Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Pesta Sepak Bola Akbar Ini Memang Menyedot Perhatian Publik. (Foto: Shutterstock)
Dream – Bank DBS Indonesia membuat analisa unik tentang Piala Dunia 2018 yang tengah berlangsung di Rusia. DBS menyoroti perhelatan sepak bola empat tahunan tersebut ditinjau dari segi ekonomi.
Dalam laporan terbarunya, World Cup, Economies, and Markets, DBS mengatakan sejarah panjang Piala Dunia selama ini ternyata memiliki korelasi dengan pergerakan nilai tukar mata uang negara pesertanya.
Dilansir dari keterangan tertulis DBS yang diterima Dream, Jumat 22 Juni 2018, sebagian besar mata uang menjadi stabil selama Piala Dunia, terutama setelah penandatanganan Plaza Accord pada tahun 1985.
Selama bertahun-tahun, nilai tukar memiliki kinerja yang buruk seiring dengan pelemahan ekonomi global. Contohnya, gejolak harga minyak ada 1974 membuat resesi ganda di Amerika Serikat pada 1982.
Lalu, poundsterling dan euro menguat selama empat momen Piala Dunia. Saat itu juga, mata uang berbasis komoditas cenderung “ dijauhi” selama pesta sepak bola akbar ini, yaitu dolar Kanada dan dolar Australia.
Bagaimana dengan nilai tukar mata uang di negara Asia Tenggara dan Asia Timur? Mata uang di Asia justru menguat. Penguatan nilai tukar di wilayah ini dipimpin oleh yuan setelah terpuruk pada tahun 2005 dan 2010. Malah, yuan terapresiasi setelah krisis keuangan global.
Ada juga dolar Singapura dan baht yang teraporesiasi setiap event Piala Dunia.
Namun, selama Piala Dunia, rupee berada di tengah-tengah. Jika tren penguatan mata uang bertahan, rupee akan menguat setelah anjlok pada Piala Dunia 2014.
Meskipun demikian, Piala Dunia tak selalu bisa membuat mata uang stabil. Ada saja faktor eksternal lainnya yang bisa membuat nilai kurs rontok. Contohnya, harga minyak dunia yang melemah pada paruh kedua 2014, mendorong Bank Sentral Eropa melakukan quantitive easing euro pada Maret 2015. Alhasil, euro anjlok 10 persen setelah Piala Dunia dan yen melemah.
(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya