Berawal dari Permen Karet, Miliarder Ini Sukses Sulap Lotte Jadi `Raksasa`

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Selasa, 21 Januari 2020 09:12
Berawal dari Permen Karet, Miliarder Ini Sukses Sulap Lotte Jadi `Raksasa`
Bos perusahaan permen karet ini belum lama ini meninggal dunia.

Dream - Kabar duka berembus dari Lotte Group. Sang pendiri, Shin Kyuk-ho meninggal dunia pada Minggu 19 Januari 2020. Sosoknya termasuk salah satu pengusaha terkenal yang membangun salah satu raksasa perusahaan di Korea Selatan.

Dikutip dari CNN Business, Selasa 21 Januari 2020, Shin meninggal karena penyakit tua. Di akhir hayatnya di usia 98 tahun, Shin telah mewariskan sebuah perusahaan terbesar di Korea Selatan bernama Lotte.

Sekadar informasi, lima “ raksasa” Korea Selatan lainnya adalah Hyundai, LG, Samsung, dan perusahaan kecantikan, SK.

Kesuksesan Shin membangun Lotte berawal saat dia pindah ke Jepang di tahun 1921. Kala itu, Shin mendirikan perusahaan susu dan koran sebelum membangun pabrik minyak pada 1944.

Malang keberuntungan belum berpihak kepadanya. Bisnis yang dirintisnya hancur berantakan setelah dibom oleh militer udara Amerika Serikat sebagai tanda Perang Dunia II.

Kemalangan yang dialami tak membuat Shin patang arang. Di tahun 1948, Shin melihat peluang usaha saat sebuah camilan berupa permen karet begitu populer di kalangan militer Amerika Serikat di Jepang.

Melihat potensi ini, dia mendirikan pabrik permen karet di negara asalnya, pabrik ini bernama Lotte Confectionary pada 1967.

1 dari 6 halaman

Menjelma Jadi `Raksasa`

Lotte menjadi salah satu perusahaan keluarga terbesar di Korea Selatan. Gurita bisnisnya tak lagi sekadar permen karet. Lotte bertransformasi menjadi perusahaan ritel, taman bermain, hotel, dan konsutruksi.

Bahkan Lotte mempunyai tim baseball profesional, Lotte Giants, dan punya properti seperti The New York Palace Hotel di Madison Avenue, Amerika Serikat. Salah satu aset yang terkenal dan banyak dikunjungi orang yang datang ke Korea adalah Lotte World Tower yang menjadi pencakar langit tertinggi dengan 123 lantai.

Asosiasi Industri Korea mengapresiasi sumbangsih Shin terhadap perekonomian Korea Selatan. Dia dianggap jadi pelopor pembangun negara pascaperang.

“ Shin meletakkan dasar bagi perekonomian nasional setelah Korea Selatan pulih dari reruntuhan perang,” kata asosiasi ini dalam sebuah pernyataan.

2 dari 6 halaman

Tapi Penuh Konflik?

Sama seperti pendiri perusahaan keluarga lainnya, “ warisan” Shin diwarnai konflik. Pada 2015, putra Shin terlibat dalam permusuhan korporasi untuk mengambil kendali Lotte. Akhirnya, putranya, Shin Dongbin menang.

Tak hanya itu, pada 2017, Dong-bin dan beberapa anggota keluarganya didakwa melakukan penggelapan pajak, penggelapan pajak, dan transaksi bisnis ilegal. Pengadilan Korea Selatan akhirnya menghukum Shin yang berusia 95 tahun. Tapi karena kesehatannya memburuh, pengadilan mengizinkannya bebas.

Sang putralah yang menerima hukuman penjara yang ditangguhkan, menurut laporan media setempat. Lalu, dia terseret kasus skandal korupsi politik yang melengserkan Presiden Korea Selatan, Park Geun-hye.

Dia membantah tuduhan itu, tetapi dinyatakan bersalah oleh pengadilan Korea Selatan pada tahun berikutnya, menerima hukuman penjara yang ditangguhkan. Sekadar informasi, Shin Dong-bin kini menjabat sebagai ketua Lotte Group.

" Kami menghormati keputusan pengadilan yang bijak. Kami akan menjadi perusahaan yang bekerja untuk berkontribusi pada perekonomian negara dan mengambil tanggung jawab sosial," kata Lotte Group saat itu.

3 dari 6 halaman

Miliarder Ini Bagi-Bagi Duit Rp123 Miliar untuk Netizen

Dream - Miliarder Jepang, Yusaku Maesawa, berencana bagi-bagi uang kepada warganet Twitter. Nilai uang yang dibagikan mencapai 1 miliar yen, atau sekitar Rp123,96 miliar, untuk 1.000 pengikutnya.

Yusaku membagi-bagikan duit itu karena ingin melihat bagaimana uang bisa mempengaruhi kehidupan manusia.

