahu itu di Bank Syariah Mandiri karena ditampung di rekening. Kalau simpanan, ya rahasia," kata Suparlan.

Yang jelas, dana Bank Wakaf Mikro berasal dari beberapa sumber, antara lain sumbangan perorangan, corporate social responsibility perusahaan-perusahaan dan lembaga lain --termasuklembaga nonmuslim. " Dibolehkan sepanjang dari yang tidak haram," tegas Suparlan.

1 dari 4 halaman

Kini Warga Papua Bisa Nikmati Bank Wakaf Mikro

Dream – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperluas penyediaa akses keuangan syariah untuk warga Papua. Otoritas keuangan ini meresmikan Bank Wakaf Mikro (BWM) Honai Sejahtera Papua di Jayapura, Papua.

“ Peluncuran BWM di Jayapura merupakan OJK untuk tidak hanya fokus pada pembiayaan nasabah besar atau korporasi, tetapi juga menyasar kepada penyediaan akses keuangan masyarakat kecil yang produktif,” kata Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso, di Jayapura, dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Dream, Senin 29 April 2019.

Peresmian BWM Honai Sejahtera Papua dilakukan Wimboh dan dihadiri Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Heru Kristiyana, Wakil Walikota Papua, Rustan Saru, dan Pimpinan Pondok Pesantren Ya Bunayya, KH Sholeh.

Dia mengatakan, keberadaan BWM yang pertama di Jayapura bisa menyediakan akses permodalan atau pembiayaan bagi masyarakat yang belum terhubung dengan lembaga keuangan formal. Dengan begitu, perekonomian masyarakat bisa meningkat.

Menurutnya, lembaga jasa keuangan formal seperti bank memiliki keterbatasan untuk menjangkau masyarakat bawah ataupun yang berada di daerah, sehingga belum semua masyarakat bisa menggunakan layanan jasa keuangan secara optimal.

Indeks inklusi dan literasi keuangan OJK 2016 sebesar 67,8 persen dan 29,7 persen, menunjukkan masyarakat masih sulit untuk mendapatkan pinjaman karena tidak memiliki agunan untuk modal usahanya, sehingga kelompok masyarakat ini sering terjebak dalam jeratan rentenir.

“ Bank Wakaf Mikro diharapkan dapat menjadi solusi bagi masyarakat yang terkendala dengan agunan atau jaminan, ketika mengajukan pinjaman ke perbankan atau lembaga keuangan formal lainnya, sehingga diharapkan bisa memajukan perekonomian masyarakat,” kata Wimboh. 

2 dari 4 halaman

Bersyukur Dibantu

Skema pembiayaan melalui Bank Wakaf Mikro adalah pembiayaan tanpa bunga karena hanya dikenakan biaya administrasi 3 persen per tahun dan mudah. Dokumen administrasinya hanya berupa Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau Kartu Keluarga (KK).

Selain itu, dalam skema pembiayaan Bank Wakaf Mikro juga disediakan pelatihan dan pendampingan.

Nasabah Bank Wakaf Mikro Honai Sejahtera Papua, Wiwik, mengatakan dirinya merasakan manfaat yang besar dengan pembiayaan dari BWM. Wiwik mengaku usaha kue kering dan gado-gado terbantu dengan adanya BWM.

Sejak pertama kali didirikan akhir 2017, hingga akhir Februari 2019, sudah 43 Bank Wakaf Mikro yang terdaftar di OJK. Lembaga keuangan mikro ini telah menyalurkan pembiayaan kumulatif ke 13.552 nasabah dengan total pembiayaan sebesar Rp16,4 miliar. (ism)

3 dari 4 halaman

Beda Bank Wakaf Mikro, BMT dan BPRS

Dream - Bank Wakaf Mikro (BWM) merupakan lembaga baru di sektor pembiayaan berbasis syariah. Jauh sebelum BWM hadir, Indonesia mengenal Baitul Maal wa Tamwil (BMT) dan Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS).

Kepala Departemen Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan, Ahmad Soekro Tratmono, BWM hadir bukan untuk menyaingi BMT dan BPRS. Menurut dia, pasar BWM berbeda dengan dua lembaga pembiayaan syariah itu.

" BWM menyasar lapisan masyarakat bawah," kata Soekro di Purwokerto, Jawa Tengah, akhir pekan lalu.

Selain itu, menurut Soekro, BWM hanya menyalurkan pembiayaan sebesar Rp1 juta hingga Rp3 juta. Sedangkan BMT dan BPRS bisa mencapai Rp10 juta.

Tidak hanya itu, BWM tidak mensyaratkan adanya agunan bagi masyarakat yang ingin mendapatkan pembiayaan. Berbeda dengan BMT dan BPRS yang menetapkan adanya agunan.

" BPRS dan BMT kelasnya lebih tinggi dan tidak ada pendamping," kata dia.

Soekro juga menegaskan BWM berbeda dengan badan wakaf yang sudah ada lebih dulu. Menurut Soekro, meski sama-sama menggunakan kata 'wakaf', BWM sebenarnya merupakan nama dari platform lembaga keuangan mikro syariah.

" Jadi BWM bukan lembaga yang jalankan fungsi wakaf, tapi lembaga yang jalankan fungsi keuangan mikro syariah. Ini perlu kita pahami," kata Soekro.

Baik BWM maupun badan wakaf, keduanya mendapatkan uang dari donatur. Sementara pengertian donatur merupakan seluruh orang yang menyumbangkan kelebihan harta untuk membantu memberdayakan masyarakat miskin.

Sedangkan pengertian wakaf sendiri, dipahami sebagai menyerahkan sebagian harta milik untuk tujuan ibadah. Harta yang terkumpul digunakan sebaik-baiknya untuk meningkatkan kesejahteraan umat.

4 dari 4 halaman

OJK: Konsep Bank Wakaf Mikro Tak Hanya untuk Muslim

Dream – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan lembaga keuangan baru, Bank Wakaf Mikro (BWM), dibentuk sebagai salah satu instrumen untuk mengentaskan masyarakat dari kemiskinan dan mengatasi ketimpangan. BWM juga menjadi sarana bertemunya donatur wakaf dengan para penerima (mauquf 'alaih).

Kepala Departemen Perbankan Syariah OJK, Ahmad Soekro Tratmono, mengatakan BWM memang didirikan di pesantren untuk menggerakkan perekonomian. Meski begitu, lembaga keuangan mikro berbasis syariah ini tidak hanya diperuntukkan bagi masyarakat Muslim . 

“ Meskipun ini didirikan di setiap koperasi pesantren, bank ini tak hanya untuk masyarakat Muslim,” kata Ahmad dalam acara 'Bank Wakaf Mikro untuk Masyarakat' di Jakarta, Selasa 27 Maret 2018.

Ahmad mengatakan masyarakat maupun organisasi non-Muslim dibolehkan mendirikan lembaga keuangan mikro dengan konsep Bank Wakaf. Ini mengingat masyarakat miskin Indonesia tidak semuanya beragama Islam.

“ Mungkin ada beberapa tempat di luar sana yang ingin membuat kelompok serupa, seperti bank wakaf, tapi dari agama lain. Tentu saja boleh membuat hal serupa, yang penting di daerah tersebut ada masyarakat yang membutuhkan,” kata Ahmad.

(Sah/Laporan: Dina Nazhifah)

[crosslink_1]

Beri Komentar
Intip Harga dan Spesifikasi Mobil Dinas Baru Jajaran Menteri Jokowi