Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terjadi inflasi sebesar 1,5% pada bulan November 2014. Dari 82 kota, tercatat seluruhnya mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Padang 3,44% dengan dan terendah terjadi di Manokwari 0,07%.
Inflasi bulan ini diakibatkan adanya kebijakan pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi dari Rp 6.500 per liter menjadi Rp 8.500 per liter. Tidak hanya pengeluaran masyarakat yang meningkat untuk membeli BBM tersebut, tetapi masyarakat juga dibebankan kenaikan tarif angkutan umum dan bahan makanan.
Selain itu, kurangnya stok cabe merah pada bulan ini membuat harga komoditas pangan ini mengalami kenaikan harga hingga tembus Rp 100 ribu per kilogram. Apalagi komoditas ini tidak memiliki barang substitusinya bagi masyarakat Indonesia.
BPS menyebutkan beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga pada bulan ini antara lain, bensin, cabe merah, tarif angkutan dalam kota, cabe rawit, beras, tarif listrik, tarif angkutan antar kota, biaya administrasi transfer uang, biaya administrasi kartu ATM, bahan bakar rumah tangga, solar, bahan makanan lain, rokok, semen, dan mobil.
Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks beberapa kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok bahan makanan 2,15 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,71 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,49 persen; kelompok kesehatan 0,43 persen; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olah raga 0,08 persen; serta transpor, komunikasi, dan jasa keuangan 4,29 persen. Sedangkan kelompok sandang mengalami penurunan indeks 0,08 persen.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya