Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dolar Semakin "perkasa" Di Level Rp14 Ribu.
Dream – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pertama kali menyentuh level Rp14 ribu per dolar AS sejak Desember 2015. Pelemahan rupiah ini dipicu oleh kekhawatiran apabila pertumbuhan ekonomi di luar target.
Dikutip dari laman www.bi.go.id, Selasa 8 Mei 2018, kurs JISDOR mencapai Rp14.036 per dolar AS. Rupiah merosot jika dibandingkan dengan kurs tengah rupiah pada Senin 7 Mei 2018 di level Rp13.956 per dolar AS.
Bahkan, hari ini, rupiah dibuka melemah di level Rp14.012 per dolar AS dan menyentuh level terbawah di Rp14.040 per dolar AS.
Terakhir kali rupiah berada di level 14.000 pada 18 Desember 2015. Saat itu rupiah bertengger di level 14.032 per dollar AS.
Dikutip dari Bloomberg, hari Senin 7 Mei 2017, rupiah jatuh 0,5 persen ke Rp14.003 per dolar AS sebelum ditutup di level Rp13.999 per dolar AS pada pukul 16.55 waktu Jakarta. Dalam tiga bulan, kinerja mata rupiah terburuk kedua di Asia setelah rupee India, menurut data Bloomberg.
Pedagang mata uang INTL FCStone Inc di Singapura, Mingze Wu, mengatakan tekanan terhadap rupiah bisa terus berlangsung karena investor asing akan mengkonversi dividen serta pembayaran bunga saham dan obligasi. Mereka ingin menukarnya dari rupiah menjadi dolar.
“ Ini hanya musiman yang menambah tekanan. Meskipun demikian, angka Rp14 ribu ini merupakan penghalang psikologis yang menyulitkan bank sentral mempertahankan (rupiah),” kata Wu.
Sementara itu, Kepala Ekonomi dan riset UOB Indonesia, Enrico Tanuwidjaja, mengatakan ada kesalahpahaman jika ekonomi Indonesia sedang mundur seperti yang diperlihatkan pelemahan rupiah.
“ Tapi, kami melihat penguatan dolar yang luas dan upaya Bank Indonesia untuk mengintervensi dari waktu ke waktu untuk memperbaiki kesalahpahaman ini dibenarkan,” kata Enrico.
(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya