Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream – Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) belum lama ini merilis kajian terbaru tentang keuangan syariah di Asia. ADB menyebut industri ini masih memiliki prospek yang positif.
Akan tetapi, industri ini masih punya tantangan.
Dilansir dari Salaam Gateway, Senin 27 Agustus 2018, ADB mengatakan perbankan dan keuangan syariah di Asia tumbuh dan berkembang cepat. Benua ini merupakan bagian penting dari ekonomi global serta sistem keuangan syariah.
Perkembangan keuangan syariah tak lepas dari demografis penduduk beberapa negara yang mayoritas beragama Islam, seperti Bangladesh 86 persen, Indonesia 87 persen, dan Malaysia 61 persen.
Aset perbankan dan keuangan syariah di Asia juga lebih besar daripada di Eropa dan Amerika Utara. “ Motor” utamanya adalah Malaysia yang memegang lebih dari 10 persen dari aset perbankan syariah global.
Indonesia, Pakistan, dan Bangladesh punya porsi yang kecil. Namun, pertumbuhan dan perkembangan peraturan mereka dalam beberapa tahun terakhir memungkinkan mereka untuk memperluas volume aset perbankan syariah.
Dalam kerangka pengawasan untuk perbankan dan keuangan syariah di Asia, situasinya beragam. Misalnya, Kazakhstan menerapkan satu kerangka peraturan terpadu untuk semua bank syariah, sementara Indonesia dan Malaysia mengadopsi kerangka peraturan yang serupa untuk bank syariah dan bank konvensional.
ADB mengharapkan pertumbuhan keuangan syariah bisa berkembang di Asia mengingat tiga hal, yaitu banyak negara Asia yang memiliki banyak penduduk Muslim, pemerintah dan otoritas keuangan di beberapa negara yang mempromosikan pengembangan keuangan syariah, serta karakteristik dan stabilitas keuangan produk keuangan syariah yang menarik minat masyarakat, terutama di pasar negara berkembang.
ADB menyebut masih ada tantangan yang harus dihadapi keuangan syariah di Asia. Salah satunya adalah peraturan dan pengawasan yang tak menunjang terkait risiko, misalnya untuk likuiditas.
ADB merekomendasikan otoritas nasional untuk meningkatkan jaring pengaman dan kerangka kerja resolusi untuk keuangan syariah.

Tantangan selanjutnya adalah tak ada pasar sukuk sekunder yang aktif dan likuid di pusat keuangan syariah di Asia. ADB mencatat hanya Iran dan Malaysia yang memiliki pasar uang syariah yang aktif di pasar sekunder sementara pasar yang lain terus berjuang untuk menjaga likuiditasnya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya