Studi: Biar Miskin, Orang Indonesia Ogah Berutang

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Kamis, 24 Oktober 2019 09:12
Studi: Biar Miskin, Orang Indonesia Ogah Berutang
Angka orang kaya di Indonesia lebih sedikit daripada rata-rata di dunia.

Dream – Bank investasi, Credit Suisse, baru saja merilis laporan kekayaan global. Di laporan ini, Indonesia menjadi salah satu negara yang disorot.

Dalam laporan tersebut terungkap jika kekayaan hartawan di Indonesia relatif rendah di level internasional. Yang mengejutkan  warganya pantang berutang.

Global Wealth Report 2019 mencatat kekayaan setiap orang dewasa Indonesia meningkat dalam 10 tahun terakhir menjadi US$10.545 (Rp147 juta) per orang.

Hanya 18 persen orang Indonesia punya kekayaan di atas US$10 ribu (Rp140,75 juta). Namun, angka ini masih lebih rendah daripada rata-rata orang berduit di atas US$10 ribu di dunia, yaitu 58 persen.

Sementara 1,1 persen orang dewasa Indonesia dilaporkan memiliki kekayaan di atas US$100 ribu (Rp1,41 miliar). Angkanya juga lebih kecil daripada rata-rata dunia yang sebanyak 10,6 persen.

1 dari 6 halaman

Meski Kaya, Orang Indonesia Jarang Berutang

Kabar baiknya, masyarakat Indonesia cenderung tak mau berutang. Hal ini dibuktikan dari rendahnya angka utang orang dewasa di Indonesia.

Credit Suisse mencatat utang pribadi ditaksi hanya US$730 (Rp10,27 juta) per orang dewasa. Atau, hanya 7 persen dari aset total. Angka itu rendah menurut standar internasional.

 © MEN

Bank ini mencatat kekayaan per orang dewasa Indonesia sebanyak US$10.545. Tapi, angka ini jauh lebih rendah daripada Amerika Serikat yang sebanyak US$432.370 (Rp6,08 miliar), Jepang US$238.104 (Rp3,35 miliar), dan Australia US$386.060 (Rp5,43 miliar).

Selain kekayaan, Credit Suisse juga menyoroti besarnya ketimpangan di Indonesia. Disebutkan angka koefisien gini ratio kekayaan di Indonesia mencapai 83 persen.

(Sumber: Liputan6.com/Tommy Kurnia)

2 dari 6 halaman

Tips Melunasi Utang Konsumtif, Cicilan Kelar dan Uang Bulanan Aman

Dream – Selain pengeluaran lebih besar pemasukan, masalah keuangan lain yang dihadapi banyak orang adalah tagihan utang yang membengkak. Salah satunya banyak berasal dari godaan pemakaian kartu kredit. Apalagi sekarang pengajuan aplikasi bank untuk kepemilikan kartu kredit semakin mudah dan membuat siapapun bisa memilikinya.

Jika kamu pintar dan bijak menggunakannya, kartu kredit bisa jadi penolong karena banyaknya program promosi. Namun saat nafsu sudah menguasai diri, aktivitas belanja menggunakan kartu kredit bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan.

Si pengguna akan menggunakan kartu kredit untuk memenuhi keinginan semata. 

Founder PT Solusi Finansialku Indonesia, Melvin Mumpuni, menjelaskan, kredit konsumtif pada prinsipnya membelanjakan uang untuk barang yang nilainya akan terus berkurang.

“ contohnya pinjaman untuk liburan, beli smartphone, dan lainnya,” tulis Melvin dalam bukunya “ Make A Plan and Get Your Financial Dreams Come True”.

Menurut Melvin, tak ada cara lain untuk keluar dari jerat utang selain menghentikan pinjaman baru.

Saat langkah pertama ini sudah kamu lakukan, selanjutnya bersiaplah dengan aksi penyelamatan keuangan dengan melunasi semua cicilan. Melvin menyarankan untuk membuat daftar cicilan utang, sisa pokok, cicilan bulanan, dan bunga. 

3 dari 6 halaman

Utang Mana Dulu Dilunasi?

Selanjutnya, urutkan daftar utang yang akan dilunasi terlebih dahulu. Ada dua pendekatan yang bisa digunakan untuk mengurutkan utang terlebih dahulu, yaitu melunasi utang dari pokok yang paling kecil dan melunasi utang dengan bunga yang paling besar.

“ Cari penghasilan tambahan untuk membayar pinjaman,” kata dia.

 

 © Dream

 

Melvin juga menyarankan untuk membayar sebisa mungkin cicilan di atas pembayaran minimum. Plus, membayar angsuran tepat waktu.

Untuk kredit mobil dan rumah, usahakan membayar tepat waktu dan sesuai jumlah.

4 dari 6 halaman

Bijak `Ngebom` Utang Kartu Kredit

Ada satu hal yang ditekankan Melvin. Kamu harus berhati-hati ketika ingin mempercepat pelunasan. Sebab, ada biaya administrasi tambahan yang dikenakan jika biaya pelunasan dipercepat.

“ Saat melunasi utang, jangan lupa siapkan dana darurat,” kata dia.

Melvin juga menyarankan untuk membeli asuransi jiwa pertanggungan. Jika terjadi apa-apa kepadamu, aset dan utang bisa diwariskan kepada ahli waris. 

5 dari 6 halaman

Generasi Milenial Lebih Suka Utang daripada Investasi?

Dream – Generasi milenial cenderung belum paham investasi. Saat ini diyakini lebih banyak genersi milenial yang punya cicilan utang ketimbang investasi.

“ Milenial di Indonesia, setiap kali ditanya, ada yang punya cicilan Rp1 juta-Rp2 juta per bulan? Banyak. Tapi, (giliran ditanya), ada yang investasi Rp1 juta-Rp2 juta per bulan, (jawabannya), enggak ada,” kata Founder PT Solusi Finansialku Indonesia, Melvin Mumpuni, di Jakarta, ditulis Jumat 30 Agustus 2019.

 © Dream

Menurut Melvin, sebenarnya, generasi Y memiliki uang karena bisa membayar cicilan. Sayangnya, uangnya justru digunakan untuk hal-hal yang konsumtif.

Jika ada milenial yang ingin mencoba berinvestasi, kata dia, yang perlu dilakukan adalah merencakan keuangan. Kalau tak mau repot, mereka bisa coba-coba investasi dengan budget testing—anggaran yang disediakan untuk mencoba investasi.

“ Mulai dulu Rp100 ribu. Setelah tahu hasilnya, optimalkan,” kata dia.

6 dari 6 halaman

Lalu, Instrumen Apa yang Cocok?

Saat ini, ada beragam instrumen investasi yang tersedia. Misalnya, saham, reksa dana, obligasi, dan emas. Nah, manakah yang cocok untuk generasi milenial?

Melvin mengatakan, investasi yang cocok bagi generasi Y pemula adalah saham, reksa dana, dan peer to peer lending (P2P).

“ Itu paling gampang. Minimal Rp100 ribu. Tinggal setor doing,” kata dia.

Jika ingin berinvestasi, Melvin menyebut dananya disisihkan terlebih dahulu ketika mendapatkan gaji. Setidaknya uang yang disisihkan sebesar 20 persen.

“ Kalau income Rp1 juta, minimal invest Rp200 ribu,” kata dia. 

Beri Komentar
Wajah Tegar BCL Saat Antarkan Jenazah Ashraf Sinclair