Yana Zein: `Mami Gorengin Telur Saja, Sisanya untuk ke Dokter`

Reporter : Nur Ulfa
Kamis, 12 Januari 2017 20:30
Yana Zein: `Mami Gorengin Telur Saja, Sisanya untuk ke Dokter`
Hartanya habis, Tabungan terkuras untuk berobat. Hanya dua putri penyemangat hidupnya. nilah kisah prihatin pesinetron Yana Zein melawan kanker

Dream - Wanita itu terbaring lemah. Wajahnya pucat pasi. Selendang orange dililitkan di leher untuk mengusir dingin. Di lengan tangan, jarum suntik terhubung selang tertancap. Mengalirkan cairan infus sebagai nutrisi tubuh.

Sesekali dia berusaha bernapas normal. Namun terasa susah. Dia tersengal-sengal. Selang bening berbahan karet melintang melewati dua telinganya. Itu jadi alat bantu bernapas.

Dia sangat lesu. Kondisinya hari itu memang memburuk. Cairan telah masuk ke paru-parunya.

Di atas tempat tidur Rumah Sakit Siloam Hospital di selatan Jakarta, wanita itu merebahkan diri. Di pintu tertulis angka 1007. Kamar itu tak luas benar. Ada 6 bangsal di dalamnya. Itu memang kamar kelas tiga. Bangsalnya ada dekat pintu masuk.

“ Haloo mba, maaf saya ga bisa banyak ngomong nih soalnya lagi demam, suhunya 38,2,” jawabnya sembari rebahan kala menyambut Jurnalis Dream, Nur Ulfa, Senin, 9 Januari 2017.

Dialah Suryana Nurzaman Zein. Mungkin tak banyak yang kenal nama itu. Tapi pasti pernah dengar nama Yana Zein. Panggilan itu sudah tak asing lagi. Wara-wiri di layar kaca saban hari. Terohor sejak main di sinetron Tersanjung. Sinetron terpanjang yang pernah muncul di layar kaca.

Penampilan wanita itu berubah drastis. Rambut hitam panjang yang tergerak sampai bahu tak terlihat lagi. Hanya kepala botak tanpa sehelai rambut. Mesti tanpa sapuan kosmetik, sisa-sisa kecantikan masih terlukis jelas di wajahnya.

Tapi tangan kirinya sudah membengkak. Sudah tak bisa lagi digerakkan. “ Sudah mati rasa,” ungkapnya.

*****

Hari itu, Yana tak sedang berakting. Itu fragmen kehidupannya saat ini. Glamornya kehidupan seorang artis sirna saat melihat kondisinya.

Kabar sakitnya wanita yang kerap bermain antagonis itu sebelumnya seolah senyap di telan bumi. Publik sontak kaget saat Nafa Urbach mengungah foto Yana. Wanita itu terlihat duduk di atas kursi roda. Didampingi dua gadis remaja. Nafa mengabarkan berita pilu. Yana mengidap kanker payudara stadium IV. Penyakit yang ternyata sudah lama menggerogoti tubuhnya.

Penderitaan Yana belum berakhir. Artis yang memulai meniti karir sebagai model ini kehabisan uang untuk berobat. Kisahnya semakin pilu, gadis dalam foto yang ternyata putrinya itu harus putus dari sekolah. Aurelia Callista Carilla, 13 tahun, dan Alika Pandora Salvina, 11 tahun tak sanggup lagi membayar biaya uang sekolah.

Ya, kehidupan Yana memang berubah total. Semua bermula saat suami tercinta dipanggil meninggal Yang Kuasa. Dia meninggal akibat penyakit Parkinson yang diidapnya.

Hidup tanpa suami, Yana berjuang sendirian. Menjadi orangtua bagi dua putrinya. Tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga juga dipikulnya. Semua diterima dengan ikhlas.

 

1 dari 3 halaman

Payudara itu Pecah

Sampai Yana merasa ada perbedaan di tubuhnya. Saat tangannya merasakan benjolan di bagian payudara. Namun tak sakit. Tak ada hal aneh juga tubuhnya. Memang sesekali dia sempat jatuh sakit, namun tak berlangsung lama.

“ Namanya enggak sakit, ya terima kerjaan,” kata Yana. 

Tak berhenti disitu, pengalaman pahit dialaminya saat menjalani syuting Cinta di Langit Taj Mahal. Syuting hingga dini hari, tanpa disadari, benjolan itu pecah. Tetapi Yana tetap acuh. Ada kontrak syuting yang harus diselesaikan.

Perasaannya memang sudah tak enak. Ada rasa dia mengidap kanker payudara. “ Pergi ke alternatif, dikasih tahu kemungkinan kanker payudara, saya berobat di alternatif,” ucap Yana.

Tuntutan kontrak membuat Yana memilih jalan itu. Dia khawatir, kemoterapi akan membuat tubuhnya rusak. Uang hasil keringat bermain sinetron dipakai untuk pengobatan dengan jamu-jamuan itu.

Bukannya membaik, kondisi Yana malah semakin parah. Tangan kirinya bengkak. Perubahan yang baru disadari saat mengenakan kostum untuk episode-episode terakhir sinetron tersebut.

“ Baju kanan bisa masuk, kiri nggak bisa masuk. Ditanya sama Nabila, tangan kenapa, terkilir? Saya nggak kasih tahu siapa-siapa. Saya nggak mau bikin teman di sinetron gugup, apalagi ngerepotin produser,” ucap dia.

 

2 dari 3 halaman

Semangat Menyala Kala Dokter Menyerah

Tahu kondisi semakin parah, pengobatan alternatif ditinggalkan. Selama 2,5 bulan Yana intensif melakukan perawatan di Rumah Sakit Mayapada Hospital Cilandak, Jakarta Selatan. Kemoterapi dijalani dua kali.

Tanpa terasa Yana telah menghabiskan seluruh tabungannya. Tak bersisa lagi. dia hampir tidak bisa pulang lantaran sisa tagihan belum dibayar.

Yana memutar otak. Untuk menyiasati biaya, dia mendaftar menjadi peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Dengan cara itu, Yana beralih berobat ke RS Siloam Hospital Semanggi. Jakarta. Di sana, dia menjalani empat kali kemoterapi, namun tak membuahkan hasil.

“ Ternyata penyakitnya bukan berkurang tapi menjalar ke bagian kanan,” ujar Yana.

Dokter menyerah. Payudara Yana tidak bisa diangkat. Kondisinya sudah terlalu parah, Dia pun menjalani pemeriksaan kesehatan secara intensif. Tapi tetap saja tidak ada tanda-tanda perkembangan positif.

Niat Yana ingin sembuh belum pudar. Ada dua anak yang harus dihidupi. Alhasil, Yana kembali berobat ke RS Siloam Hospital. Kali ini di kawasan TB Simatupang. Di luar dugaan, sistem BPJS ternyata sedang bermasalah. Sementara, pengobatan yang dijalani Yana tidaklah gratis. Yana harus keluar rumah sakit untuk sementara waktu. Padahal, saat itu kondisinya cukup parah lantaran sesak nafas dan kaki yang membengkak.

“ Keluar dulu, dipanggil lagi untuk terima lagi, saya gak sanggup. Antre dokter BPJS selama 1 bulan. Sementara saya harus segera dapat penanganan untuk radiasi. Itu harus nunggu selama 3 bulan,” tutur Yana.

Keputusan besar di ambil Yana. Dia tak bisa lagi mengandalkan BPJS. Meminjam uang jadi pilihannya. Sebagian hartanya pun dijual untuk biaya pengobatan.

“ Saya sampai menjual apapun yang saya miliki, jual mobil, laptop, handphone, sampai pada akhirnya tak ada lagi yang bisa dijual, sampai saya enggak punya biaya,” ujar Yana.

Kondisi ini membuat anak-anaknya terpaksa berhenti bersekolah. Yana benar-benar terpuruk. Untuk menutup biaya hidup saja, Yana harus menjual koran dan buku bekas ke tukang loak. Uang hasil penjualan koran dan buku bekas itu dia gunakan membeli makanan untuk anak-anaknya.

“ Saya dilema, di rumah enggak ada makanan, saya punya uang sedikit, uang ini buat beli makanan untuk anak atau untuk berobat. Akhirnya mereka bilang, ‘Mami gorengin satu telur dan sisanya untuk ke dokter’,” ucap dia.

****

3 dari 3 halaman

Tuhan Adil, Memberi Ketabahan Anak-anak

Kabar keterpurukan Yana terdengar oleh beberapa kawan sesama artis, seperti Ayu Azhari, Ria Irawan dan Nafa Urbach. Mereka menyebarkan kabar Yana ke masyarakat melalui pelbagai cara, salah satunya media sosial. Sontak, kabar Yana menjadi viral dan membuat sejumlah lembaga donasi tergerak membantunya.

“ Mereka sangat membantu. Ada Wulan Guritno lewat yayasan Hope menggalang dana, dari Love Pink, mereka datang ke sini dan mendukung saya,” tutur Yana.

Perjalanan Yana masih panjang. Meski telah mendapat banyak bantuan, Yana menyadari dia belum sehat. Selain itu, ada dua anak yang harus dia hidupi. Dia sangat berharap bisa sembuh dari sakitnya.

Sempat terbersit ketidakpuasan dalam diri Yana. Dia sempat mengeluh, mengapa tidak bisa membiayai anak-anak dan ibunya. Keluhan itu hilang saat dia melihat betapa tabahnya dua anaknya dengan kondisi sang ibu yang kritis.

“ Bersyukur banget, dari mana anak-anak punya kekuatan luuar biasa. Mereka nggak sekolah pun nggak ngeluh, main berdua di rumah, belajar sendiri,” ucap Yana.

“ Saya sangat prihatin tapi nggak bisa berbuat apa-apa. Tapi saya sangat bersyukur, Tuhan adil, memberi ketabahan buat anak-anak saya,” kata Yana. 

Semoga lekas sembuh, Yana!

(Laporan: Nur Ulfa)

Beri Komentar