Sebelum R80 Habibie, Ini Pesawat RI dari Hasil Uang Patungan

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Selasa, 26 September 2017 13:12
Sebelum R80 Habibie, Ini Pesawat RI dari Hasil Uang Patungan
Saat ini, putra Habibie tengah mengumpulkan dana dari masyarakat untuk membangun pesawat R80.

Dream – Sahabat Dream, pesawat R80 belakangan ini menjadi perhatian publik setelah ada penggalangan dana dari PT Regio Aviasi Indonesia (RAI) untuk memproduksi pesawat tersebut. Penggalangan dana ini menarik minat warganet untuk turut berpartisipasi membiayai pesawat R80.

Sekadar informasi, pesawat R80 ini murni buatan Indonesia. Perancangnya adalah Presiden Indonesia ke-3, B. J. Habibie, yang disponsori oleh RAI dan dikerjakan oleh PT Dirgantara Indonesia.  Total biaya pembuatan purwarupa pesawat R80 mencapai lebih dari Rp200 miliar, sedangkan seluruh biaya pengembangan usaha mencapai US$1,5 miliar atau sekitar Rp20 triliun.

Penghimpunan dana ini dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya melalui situs kitabisa.com. Hari ini, Selasa 26 September 2017, pada pukul 10.40 WIB, jumlah donasi yang terkumpul sebanyak Rp400,86 juta dari 1.377 donatur.

Tapi, tahukah kamu kalau ternyata Indonesia punya sejarah dalam membeli pesawat secara patungan? Ada lebih dari satu pesawat yang dibeli dengan cara ini.

Apa saja?

1 dari 2 halaman

Avro Anson

Avro Anson © Dream

Dikutip dari berbagai sumber, Avro Anson ini merupakan pesawat terbang multifungsi bermesin ganda keluaran Inggris. Uniknya, pesawat ini dibeli pada tahun 1947 dengan emas, bukan dengan uang.

Upaya pembelian pesawat ini dimulai dari dibentuknya Panitia Pusat Pengumpul Emas oleh Wakil Presiden Indonesia, Mohammad Hatta, di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 27 September 1947. Tujuannya untuk mengumpulkan sumbangan masyarakat dalam rangka perlawanan militer terhadap Agresi Militer Belanda.

Tim ini keluar masuk kampung untuk menggugah kerelaan rakyat untuk menyumbangkan emas demi membeli pesawat terbang. Upaya ini membuahkan hasil. Kaum perempuan di Sumatera Barat tak sungkan untuk menyumbangkan perhiasan emas dan perak yang dimiliki mulai dari anting-anting, kalung, sampai cincin kawin.

Kurang dari dua bulan, terkumpul satu kotak biskuit berisi perhiasan emas hasil donasi, lalu dilebur menjadi emas batangan 14 kg.

Bung Hatta menugaskan pembantu dekatnya, Aboe Bakar Loebis, untuk mencari pesawat terbang. Dengan bantuan Letnan Penerbang Mohammad Sidik Tamimi dan Ferdi Salim, didapatlah pesawat terbang di Thailand. Pesawat tersebut milik Paul H. Keegan, warga negara Australia yang merupakan mantan penerbang RAF (Angkatan Udara Kerajaan Inggris). Keegan sendiri yang mendatangkan pesawat Avro Anson ke Lapangan Udara Gadut, Bukittinggi.

Setelah menjadi milik Indonesia, pesawat Avron Anson yang dibeli pada Desember 1947, diberi nomor register RI-003. Pesawat tersebut digunakan untuk angkutan udara militer dan sipil.

Kemudian, tahun 1948, pemerintah membeli pesawat Avro Anson untuk kedua kalinya. Pesawat ini diberi nomor pendaftaran RI-004.

2 dari 2 halaman

Dakota RI-001 Seulawah

Dakota RI-001 Seulawah © Dream

Dilansir dari berbagai sumber, pesawat jenis Dakota dengan nomor sayap RI-001 ini diberi nama Seulawah (artinya “ gunung emas”) karena dibeli dengan sumbangan rakyat Aceh.

Pesawat Dakota RI-001 ini cikal bakal berdirinya perusahaan penerbangan pertama Indonesia, Indonesia Airways—kini namanya menjadi Garuda Indonesia.

Pesawat ini dibeli dari hasil sumbangan rakyat Aceh atas permintaan Presiden Soekarno yang datang ke Aceh pada pertengahan Juni 1948. Soekarno meminta rakyat Aceh membantu untuk membeli pesawat. Tujuannya untuk memperkuat pertahanan negara dan hubungan antar pulau, serta menembus blokade Belanda saat Agresi Militer II Belanda.

Lewat kepanitiaan yang dibentuk oleh Djuned Yusuf dan Said Muhammad Alhabsji, mereka berhasil mengumpulkan sumbangan dari rakyat Aceh berupa emas dan perhiasan setara 20 kg emas atau 130 ribu dolar Singapura (Rp1,28 miliar).

Dana ini digunakan untuk membeli sebuah pesawat Dakota DC-3 melalui Singapura pada Oktober 1948 dan diberi nama Dakota RI-001 Seulawah. Kehadiran Dakota RI-001 ini mendorong pembukaan jalur penerbangan Jawa-Sumatera, bahkan sampai ke luar negeri.

Pada awal Desember 1948, Dakota RI-001 bertolak dari Indonesia ke Kalkuta, India, untuk perawatan berkala. Ketika terjadi Agresi Militer Belanda II, pesawat ini tak bisa kembali ke Indonesia dan tertahan di Birma (kini namanya menjadi Myanmar). Atas prakarsa perwira penerbang, Wiweko Supono, didirikanlah perusahaan penerbangan niaga Indonesia pertama, Indonesia Airways, dengan bermodal Dakota RI-001. Ini menjadi kali pertama Dakota RI-001 dikomersialkan.

Beri Komentar