Dikutip dari Oddity Central, Selasa 14 Januari 2020, setiap warganet yang beruntung akan mendapat sekitar 1 juta yen, skitar Rp123,96 juta. Syaratnya, warganet harus mencuit ulang unggahan Yusaku tentang bagi-bagi uang sebelum tanggal 7 Januari 2020.

Kini, unggahannya telah dicuit ulang sebanyak 4,5 juta kali.

 

 © Dream



Dalam unggahan video YouTube, pria 44 tahun ini mendeskripsikan kegiatan ini merupakan eksperimen sosial dan terinspirasi dari konsep pendapatan dasar universal.

Yusaku memang punya uang dan waktu luang. Dia merasa perlu untuk memicu debat yang lebih besar tentang teori pembayaran tidak terikat secara berkala kepada semua warga Jepang.

Menariknya, aksi bagi-bagi uang ini tak hanya dilakukan kali ini. Yusaku pernah bagi-bagi uang kepada 100 pengikutnya di Twitter. Jumlah yang dibagikan totalnya mencapai 100 juta yen (Rp12,39 juta). Sekadar informasi, Yusaku memiliki kekayaan mencapai US$2,2 miliar (Rp30,01 triliun).

4 dari 6 halaman

Kuasai Pantai Buat Diri Sendiri, Miliarder Dituntut

Dream - Ada hal unik yang terjadi di California, Amerika Serikat. Pejabat California menuntut seorang miliarder, Vinod Khosla, karena menyalahgunakan fasilitas selama lebih dari satu dekade atau 10 tahun.

Khosla dianggap telah menguasai pantai terpencil untuk kepentingan pribadinya.

Tuntutan ini diajukan untuk memastikan bahwa masyarakat tetap bisa memiliki akses ke pantai tersebut.

 

 © Dream

 

Dikutip dari Liputan6.com yang melansir AP, Minggu 12 Januari 2020, gugatan tersebut diajukan Komisi Pertanahan dan Pesisir Negara Bagian California kepada pengadilan setempat. Mereka menuntut Vinod Khosla untuk menghilangkan semua gerbang dan tanda marka pada akses jalan ke pantai yang menunjukkan bahwa akses tersebut merupakan aset pribadi Khosla.

Gugatan menyatakan bahwa tanpa perintah pengadilan, Khosla akan tetap memaksakan pembatasan akses yang untuk publik di Pantai Martins yang berlokasi dekat Half Moon Bay, sekitar 35 mil (56 kilometer) ke Selatan San Francisco.

5 dari 6 halaman

Uang Akses ke Pantai Dianggap Kecil

“ Pertempuran hukum” dimulai pada 2008 saat Khosla yang turut mendirikan perusahaan teknologi Silicon Valley Sun Microsystems-membeli sebuah properti seluas 36,012 hektare senilai US$32,5 juta (Rp451,42 miliar). Dia kemudian membangun gerbang, dan memasang tanda tak ada akses di pintu masuk yang menjadi akses ke pantai.

Pemilik sebelumnya sebenarnya mengizinkan akses publik ke pantai dengan biaya tambahan. Namun Pengacara Khosla mengatakan biaya untuk menjaga pantai dan fasilitas lainnya jauh melebihi uang yang digelontorkan untuk biaya perawatan.

Akibat perbuatannya, yayasan nirlaba Surfrider menuntut. Pengadilan banding negara memutuskan jika Khosla perlu mengajukan permohonan izin untuk pembangunan di pantai sebelum menutup jalan utama.

Setelah Mahkamah Agung AS menolak bandingnya di 2018, Khosla terus menuntut atas apa yang ia anggap sebagai gangguan dengan hak milik. Sementara itu, pengacaranya mengatakan sebenarnya akses jalan tetap dibuka pada siang hari untuk membayar pengunjung.

Namun, pejabat negara mengatakan pintu gerbang ke jalan belum terbuka secara konsisten.

6 dari 6 halaman

Khosla Siap Hadapi Gugatan

Gugatan oleh lembaga negara menilai bahwa karena pantai telah digunakan masyarakat selama lebih dari satu abad, maka ada hak akses di bawah doktrin hukum umum.

" Sejauh dokumentasi secara historis, masyarakat telah menggunakan dan mengetahui pantai sebagai pantai umum, dan pemilik sebelumnya tahu bahwa penggunaan umum tidak mengganggu penggunaan tersebut," kata gugatan itu.

Pengacara Khosla, Yob Kilmer Dori, mengatakan akan melawan gugatan terbaru tersebut. " Karena properti ini dibeli oleh klien kami, negara, dan kelompok aktivis kecil, telah berusaha untuk merebut properti pribadi klien kami tanpa kompensasi," kata Dori dalam sebuah pernyataan.

(Sumber: Liputan6.com/Danar Jatikusumo)

Beri Komentar
Cara Samuel Rizal Terapkan Hidup Sehat Pada Anak