Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, Ma'ruf Amin. (Foto: Dream.co.id)
Dream – Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengatakan Indonesia tengah bersiap menyongsong sistem perekonomian baru untuk menggantikan model yang berjalan saat ini. Sistem yang dianggap sebuah arus baru ekonomi Indonesia itu adalah ekonomi syariah.
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ma’ruf Amin, mengatakan perekonomian sekarang bisa terbilang mandeg karena gagal dalam menjalankan fungsi pemerataan ekonomi nasional.
“ Dulu, (perekonomian Indonesia) dibangun dari atas atau trickle down. Tapi, ternyata tidak netes-netes,” kata Ma’ruf di Bogor, Jawa Barat, Senin 7 Agustus 2017.
Ma'ruf menilai salah satu indikasinya adalah terpuruknya bisnis para pemilik toko kelontong. Keberadaan minimarket dikhawatirkan bisa mematikan ekonomi toko kelontong. Ditambah lagi dengan harga jual di tingkat petani yang dipermainkan tengkulak.
“ Petani tidak punya kekuatan sehingga harga dimainkan tengkulak,” kata Ma’ruf.
Keluhan soal pemerataan ekonomi ini sebetulnya disampaikan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Respons mantan wali kota Solo ini pun mengagetkan. Ada dua konsep yang disampaikan Jokowi tentang arus baru perekonomian Indonesia.
“ (Yang pertama), ide Presiden, yaitu redistribusi aset. Presiden akan memberikan 12,7 juta hektare (lahan) untuk pesantren dan koperasi,” kata dia.
Kedua, Jokowi akan membangun kemitraan dengan umat Islam. Dengan kemitraan ini, umat Islam bisa memunculkan industri dan waralaba baru.
“ Mari bung rebut kembali,” kata dia.
Sekjen MUI, Anwar Abbas, menambahkan semangat revolusi ekonomi harus dipahami sebagai kekuatan penyeimbang. Arus baru ekonomi ini diharapkan bisa mengubah paradigma masyarakat yang bermental pekerja.
“ Hijrahkan dari employee mentality kepada entrepreneurship mentality. Banyak umat yang menjadi owner, bukan hanya CEO,” kata Anwar.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam