Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Bagaimana Pengaruh Pelemahan Rupiah Terhadap Keuangan Negara? (Foto: Shutterstock)
Dream – Pemerintah meminta pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS tidak perlu dikhawatirkan. Padahal, angkanya sudah berada di atas asumsi Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) yang sebesar Rp13.400 per dolar AS. Sementara saat ini posisi rupiah menyentuh di angka Rp14.022 per dolar AS.
“ Nggak (khawatir). Kalau dari sisi APBN kan sudah berkali-kali disampaikan yang namanya asumsi kurs buat APBN itu bersifat indikatif. Apa yang terjadi kalau kurs lebih aman dari yang diasumsikan,” kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Suahasil Nazara, di Jakarta, Selasa 8 Mei 2018, dikutip dari Liputan6.com.
Suahasil mengatakan, pelemahan rupiah ini tidak selalu berdampak negatif. Kondisi rupiah bisa memberikan tambahan pendapatan bagi negara, misalnya penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dan royalti dari sektor pertambangan.
“ Yang terjadi adalah kita akan memiliki penerimaan. Dari penerimaan, yang kami dapatkan itu adalah lebih tinggi dari pengeluaran gara-gara kurs. Apa pengeluaran yang terkait kurs? Pengeluaran terkait kurs itu subsidi karena itu kita beli dari luar minyaknya. Kemudian, pembayaran bungam cicilan pokok, maupun utang bunga. Tapi, kalau kita net antara pengeluaran dan penerimaan, efeknya lebih tinggi penerimaannya,” kata dia.
Suahasil melanjutkan, ada dampak negatif terhadap depresiasi rupiah dalam ekonomi makro. Ini yang perlu diwaspadai oleh pemerintah.
“ Kami tetap perlu mengamati dan memastikan situasinya, bukan hanya APBN, melainkan perekonomian secara keseluruhan. Bagaimana dampaknya ke variabel ekonomi makro yang lain. Misalnya, inflasi bagaimana, kondisi masyarakat jadi seperti apa, kondisi BUMN seperti apa. Itu terus yang menjadi perhatian kami,” kata dia.
Suahasil mengatakan, pemerintah tetap memantau pergerakan kurs dolar sampai nantinya diperlukan langkah-langkah lanjutan untuk bisa mengendalikan hal ini.
“ Tapi, yang namanya pergerakan, kurs juga bergerak sepanjang hari. Jadi, kami perhatikan terus,” kata dia.
(ism, Sumber: Liputan6.com/Septian Deny)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya