Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Kelompok militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) yang menebar teror di Irak dan beberapa negara Arab, ternyata memiliki keinginan untuk mendongkrak perekonomiannya di sektor pariwisata. Kelompok militan yang baru saja menyatakan diri sebagai khalifah itu memberangkatkan para wisatawan menggunakan bus khusus.
Hal yang cukup mengejutkan, ISIS dilaporkan mengajak pasangan militan yang sedang bulan madu dan warga sipil lainnya, untuk mengunjungi bagian lain dari khalifah.
Bus wisata milik ISIS itu menjalankan tur dua kali dalam seminggu dari Raqa Suriah ke Anbar Irak. Bus berbendera ISIS tersebut akan memainkan lagu-lagu perjuangan militan sepanjang perjalanan.
Salah satu klien pertama bus wisata ISIS itu adalah militan asal Chechnya Abu Abdel Rahman al-Shishani, berusia 26 tahun. " Dia membawa istri barunya dari Suriah untuk berbulan madu,” kata aktivis ISIS Hadi Salameh. " Setelah mereka menikah, ia membawa istrinya ke Anbar. Pasangan militan ini sangat romantis."
Tidak seperti perjalanan wisata lainnya, pasangan suami istri itu harus terpisah tempat duduknya. Para wanita duduk di bagian belakang sementara laki-laki di depan.
Salameh seperti dikutip laman Al Arabiya, Kamis, 24 Juli 2014, mengatakan bus berangkat dari Tal Abyad (di perbatasan Turki dan Suriah) dan berakhir di Anbar Irak. Lucunya, penumpang bisa turun di mana saja dan tidak perlu menggunakan paspor saat menyeberang perbatasan.
Ditambahkan Salameh, wisata ini tidak gratis dan perusahaan yang di baliknya mencari keuntungan.
" Tentu saja itu tidak gratis. Harganya bervariasi, tergantung pada seberapa jauh Anda pergi menggunakan bus," kata aktivis yang menyamarkan namanya agar tidak mendapat hukuman dari ISIS ini.
Sementara pemberontak Suriah Abu Quteiba al-Okaidi, yang berasal dari provinsi perbatasan Deir Ezzor, mengatakan sebagian besar pengguna bus pariwisata ISIS ini adalah militan asing.
" Kebanyakan dari mereka adalah orang asing. Mereka berkomunikasi dalam bahasa Inggris, dan mengenakan pakaian Afghanistan yang disukai oleh militan," kata Okaidi kepada AFP melalui telepon.
" Ada penerjemah di bus, yang menjelaskan kepada mereka di mana mereka akan pergi. Orang-orang di bus tidak bersenjata, tetapi dikawal oleh kendaraan bersenjata," tambahnya.
ISIS berasal dari di Irak tapi menyebar ke Suriah pada akhir musim semi tahun lalu. Namun tapi pasti mereka mengambil alih kota Raqa di Suriah utara, dan mengubahnya menjadi bentengnya.
Pada bulan Juni, ISIS memelopori serangan dahsyat di Irak. Sebagian besar wilayah utara Irak dan barat negara itu jatuh ke tangan ISIS. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya