Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Presiden Joko Widodo Menyebut Angka Pengangguran Telah Ditekan.
Dream – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut ekonomi Indonesia terus tumbuh di angka yang cukup tinggi dibandingkan dengan negara lain. Di saat ketidakpastian ekonomi global, Jokowi mengklaim pemerintah mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, menjaga inflasi, dan menurunkan angka kemiskinan.
Dilansir dari Liputan6.com, Kamis 16 Agustus 2018, ekonomi Indonesia tumbuh di angka 5 persen per tahun. Inflasi juga terjaga di angka 3,5 persen.
“ Bahkan, realisasi inflasi Juni 2018, berhasil ditekan di angka 0,59 persen,” kata Jokowi dalam Pidato Kenegaraan dalam Rangka HUT RI Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di DPR, Jakarta.
Dia mengatakan pertumbuhan ekonomi yang stabil dan pengendalian inflasi yang terjaga, membuat pertumbuhan ekonomi menjadi lebih berkualitas dan dapat dirasakan dampaknya.
Jokowi mengatakan angka pengangguran ditekan sampai angka 5,13 persen pada Februari 2018. Untuk menghadapi tumbuhnya generasi produktif, Jokowi melihat Indonesia harus bekerja lebih keras lagi untuk menciptakan dan membuka lapangan kerja baru melalui peningkatan daya saing investasi dan ekspor.
Selama empat tahun terakhir, pemerintah merombak iklim kemudahan berusaha di Indonesia, tujuannya untuk membuat perekonomian Indonesia lebih produktif dan kompetitif.
kebijakan ini juga meningkatkan kemandirian bangsa, sehingga bisa memberikan nilai tambah, terutama pembukaan lapangan kerja baru dan menyerap pengangguran.
Untuk masalah kemiskinan, Jokowi melaporkan pemerintah bisa menekan angka kemiskinan dari 28,59 juta atau 11,22 persen pada bulan Maret 2015 menjadi 25,95 juta atau 9,82 persen pada Maret 2018.
Jokowi mengatakan pemerintah memperluas cakupan Program Keluarga Harapan (PKH). Dari 2,7 juta penerima pada 2014, jumlah penerima PKH meningkat jadi 6 juta pada 2016 dan secara bertahap meningkat menjadi 10 juta pada 2018.
Jumlah penerima bantuan (PBI), JKN telah ditingkatkan secara bertahap. Dari 86,4 juta jiwa pada 2014 menjadi 92,4 juta jiwa pada Mei 2018. Total kepesertaan BPJS Kesehatan sendiri telah mencapai lebih dari 199 juta orang dan akan terus ditingkatkan agar jangan ada rakyat Indonesia yang tidak bisa mendapatkan pelayanan kesehatan karena kendala biaya.
Mantan gubernur DKI Jakarta mengatakan keadilan ekonomi menjadi perhatian serius dari pemerintah, terutama keadilan bagi 40 persen lapisan masyarakat di bawah.
“ Kami bersyukur bisa mencapai tingkat ketimpangan terendah dalam 6 tahun terakhir, yaitu rasio gini sudah turun menjadi 0,389. Tapi, upaya mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia tidak pernah berhenti,” kata dia.
(Sumber: Liputan6.com/Septian Deny, Pebrianto Eko Wicaksono)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya