Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendorong pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat pengolahan perikanan dunia. Kebijakan ini dipastikan mendorong kinerja ekspor kelautan dan perikanan nasional menjadi US$ 40 miliar.
" Kami optimistis, dengan menjadikan Indonesia sebagai pusat pengolahan perikanan dunia, maka nilai ekspor nasional akan meningkat dari US$ 4,1 miliar pada tahun 2013, menjadi US$ 40 miliar," ujar Wakil Ketua Umum Kelautan dan Perikanan KADIN Indonesia, Yugi Prayanto dalam siaran persnya, di Jakarta, Senin 1 Desember 2014.
Yugi menilai, langkah menjadikan Indonesia sebagai pusat pengolahan perikanan dunia, harus dilakukan segera. Mengingat, potensi kelautan dan perikanan Indonesia yang sangat besar.
Caranya, pertama, melakukan standardisasi semua produk perikanan dalam negeri sehingga sektor perikanan nasional bisa terdaftar secara resmi pada tingkat nasional dan internasional. Kedua, mulai melakukan prosesing perikanan dunia di Indonesia, berdasarkan standarisasi yang telah dimiliki.
" Artinya, sama seperti dengan dibangunnya Starbucks dan McDonald di Indonesia, karena quality control-nya sudah sama seperti di Amerika Serikat (AS). Kita pun bisa bangun pusat pengolahan perikanan dunia di Indonesia," paparnya.
Yugi mencontohkan, pembuatan prosesing ikan dunia di Indonesia, juga melibatkan berbagai negara.
" Misalnya, ikan Salmon didatangkan dari Australia dan Norwegia, lalu diproses di Indonesia. Termasuk standard kebersihan, kualitas, dan packaging, dijaga ketat," jelasnya.
Intinya, lanjut Yugi, quality control pengolahan perikanan dunia itu harus mengikuti standarisasi nasional yang telah diintegrasikan dengan standard internasional. Hal itu akan sangat menguntungkan mengingat biaya buruh di Indonesia yang lebih terjangkau dibanding buruh di negara-negara penghasil ikan tersebut.
Ketiga, tambah Yugi, menyediakan tenaga kerja lokal yang terampil dan bersaing dibanding tenaga kerja dari negara lain. Proyek tersebut bisa mempekerjakan masyarakat lokal secara signifikan, dan pada akhirnya dipastikan menurunkan tingkat pengangguran Indonesia.
Keempat, mendorong perbankan nasional untuk meningkatkan dan memacu investasi industri pengolahan yang berbasis (reprocessing). Dengan bahan baku dari luar negeri, lalu diolah menjadi produk-produk siap saji dan di re-ekspor ke negara-negara maju.
Kelima, mendorong kerjasama dengan negara-negara maju seperti AS, Norwegia, Australia, Kanada dan Jepang sebagai sumber bahan baku Ikan Salmon, Kepiting Alaska, Alaskan Lobster, Herring, Trout, Smelt dan segala jenis hasil penangkapan di laut air dingin (cold water fish).
" Intinya, pemerintah didorong untuk aktif membuka kesempatan bagi Indonesia sebagai basis pengolahan dan membuka pasar hasil-hasil olahan itu, dan dijadikan produk siap saji (consumer pack) ke pasar retail negara-negara itu," papar Yugi.
Lebih jauh, Yugi menyebutkan dengan kebijakan tersebut maka peningkatan kinerja ekspor perikanan Indonesia juga akan melonjak tajam. Selain itu, implikasi kebijakan ini juga dapat dirasakan melalui peningkatan nilai tambah produk perikanan dalam negeri. Misalnya, produk-produk perikanan bisa diolah menjadi baso ikan, fillet ikan, dan berbagai produk perikanan lainnya yang memiliki nilai tambah tinggi.
Peningkatan nilai tambah dari produk-produk olahan perikanan itu, tentu saja akan meningkatkan penerimaan negara. Berdasarkan hitungan Kadin, bisa mencapai US$ 40 miliar pada tahun 2019.
" Ini jelas angka yang sangat optimistis, mengingat Thailand saja pada 2013 lalu nilai ekspor perikanannya mencapai US$ 11 miliar, padahal lahannya jauh lebih sempit dari lahan lautan Indonesia," tegasnya.
Yugi menambahkan pada prinsipnya, agar kebijakan itu bisa berjalan sesuai harapan maka perlu dukungan pemerintah pusat. Melalui upaya standardisasi nasional yang berkelas internasional, akan membuat produk-produk olahan perikanan Indonesia mampun bersaing di tingkat global. Dan dengan sendiri, lanjutnya, investasi akan datang karena banyak investor dari luar yang ingin berinvestasi di sektor pengolahan perikanan Indonesia.
Yugi menambahkan, ke depannya Indonesia harus menggandeng negara-negara maju seperti Inggris, AS, Eropa, Australia, dan Jepang sehingga negara-negara itu mau bekerjasama dengan Indonesia dalam membangun pusat pengolahan perikanan dunia di Indonesia. Artinya, negara-negara itu harus memberikan dukungan dan kesempatan bagi Indonesia menjadi pusat pengolahan perikanan dunia (transfer of knowledge).
Pasalnya, jika negara-negara itu bisa mendukung Indonesia menjadi pusat pengolahan perikanan dunia, maka dipastikan negara-negara lain di dunia juga akan mengikuti. Hal ini akan berdampak positif bagi kinerja ekspor perikanan nasional. Selain itu, kerjasama dengan negara maju ini memberikan Indonesia pengetahuan cara membuat produk olahan.
" Bayangkan, dengan penduduk kita berjumlah 250 juta orang, maka pasar itu tentu sangat menarik bagi investor asing untuk berinvestasi di Indonesia. Jadi, KADIN mendorong pemerintah segera mewujudkan Indonesia menjadi pusat pengolahan perikanan dunia," tandas Yugi. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya