Analisa Unik Kaitan Piala Dunia dan Mata Uang

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Jumat, 22 Juni 2018 19:15
Analisa Unik Kaitan Piala Dunia dan Mata Uang
Ajang sepak bola akbar ini menyedot perhatian publik, termasuk ekonom.

Dream – Bank DBS Indonesia membuat analisa unik tentang Piala Dunia 2018 yang tengah berlangsung di Rusia. DBS menyoroti perhelatan sepak bola empat tahunan tersebut ditinjau dari segi ekonomi.

Dalam laporan terbarunya, World Cup, Economies, and Markets, DBS mengatakan sejarah panjang Piala Dunia selama ini ternyata memiliki korelasi dengan pergerakan nilai tukar mata uang negara pesertanya.

Dilansir dari keterangan tertulis DBS yang diterima Dream, Jumat 22 Juni 2018, sebagian besar mata uang menjadi stabil selama Piala Dunia, terutama setelah penandatanganan Plaza Accord pada tahun 1985.

Selama bertahun-tahun, nilai tukar memiliki kinerja yang buruk seiring dengan pelemahan ekonomi global. Contohnya, gejolak harga minyak ada 1974 membuat resesi ganda di Amerika Serikat pada 1982.

Lalu, poundsterling dan euro menguat selama empat momen Piala Dunia. Saat itu juga, mata uang berbasis komoditas cenderung “ dijauhi” selama pesta sepak bola akbar ini, yaitu dolar Kanada dan dolar Australia.

Bagaimana dengan nilai tukar mata uang di negara Asia Tenggara dan Asia Timur? Mata uang di Asia justru menguat. Penguatan nilai tukar di wilayah ini dipimpin oleh yuan setelah terpuruk pada tahun 2005 dan 2010. Malah, yuan terapresiasi setelah krisis keuangan global.

Ada juga dolar Singapura dan baht yang teraporesiasi setiap event Piala Dunia.

Namun, selama Piala Dunia, rupee berada di tengah-tengah. Jika tren penguatan mata uang bertahan, rupee akan menguat setelah anjlok pada Piala Dunia 2014.

Meskipun demikian, Piala Dunia tak selalu bisa membuat mata uang stabil. Ada saja faktor eksternal lainnya yang bisa membuat nilai kurs rontok. Contohnya, harga minyak dunia yang melemah pada paruh kedua 2014, mendorong Bank Sentral Eropa melakukan quantitive easing euro pada Maret 2015. Alhasil, euro anjlok 10 persen setelah Piala Dunia dan yen melemah.

(Sah)

Beri Komentar