Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Bisnis Kebab Mulai 'Menjajah' Tanah Eropa

Reporter : Syahid Latif
Jumat, 31 Oktober 2014 15:01
Bisnis Kebab Mulai 'Menjajah' Tanah Eropa
Menjamurnya gerai-gerai makanan penjual kebab yang masuk ranah politik ikut memunculkan istilah baru kebabisasi.

Dream - Geliat bisnis muslim kini tak hanya mampu mengekspor produk pakaian hijab ke dunia luar. Produk-produk makanan yang banyak beredar di negara muslim juga mulai menjajah negara-negara non muslim.

Perancis, pusat mode pakaian dunia, tak luput dari serbuan produk makanan negara muslim. Kini negara sekuler ini tengah diserbu makanan khas negeri Timur Tengah, kebab. 

Empat gerai kebab telah dibuka bulan lalu di Blois, salah satu kota wisata di Perancis. Kehadiran makanan kebab yang identik dengan Timur Tengah tak luput dari sindiran partai sayap kanan Front National. Mereka menyebut kota bersejarah Blois, permata sejarah Perancis, berubah menjadi kota oriental.

Pesan tersebut sangat jelas, kebab yang populer di kalangan muda dan orang-orang tak berduit, sekarang ada di mana-mana. Kehadiran gerai-gerai kebab tersebut dianggap sebagai tanda bahwa budaya Timur Tengah telah mengakar di Perancis dan tidak semuanya menerima kehadiran 5 juta Muslim di negara tersebut.

" Kebab telah menjadi cermin bagi semua masalah keimigrasian dan integrasi di Perancis," kata Thibaut Le Pellec, pendiri KebabFrites.com, sebuah situs pemeringkat gerai kebab di seluruh Perancis seperti dikutip laman Saudigazette, Jumat, 31 Oktober 2014.

Dikenalkan oleh imigran Turki di Paris pada era 90-an, kebab dengan cepatnya menjadi makanan favorit imigran muslim Afrika Utara di Perancis. Dengan menambahkan bumbu halal, para imigran itu mengadaptasikan kebab dengan cita rasa Perancis yang terkenal dengan roti dan kentang gorengnya.

Saat ini, 300 juta kebab yang masing-masing dihargai 6 euro telah terjual di 10.200 gerai di Perancis setiap tahunnya. Menurut perusahaan riset Gira Conseil, keuntungan dari industri kebab di Perancis tidak bisa dianggap remeh. 1,5 miliar euro atau Rp 22,8 triliun telah dihasilkan dari industri ini, berada di belakang burger dan pizza.

'Kebabisasi'

Namun geliat industri kebab mendapat tantangan dari partai sayap kanan Front National. Menurut mereka, persiapan dan penyajian kebab jauh dari higienis. Beberapa kamera CCTV memperlihatkan kebab dipersiapkan di dapur yang kotor, berminyak oleh imigran non-muslim.

Partai FN yang dikenal anti-imigrasi membuat kampanye penolakan pemasokan daging halal karena langkah itu dinilai sebagai cara Islam menghilangkan tradisi warga Perancis.

Tidak hanya itu, seorang politikus Partai FN membuat heboh pada 2012. Dia membuat anekdot bagaimana muslim yang tengah berpuasa Ramadan merampas kue kering yang dipegang oleh seorang anak.

Saat berkampanye untuk pemilihan pada akhir Maret lalu, para calon dari Partai FN mengrkitik kehadiran gerai kebab. Mereka menyebut Perancis sedang berada di bawah proses 'kebabisasi'.

Tidak seperti di Perancis, kehadiran gerai kebab di Jerman dipandang sebagai simbol kesuksesan imigran Turki dalam berintegrasi dengan masyarakat Jerman.

Bahkan Kanselier Jerman, Angela Merkel, tertangkap kamera sedang mengiris kebab dalam sedikitnya tiga kesempatan.

" Kami tidak minta orang memuji kebab atau menjadikannya makanan utama orang Perancis karena kami tahu itu tidak akan mungkin terjadi," kata Ilhan Arslan, yang pada tahun 2006 mendirikan gerai kebab pertamanya dan kini memiliki 13 cabang.

Meski kebab mendapat tantangan dan cibiran, jika sudah urusan perut, beberapa warga Perancis tak mempedulikannya.

Salah satu pemilik gerai kebab di Blois, Oznur Puskulle mengakui dulu ketika menyebut kebab, orang langsung mengira Arab. Tapi sekarang semua sudah berubah dan dia melihat pelanggan semuanya orang Perancis.

" Saat masih muda, kebab seperti makanan khusus orang asing. Tapi sekarang kebab dimakan oleh semua orang," katanya.

Menurut Schmitz, seorang pemilik gerai kebab di stasiun Paris Saint-Lazare mengatakan, citra buruk kebab saat ini lambat laun aku hilang. Dia mencontohkan pizza yang mulai masuk Perancis pada tahun 60an. Saat itu, pizza diolok-olok dengan penjaga toko Italia yang kotor yang tidak bisa bahasa Perancis dan keringatnya bau.

Beri Komentar